Nasib seseorang tidak ada yang tahu. Mereka yang berada di posisi bawah bukan berarti tidak bisa bermimpi tinggi. Buktinya, mantan tukang becak yang kini menjadi Kasatlantas Polres Sampang.
MOH. IQBAL AFGANI, Sampang, RadarMadura.id
POSISI pejabat utama (PJU) Polres Sampang mengalami perombakan pada Oktober lalu.
Salah satunya, jabatan Kasatlantas. Perwira yang ditunjuk menduduki posisi itu AKP Rukimin, yang merupakan mantan Kasatbinmas Polres Tuban.
Perwira yang biasa disapa Ruki itu sangat sederhana dan ramah ketika menerima Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Senin (6/11).
Pria dengan pangkat tiga balok emas di pundaknya itu juga mempersilakan JPRM masuk ke ruang kerjanya.
Di tempat kerjanya, anggota polisi yang sudah mengabdi puluhan tahun itu menceritan latar belakangnya.
Ruki mengaku awalnya merupakan seorang tukang becak. Dia lahir di desa terpencil di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan.
”Saya berasal dari keluarga kurang mampu. Untuk bayar uang sekolah saja masih kesulitan.
Pendapatan keluarga saat itu memang hanya cukup atau sekadar menutupi kebutuhan makan sehari-hari,” ujarnya.
Keterbasan itu mengajarkan Ruki untuk menjadi pribadi ulet bekerja di usia dini.
Saat masih duduk di bangku kelas IX SMP Islam Juwana, Ruki bekerja sebagai kuli panggul di sebuah pasar di daerah kelahirannya.
Tugasnya yaitu menurunkan barang milik pedagang.
Pekerjaan itu dia lakoni di malam hari. Sementara di siang hari Rukimin tetap menjalani aktivitasnya sebagai seorang pelajar.
”Di samping menjadi seorang kuli, saya mengayuh becak di luar jam-jam tersebut,” kenangnya.
Kerja keras dilakukan pria kelahiran 1973 itu demi bisa melanjutkan pendidikan.
Sebab, orang tuanya sebenarnya tidak mampu menyekolahkan Ruki.
”Untuk makan saja masih kesusahan. Namun, tetap saja orang tua terus berusaha dan bersusah payah agar anak-anaknya bisa makan,” imbuhnya.
Pekerjaan sampingannya sebagai kuli panggul dan pengayuh becak dilakukan sejak 1991.
Namun, setelah lulus dari bangku SMK Swasta Bina Tunas Bhakti Juwana, Pati, Ruki mencoba peruntungan dengan mendaftar Bintara Polri di Jogjakarta.
”Alhamdulillah, namanya juga rezeki, saya lolos menjadi anggota Polri. Saya mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Mojokerto.
Kemudian, penempatan pertama saya di Polres Tuban,” tuturnya.
Mengawali kariernya sebagai anggota polisi, Ruki dipercaya menjadi sopir beberapa Kapolres.
Ayah tiga anak itu memutuskan untuk lanjut pendidikan sekolah perwira Polri pada 2009.
Setelah itu, dia mendapat pangkat inspektur dua (Ipda).
Rukimin juga pernah ditempatkan di Polres Lamongan. Beberapa jabatan di Polres Lamongan pernah diduduki.
Mulai dari Kanitidik, Kanitdikyasa, Kanitregident, Kaurbinopsnal, Kasatlantas, dan beberapa jabatan lainnya.
”Hingga akhirnya, saya ditugaskan di Satlantas Polres Sampang. Saya bawa keluarga ke sini. Anak saya juga sekolah di Sampang.
Nah, ini juga menjadi tantangan bagi saya untuk bisa berbahasa Madura,” sambungnya.
Bagi Ruk, bertugas di Pulau Garam menjadi tantangan. Dia bertekad agar situasi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas) berjalan kondusif tanpa halangan berarti.
”Kemudian, bagaimana angka kecelakaan semakin menurun. Sebab, kecelakaan juga menjadi salah satu ancaman kematian tertinggi di Indonesia. Ini yang harus kita tekan agar bisa diminimalkan,” jelasnya.
Hampir setiap hari, sambungnya, petugas memberikan imbauan dan edukasi kepada masyarakat untuk tertib berlalu lintas.
Tujuannya, meminimalkan angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang terjadi di Sampang.
Tentunya, hal itu bisa tercapai jika ada kerja sama yang baik dari semua pihak.
Terutama, seluruh masyarakat Kota Bahari. Artinya, imbauan untuk tertib lalu lintas tidak hanya datang dari petugas kepolisian.
Terakhir, AKP Rukimin mengajak seluruh stakeholder bersama-sama menjaga ketertiban berlalu lintas.
Dia meyakini, masyarakat Sampang memiliki karakter yang baik untuk diajak kerja sama dalam kebaikan.
”Kesan pertama saya di Sampang adalah kebaikan. Meski, di luar sana masih terkenal istilah carok. Tapi, saya yakin hati mereka itu sungguh baik. Apalagi urusan keluarga, orang Madura itu nomor satu,” tandasnya. (afg/jup)
Editor : Abdul Basri