Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Fauzi, Novelis yang Angkat Sosial Budaya Menjadi Karya Sastra

Abdul Basri • Selasa, 25 Juli 2023 | 03:15 WIB

 

PRODUKTIF: Fauzi sedang membaca buku saat ditemui di rumahnya Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik, Sampang, Sabtu (22/7). 
PRODUKTIF: Fauzi sedang membaca buku saat ditemui di rumahnya Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik, Sampang, Sabtu (22/7). 
 

Berguru pada Pengalaman, Ingin Menulis sampai Akhir Hayat 

Lingkungan berpengaruh besar terhadap pola pikir dalam kehidupan seseorang. Seperti yang dijalani Fauzi, dia produktif menulis karya sastra lantaran banyak berteman dengan penulis.

JUNAIDI PONDIYANTO, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

PENCAPAIAN baik butuh proses dan tidak akan digapai dengan cara instan. Pernyataan itu tertanam dalam lubuk hati paling dalam Fauzi. Novelis yang sering mengangkat kondisi sosial budaya menjadi karya sastra itu tidak henti belajar meski sudah melahirkan sejumlah buku.

Dari tangannya, sejumlah karya sastra lahir. Mulai dari puisi hingga novel. Di antaranya, novel berjudul Tirakat Cinta. Karya sastra itu diterbitkan Pustaka Tunggal pada 2018 lalu.

Laki-laki kelahiran 1995 itu mengaku menyukai karya sastra sejak duduk di bangku sekolah dasar. Terutama, yang berkaitan dengan sosial budaya dan kearifan lokal. Kemudian, kesukaan itu dikembangkan dalam bentuk karya sastra, baik dalam bentuk puisi maupun novel.

Dalam novel Tirakat Cinta, banyak fakta sosial dan budaya yang diangkat. Fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dikemas menjadi narasi indah yang mampu menghipnotis pembacanya untuk larut dalam bacaan itu.

Fauzi mengaku tidak berkiblat pada satu penulis. Dia menjadikan pengalaman sebagai guru. Kemudian, teman-teman di sekitarnya dijadikan tempat sharing sehingga karya tulis yang dihasilkan mendapat masukan ke arah yang lebih baik.

”Guru saya adalah pengalaman. Lingkungan pertemanan saya memang banyak yang aktif menulis. Saya selalu diskusikan tulisan saya dengan mereka. Mereka semua guru saya,” jelasnya.

Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Trunojoyo Madura itu komitmen terus belajar dan produktif dalam menulis. ”Saya akan berhenti menulis kalau sudah tutup usia. Karya saya akan abadi di tangan pembaca,” katanya.

 

Fauzi menyampaikan, novel Tirakat Cinta rencananya akan diterbitkan secara berseri. Untuk seri kedua, naskahnya sudah disusun lengkap. Tinggal menungu penerbitan.

Pria 28 tahun itu menyadari, semua karya tulis yang diciptakan belum sempurna. Dengan demikian, dia tidak akan lelah belajar dan berguru pada penulis-penulis andal.

”Sebenarnya saya tidak mau disebut sebagai penulis. Saya hanya manusia yang ingin menyisihkan waktu untuk berkarya,” tambahnya.

Selain melalui karya tulis, Fauzi juga sempat menuangkan imajinasinya melalui teater. Semasa kuliah, dia aktif dalam organisasi Teater Sabit, unit kegiatan mahasiswa di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Trunojoyo Madura.

Meski memiliki banyak teman dari kalangan penulis, alumnus SMA Negeri 1 Torjun itu tidak menutup diri untuk bergaul dengan siapa pun. Sebab dia percaya setiap teman bisa menjadi guru sesuai dengan keahliannya masing-masing.

”Seperti pengalaman, teman juga bisa mengajari banyak hal. Untuk itu, saya berteman dengan siapa pun,” tandasnya. (*/pen)

Editor : Abdul Basri
#karya sastra #universitas trunojoyo madura #budaya #fauzi #pengalaman