Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Moh. Hafid Effendy: Hanya Perspektif Dunia Luar Menakut-nakuti Kepunahan Bahasa Madura

Abdul Basri • Kamis, 6 Juli 2023 | 23:19 WIB
CERIA: Maestro Revitalisasi Bahasa Daerah Madura Moh. Hafid Effendy (berdiri, tengah) berfoto bersama peserta pelatihan guru master wilayah Sumenep di Surabaya, Selasa (30/5).
CERIA: Maestro Revitalisasi Bahasa Daerah Madura Moh. Hafid Effendy (berdiri, tengah) berfoto bersama peserta pelatihan guru master wilayah Sumenep di Surabaya, Selasa (30/5).

Bahasa Madura memiliki jumlah penutur paling banyak setelah Jawa dan Sunda. Namun, banyak hasil penelitian yang mengkhawatirkan kepunahan bahasa daerah yang satu ini.

MOH. IQBAL AFGANI, Pamekasan Jawa Pos Radar Madura

ERA disrupsi bahasa menjadi tantangan tersendiri terhadap para penutur bahasa lokal. Minat generasi muda dalam menjadi pengujar bahasa daerah perlu digalakkan. Kondisi ini harus dilakukan jika tak ingin bahasa ibu kritis dan punah.

Kekhawatiran itu ditanggapi Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT). Revitalisasi bahasa daerah mulai dilakukan. Tahun ini Jawa Timur mendapat program revitalisasi untuk dua bahasa daerah. Yakni, bahasa Madura dan bahasa Jawa dialek Using.

Ada tujuh aspek yang menjadi titik tekan. Yakni, pidato, cerita pendek (cerpen), puisi, tembang, carakan, dongeng, dan lawakan tunggal. BBJT menunjuk seorang maestro untuk tiap genre tersebut. Tujuh maestro itu adalah Isya Sayunani (menulis aksara Madura/carakan), Moh. Hafid Effendy (pidato bahasa Madura), Avan Fathurrahman (dongeng bahasa Madura), Tola’adi (tembang Madura), Mudhar CH (cerpen Madura), Lukman Hakim AG (puisi Madura), dan Habibur Rohman (lawakan tunggal).

”Dengan dihidupkannya kembali bahasa Madura ini, tentu memiliki dampak baik. Guru master bisa mengimbaskan ilmu yang didapat pada tenaga pendidik lain, yang diteruskan pada murid,” tutur Moh. Hafid Effendy kemarin (5/7).

Pria kelahiran Pamekasan, 6 Januari 1982 itu menilai masih banyak guru master yang belum bisa membedakan antara pidato, sambutan, tausiah, atau ceramah. Meskipun, sama-sama berbicara di depan publik.

”Sebetulnya itu sama-sama berpidato. Hanya, teks dan konteksnya yang beda. Kalau di sekolah, di bawah naungan dinas pendidikan itu mayoritas pidato. Berbeda dengan madrasah yang kadang lebih pada konteks ceramah agama,” tutur dosen IAIN Madura itu.

Tema-tema yang diangkat dalam revitalisasi tentang nasionalisme, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), atau pelestarian bahasa Madura. Konteks itulah yang diajarkan kepada guru master dalam kegiatan tersebut.

”Pada kesempatan itu, kami juga belajar cara menguasai ekspresi, performa, aksentuasi, gestur, dan mimik wajah dalam menyampaikan pidato bahasa Madura dengan baik dan benar,” terang alumnus Universitas Negeri Malang itu.

Ketua Yayasan Pakem Maddhu Pamekasan itu bercerita, antusiasme guru master dalam mengikuti kegiatan revitalisasi bahasa Madura cukup tinggi. Baginya, kondisi tersebut menandakan bahwa keberadaan bahasa lokal tersebut tak akan punah.

Karena itu, Hafid tidak khawatir bahasa Madura itu punah. Sebab, benteng pertahanan bahasa Madura ada di pesantren. Di lembaga pendidikan ini, sampai sekarang bahasa dan sastra Madura masih utuh. Termasuk, kepedulian para ulama, tokoh masyarakat, budayawan, dan pegiat lainnya.

Selebihnya, terdapat peraturan gubernur yang mengatur tentang bahasa sebagai muatan lokal harus diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Kondisi ini, kata Hafid, tentu semakin memperkuat dan mempertahankan eksistensi bahasa Madura.

Selain itu, sudah ada terjemahan Al-Qur’an berbahasa Madura yang dilakukan oleh tiga lembaga. Pertama adalah Jemaah Pengajian Surabaya. Kemudian, Lembaga Penerjemah dan Pengkajian Al-Qur’an (LP2Q). Terakhir adalah IAIN Madura.

Penulis Morfologi Bahasa Madura itu meyakini bahwa masih banyak pegiat dan komunitas yang peduli terhadap bahasa dan sastra Madura. Dia optimistis bahasa daerah sebagai bahasa ibu akan terus digunakan selama ada keinginan.

”Kondisinya saya kira baik-baik saja. Hanya perspektif dunia luar yang memang menakut-nakuti bahasa Madura akan punah,” pungkas pria yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pendidikan (DP) Pamekasan itu. (*/luq)

Editor : Abdul Basri
#Daerah #iain madura #bahasa madura #Kepunahan #BBJT #dosen