Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mohammad Samsul Muarif Dirikan Museum Alap-Alap Raden Segoro untuk Edukasi Generasi Muda

Abdul Basri • Jumat, 16 Juni 2023 | 03:17 WIB
BERSEJARAH: Mohammad Samsul Muarif menunjukkan tongkat komando Bung Karno dan Pusaka Nenggolo di Museum Alap-Alap di Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Kota Bangkalan. (UBAIDILLAHIR RA’IE/Radarmadura)
BERSEJARAH: Mohammad Samsul Muarif menunjukkan tongkat komando Bung Karno dan Pusaka Nenggolo di Museum Alap-Alap di Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Kota Bangkalan. (UBAIDILLAHIR RA’IE/Radarmadura)

 

Museum mempertemukan masa lalu dan masa kini. Koleksi museum juga menjadi pijakan generasi mendatang agar tidak melupakan masa lampau.

 

UBAIDILLAHIR RA’IE, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

 

KOLEKTOR benda kuno di Bangkalan tidak sedikit. Kolektor benda bersejarah juga banyak. Seperti yang terlihat dalam pameran museum bersama di Museum Cakraningrat, Selasa–Kamis (6–8/6).

Pameran itu diikuti Museum Uang Perusnia, Museum Ambyar, Serupa (Komoenitas Onthel Boerneh), Tresna Art. Selain itu, ada Ki Durasid (kolektor benda kuno), Anom Aryo Subang, Imam Gazali (kolektor benda antik, dan Museum Alap-Alap Raden Segoro.

Museum Alap-Alap Raden Segoro itu milik Mohammad Samsul Muarif. Museum ini berada di Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Kota Bangkalan. Tepatnya di lantai dua rumah Samsul.

Museum ini masih proses pembangunan. Baru sekitar 40 persen. Dibangun secara mandiri. Museum ini diproyeksikan menjadi tempat edukasi atas benda peninggalan keraton zaman dulu di Bangkalan.

Minggu lalu (11/6) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke museum milik Samsul. Saat itu sang pemilik sedang membersihkan beberapa koleksi benda kuno. Di dalam ruang itu terdapat beberapa pusaka dan cincin akik.

Pria 58 tahun itu menceritakan, koleksi benda bersejarah yang dimilikinya terdiri dari pusaka keraton zaman dulu. Yakni, berupa keris dan tombak warisan leluhur keraton Raden Segoro Bangkalan. Pusaka yang paling bersejarah yakni nenggolo dan alugolo.

”Nenggolo itu pernah digunakan untuk membantu menyerang tentara Mongol,” ujarnya.

Jumlah pusaka zaman dulu miliknya yang berupa keris dan tombak sebanyak 120 bilah. Selain itu, ada juga batu akik dan permata peninggalan Raden Segoro sebanyak 2.500 butir. Yang tak kalah menarik adalah tongkat komando Bung Karno. ”Mulai mengoleksi sejak tahun 2018. Semua peninggalan Keraton Bangkalan ini,” terangnya.

Peninggalan Keraton Bangkalan tersebut sempat ingin dijual keluar negeri oleh pewarisnya. Samsul bersyukur bisa menemui ahli waris. Kemudian, ditebus untuk dikoleksi. ”Sehingga, bisa dilestarikan. Warisan kerajaan ini sebagai bukti sejarah bahwa keraton di Bangkalan benar-benar ada,” ujarnya.

Menurut dia, melestarikan benda peninggalan kerajaan sangat penting. Sebab, untuk membuktikan bahwa napak tilas Raden Segoro Keraton Bangkalan benar-benar ada. Dengan benda-benda itu pula dia bisa menepis jika ada yang menyebut kerajaan hanya dongeng. ”Sehingga, tidak dikenal hanya dongeng belaka,” ujarnya.

Suami Sri Rejeki Retno itu menambahkan, dari koleksinya tersebut dia berkeinginan untuk menempatkan di ruangan khusus. Yakni, berbentuk seperti museum untuk menjadikan tempat edukasi peninggalan keraton zaman dulu, tepatnya Raden Segoro.

”Sehingga, dapat mendidik generasi muda agar mereka belajar dan mengenal juga pusaka dan benda zaman dulu yang dipakai oleh orang-orang Keraton Bangkalan,” tutupnya. (*/luq)

Editor : Abdul Basri
#Edukasi #sejarah #Museum Alap Alap #Generasi Muda #Raden Segoro