Politeknik Negeri Madura (Poltera) dipimpin anak muda. Dia adalah Laily Ulfiyah. Usianya baru menginjak 37 tahun. Namun, pengalaman dan kemampuannya tidak diragukan.
ZEINAL ABIDIN, Sampang, Jawa Pos Radar Madura
GEDUNG putih menjulang menatap langit Sampang. Mahasiswa terlihat sibuk dengan buku bacaan. Sesekali terdengar candaan dan senyum renyah di bibir para calon pemimpin masa depan itu.
Para generasi emas itu merupakan mahasiswa Poltera. Satu-satunya kampus negeri di Kabupaten Sampang. Kampus ini telah banyak melahirkan generasi berprestasi. Bahkan, sumbangsih terhadap Madura juga sudah banyak dilakukan.
Prestasi yang bertabur itu bukti nyata keberhasilan pimpinan tertinggi di kampus ini. Pimpinan kampus yang dikenal dengan sebutan direktur itu mampu meramu semua potensi SDM yang ada menjadi lokomotif ilmu.
Direktur di kampus bernuansa putih itu adalah Laily Ulfiyah. Anak muda yang energik, tegas, dan disiplin. Dia juga sangat mengayomi anak didiknya untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.
Laily juga kerap menyempatkan diri membimbing dan mengarahkan mahasiswa di tengah kepadatan aktivitasnya. Usianya memang baru menginjak 37 tahun. Akan tetapi, perempuan berhijab itu memiliki pengalaman dan catatan akademik yang sangat baik.
Dia mampu menyelesaikan pendidikan magister hanya dalam waktu satu setengah tahun. Nilai yang diperoleh juga bukan kaleng-kaleng. Perempuan kelahiran Pamekasan itu berhasil lulus dengan nilai cum laude.
Laily mengaku tidak pernah terlintas di pikirannya bisa mendapat amanah sebagai direktur di kampus negeri. Selama mengabdi, dia hanya mengedepankan bekerja maksimal dan memberikan yang terbaik pada institusinya.
Namun, nasib berkata lain. Laily dipercaya menjadi pimpinan tertinggi di kampus tersebut. Amanah itu tidak akan disia-siakan. Berbekal pengamalan yang luar biasa dan dukungan dari berbagai pihak, dia yakin bisa membawa Poltera menjadi lebih baik.
Laily menceritakan, pada 2010 dia lulus dari ITS Surabaya. Kemudian, melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di kampus yang sama. Pendidikan pascasarjana hanya ditempuh dengan waktu 1,5 tahun dengan nilai cum laude.
Ibu dua anak itu tidak pernah berpikir mejadi pejabat di lingkungan kampus. Bagi dia, semua mengalir seperti air. Namun, apa pun yang menjadi permintaan orang tuanya, pasti dia kabulkan.
”Waktu saya kuliah S-2 di ITS Surabaya, saya sambil mengajar di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan,” imbuhnya.
Sebelum menjabat sebagai direktur, Laily menjabat sebagai ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) di Poltera. Kala itu dia merangkap sebagai kepala Unit Layanan Pengadaan.
Kemudian, pada 2017–2019 menjadi Plt Kepala Bagian Umum. Bahkan, pada 2020–2022, dia dipercaya menjadi Wakil Direktur Bidang Keuangan. ”Prinsip saya itu, apa yang bisa saya lakukan sekarang, saya lakukan. Perkara ke depannya ada hal baru, itu urusan nanti,” paparnya.
Bagi Laily, dukungan keluarga menjadi modal utama dalam meraih kesusksesan. Apa pun arahan keluarga, dia jalani dengan sepenuh hati. Dia terus berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. ”Manusia tidak terlepas dari doa, berusaha, dan tawakal dalam menjalani hidup,” katanya.
Dengan posisinya saat ini, Laily membuktikan dan menepis stigma pendidikan tinggi bagi kaum perempuan. Misalnya, di Sampang saat ini masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa tugas perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi.
Sebab, ujung-ujungnya perempuan hanya bertugas di dapur dan kasur. Dorongan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bagi perempuan masih sangat rendah. Laily merupakan bukti nyata bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin.
”Melanjutkan pendidikan sangat penting. Apalagi, sekarang kuliah sangat mudah, banyak beasiswa yang diberikan oleh pemerintah. Intinya banyak jalan menuju Roma,” tuturnya, lalu tersenyum. (*/pen)
Editor : Abdul Basri