JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura
DI atas meja cokelat itu sudah terhidang enam porsi nasi plus bebek goreng. Enam gelas plastik berisi minuman juga tersaji di meja yang dikelilingi enam orang itu. Selain itu, ada satu piring yang hanya berisi bebek goreng.
Enam piring berisi nasi, potongan bebek goreng, bumbu, dan seiris mentimun. Di samping piring-piring itu, juga ada lepek berisi sambal pencit. Sedangkan satu piring yang lain hanya berisi daging bebek goreng. Sepertinya itu piring stok bagi keluarga Tanto Kusumo untuk menambah lauk.
Tanto begitu lahap menikmati sajian nasi berlauk bebek goreng di Rumah Makan Suramadu itu Minggu (8/5). Warga Jalan Karang Empat Besar, Kelurahan Ploso, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, itu mengajak istri, anak, dan cucunya dari Kota Pahlawan ke Bangkalan hanya untuk menggoyang lidah dengan bebek goreng.
Pria berkacamata itu hanya sekali menyantap bebek di Bangkalan. Beberapa RM yang menjual menu bebek pernah disinggahi. Antara lain. Bebek Sinjay dan Bebek Songkem Pak Salim. ”Untuk Bebek Suramadu ini yang kedua kalinya,” tuturnya.
Tanto bersama keluarga ketagihan sambal pencit Bebek Suramadu. Tempatnya yang unik dan bernuasa klasik juga menjadi pemikat. Karena itu, pada libur nasional akhir pekan kemarin dia mengajak anggota keluarganya ke RM yang berada di Jalan Raya Ketengan, Kecamatan Burneh, tersebut.
Untuk mendapat makanan yang dipesan, harus sabar antre. Namun, bagi Tanto, itu wajar karena dia datang akhir pekan. ”Kalau di hari biasa, biasanya cepat, langsung dilayani,” ujarnya.
Banyak menu kuliner bebek di Bangkalan. Soal cita rasa dan penyajian, setiap rumah makan memiliki ciri khas berbeda. Tujuannya, tentu demi bisa memuaskan para pelanggan.
Dari sekian banyak RM, yang belakangan cukup tersohor yaitu RM Bebek Suramadu. RM yang berpusat di Jalan Raya Poter Barat, Desa Poter, Kecamatan Tanah Merah, itu cukup ramah kantong. Satu porsi hanya dibanderol Rp 12 ribu.
Maka, tidak jarang RM yang kini membuka dua cabang itu juga disebut dengan bebek Rp 12 ribu. Dengan harga murah dan cita rasa yang khas, RM Suramadu mampu memikat lidah para pemburu bebek. Mereka pun ketagihan dan rindu untuk kembali.
RM Bebek Suramadu dirintis seorang pengusaha kuliner lokal Abdul Hamid Muktar. Sebelum berkembang pesat seperti sekarang, ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pihak manajemen.
Usaha kuliner yang identik dengan gazebonya itu dirintis pada 2015. Awalnya hanya warung biasa dengan status lahan sewa. Ternyata, bisnis itu menarik minat banyak pencinta kuliner bebek. ”Tidak pernah menduga kalau akan seperti sekarang,” terang Manajer RM Bebek Suramadu Kholilurrahman.
Dulu, tutur Kholil, Abdul Hamid Muktar hanya pedagang kaki lima (PKL) di Kelurahan Pajagan, Kecamatan Bangkalan. Karena dianggap mengganggu pengguna jalan, akhirnya tidak diperpolehkan berjualan. Lalu, pindah tempat ke Kelurahan Bancaran. ”Saat di Bancaran tidak laku,” tutur pria yang menemani Abdul Hamid Muktar sejak jadi PKL tersebut.
Karena situasi itulah, Abdul Hamid Muktar rela menjual tanah dan rumahnya demi bisa memiliki modal untuk bisa membuka usaha kuliner di akses jalan nasional itu. Bahkan, aset tanah dan bangunan dijual dengan harga miring. Estimasi bisa terjual Rp 500 juta. Tapi karena butuh modal cepat, hanya dijual Rp 350 juta.
Hasil dari penjualan aset itulah yang digunakan untuk menyewa lahan dan mendirikan tempat tinggal semipermanen sekaligus rumah makan di Jalan Raya Poter Barat. Akhirnya, banyak dikenal dan membuka cabang di dua tempat berbeda. Yakni, di Desa Dumajah, Kecamatan Tanah Merah, dan Jalan Raya Ketengan, Kecamatan Burneh, dekat RM Bebek Sinjay.
”Rencana kami akan membuka cabang lagi di sebelah timur Desa Dumajah, tapi sebelum Kecamatan Tanah Merah. Saat ini masih on progress pembangunannya,” katanya.
Pria asal Kelurahan Pajagan itu mengakui usaha kuliner yang dijual di tempatnya bekerja tergolong murah karena hanya Rp 12 ribu per porsi. Karena itu, manajemen menjadikan 12 sebagai angka keberentungan yang mampu mengantarkan RM Bebek Suramadu hingga berkembang pesat seperti sekarang.
Sebelumnya, manajemen sempat menaikkan harga menjadi Rp 14 ribu. Namun, omzet yang didapat justru menurun. Karena itu, manajemen mengembalikan harga satu porsi menu bebek hanya Rp 12 ribu. ”Akhirnya, kami patenkan untuk bebek Rp 12 ribu,” sambungnya.
Dari tiga RM yang kini dikelola, kebutuhan pasokan bebek mencapai ribuan. Apalagi di momentum akhir pekan dan Lebaran yang pembelinya naik dua kali lipat dari hari biasa. ”Sekarang kebutuhan bebek bisa mencapai 2.000 ekor dan 1.000 ayam per hari. Sementara pada hari biasa separo dari itu.
Ribuan bebek dan ayam itu dipasok dari peternak Bangkalan. Tempat usaha itu menyerap 40 tenaga kerja. Semuanya warga Bangkalan. ”Kami membuka 24 jam,” imbuhnya.
Lonjakan pembeli yang naik dua kali lipat cukup membuat pekerja kewalahan. Namun, itu disiasati dengan saling gotong royong antar pekerja. ”Kalau ada karyawan yang tidak ada kerjaan bisa membantu pekerjaan karyawan yang lain,” ujar Rahmat, karyawan RM Bebek Suramadu. (*/luq) Editor : Abdul Basri