Adrian Pawitra Sudah Tiada, tapi Namanya Abadi Bersama Karyanya
Dedikasi Adrian Pawitra akan selalu dikenang oleh masyarakat Madura. Sebelum meninggalkan bumi untuk selamanya, dia berhasil menyusun Kamus Bahasa Indonesia-Madura.
ZEINAL ABIDIN, Bangkalan, RadarMadura.id
UNIVERSITAS Trunojoyo Madura (UTM) menjadi saksi betapa bangganya masyarakat Madura terhadap almarhum Adrian Pawitra. Dedikasi yang diberikan untuk Pulau Garam sangat layak diapresiasi.
Sebelum wafat, Adrian Pawitra berhasil menyusun Kamus Bahasa Indonesia-Madura. Kamus setebal seribu halaman itu merupakan karya kedua setelah sebelumnya juga menyusun kamus yang sama dan diluncurkan pada 2009.
Candra Aditya, adik kandung Adrian menceritakan proses cetak Kamus Bahasa Indonesia-Madura itu. Usai kepergian sang kakak, Candra langsung mencari tahu file yang tengah disusun oleh almarhum. File itu akhirnya ditemukan di laptop sang kakak.
”Setelah beliau meninggal, keluarga sepakat mencari tahu file yang beliau susun. Setelah saya buka laptopnya, ditemukan file kamus yang diluncurkan hari ini,” tutur Candra.
Meski menemukan file kamus Bahasa Indonesia-Madura, Candra sempat khawatir penyusunannya belum rampung. Beruntung, setelah dia cek di file bertuliskan huruf Z, ternyata sudah lengkap dan sempurna.
Setelah itu, pihak keluarga melakukan perbaikan kata demi kata, yang kemudian kamus itu diterbitkan oleh Yayasan Literasi Ramah Irsyad.
Yakni, salah satu yayasan yang didirikan oleh keluarga besar Adrian, sekaligus menjadi salah satu penerbit buku di Kabupaten Bangkalan.
”Alhamdulillah, di bulan bahasa ini kami bisa menerbitkan buku karya alm Adrian Pawitra,” ujarnya.
Setelah disunting, Kamus Bahasa Indonesia-Madura itu dijadikan 2 jilid. Jilid pertama dari huruf A-K dengan 660 halaman. Kemudian, jilid kedua dari huruf L-Z setebal 718 halaman.
Kamus Bahasa Indonesia-Madura itu sudah siap dipasarkan di Indonesia. Pembali bisa mendapatkan kamus itu seharga Rp 550 ribu untuk jenis hard cover, sedangkan untuk soft cover dibanderol seharga Rp 425 ribu.
”Rumah Literasi Ramah Irsyad sudah ada dua karya yang diterbitkan, kami bertekad untuk menerbitkan karya-karya Adrian dan Ramah Irsyad,” sambungnya.
Yayasan Literasi Ramah Irsyad mendapati sebuah manuskrip tahun 1993 yang berisi tentang peribahasa Madura. Bahkan, akan merevisi Kamus Bahasa Madura-Indonesia yang ditulis oleh almarhum sebelumnya.
Tahun depan, edisi revisi Kamus Bahasa Madura-Indonesia kemungkinan besar diluncurkan dengan tebal 750 halaman.
”Ada revisi Kamus Bahasa Madura-Indonesia yang pernah diterbitkan pada 2009 lalu oleh Adrian,” imbuhnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap Adrian, Candra juga akan mendorong kedua putra mendiang untuk meneruskan bakat ayahnya.
Candra melihat seni melukis sudah dimiliki anak Adrian. Dia berharap, bakat itu bisa terus dikembangkan.
Rektor UTM Safi juga mengenal baik sosok Adrian. Baginya, almarhum adalah sosok yang humble, cerdas, dan memiliki keinginan yang tinggi untuk mengabdikan hidupnya terhadap sastra dan budaya Madura.
Adrian banyak mendedikasikan hidupnya untuk UTM, Madura, dan Indonesia pada umumnya.
”Adrian adalah orang yang mencipatakan hymne UTM, dedikasinya bagi kampus Unibang (saat ini UTM) sangat luar biasa,” kenang Safi.
Tidak hanya dikenal di kalangan kampus, Adrian juga dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat tinggi.
Buktinya, dia berhasil menulis karya monumental yang bisa dijadikan rujukan semua orang.
”Banyak ucapan bahasa Madura yang berganti dengan bahasa Indonesia, jadi kamus yang dikarang oleh Adrian ini sangat bermanfaat,” puji budayawan D. Zawawi Imron.
Selain itu, karya Adrian ini sama halnya dengan salah satu bahasa hebrew Israel yang sudah punah.
Namun, pada 1950-an, Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion menyusun kamus berbahasa hebrew.
Kemudian, dilanjutkan dengan banyaknya buku berbahasa hebrew yang diajarkan di sekolah-sekolah. (*/pen)
Editor : Abdul Basri