Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Nilai Filosofi Tongkos yang Kini Menjadi Artibut bagi Pegawai

Abdul Basri • Senin, 25 April 2022 | 23:32 WIB
MENJAGA TRADISI: Ketua Peguyuban Kesultanan Bangkalan Abdul Hamid Mustari mengenakan tongkos dan memegang odheng seleredan di kediamannya di Kelurahan Pangeranan, Minggu (17/4). (JUPRI/RadarMadura.id)
MENJAGA TRADISI: Ketua Peguyuban Kesultanan Bangkalan Abdul Hamid Mustari mengenakan tongkos dan memegang odheng seleredan di kediamannya di Kelurahan Pangeranan, Minggu (17/4). (JUPRI/RadarMadura.id)
Memelihara dan mengembangkan kebudayaan jadi alasan penggunaan tongkos untuk pegawai pria di lingkungan Pemkab Bangkalan. Namun, tahukah sejarah dan filosofi tutup kepala itu?

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

TONGKOS menjadi pakaian khas penutup kepala pria. Keberadaannya sudah berabad-abad. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui filosofi penutup kepala yang dikenal sebagai warisan Kerajaan Madura Barat tersebut.

Penutup kepala itu diidentikkan dengan biota laut yang memiliki bentuk unik. Yakni, belangkas atau lebih sering dikenal dengan mimi. Itu tidak lepas dari bentuk bagian belakang tongkos yang juga memiliki ekor.

Ketua Paguyuban Kesultanan Bangkalan Abdul Hamid Mustari mengatakan, hingga saat ini belum ada literatur yang menjelaskan tentang sejarah dan filosofi tongkos secara utuh. Yang ada hanya sejarah tutur dari sesepuh dan budayawan Bangkalan.

Menurut sejarah tutur yang dirinya peroleh, tongkos ada sejak 1.747. Itu berangkat dari kegelisahan Panembahan Sedo Mukti yang merupakan pemimpin ke-4 Kerajaan Madura Barat. Letaknya di Desa Sambilangan, Kecamatan Kota Bangkalan.

Kegelisahan itu berawal saat putra sulung Pangeran Cakraningrat IV bingung mencari ciri khas Bangkalan yang dapat dijadikan simbol. Sehingga, dapat digunakaan saat berkunjung ke Keraton Mataram.

Dari situlah penguasa Kerajaan Madura Barat mencari inspirasi yang dapat dijadikan simbol dari Bangkalan. Setelah berkelana ke berbagai tempat, Pangeran Sedo Mukti akhirnya menemukan hewan unik di bibir pantai. Yakni, dua mimi yang bertumpang. ”Dari situlah tongkos dijadikan identitas penutup kepala yang berekor dua,” ujarnya.

Mimi memang dikenal sebagai hewan yang memiliki makna kesetiaan. Sebab, hewan yang dilindungi tersebut hanya memiliki satu pasangan selama hidup. Sehingga, makna kesetiaan dari hewan yang memiliki 10 mata sangat cocok diimplementasikan oleh manusia.

”Mimi memiliki folosofi, apa pun masalah kalau dihadapi bersama (laki-laki dan perempuan) akan terasa ringan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Pangeranan, Minggu (17/4).

Dulu, kata Abdul Hamid Mustari, tongkos hanya digunakan oleh kaum bangsawan yang telah dewasa. Penutup kepala itu biasa digunakan dengan baju agungan. Sedangkan untuk bangsawan muda, penutup kepala yang digunakan yaitu odheng sleredan. Odheng itu dilengkapi dengan satu ekor yang menghadap ke atas.

Sementara bentuk tongkos saat ini ada dua. Pertama menggunakan satu lipatan di bagian depan. Ada pula yang menggunakan dua lipatan. Sementara motif batik yang dapat digunakan sebagai itu masih menjadi perdebatan.

Namun yang jelas, selaku bagian dari Keraton Bangkalan, Abdul Hamid Mustari sangat mengapresiasi keputusan pemkab yang telah mematenkan tongkos sebagai atribut bagi abdi negara. Yaitu, pegawai negeri sipil ataupun tenaga harian lepas (THL). Sehingga, eksistensinya dapat dilestarikan masyarakat Bangkalan.

”Kami sangat merespons positif, penutup kepala khas Keraton Bangkalan bisa semakin dikenal,” ujarnya.

Sudarsono, seorang budayawan Bangkalan juga membenarkan tidak adanya literatur tentang tongkos. Namun, pemilik Sanggar Seni Tarara tersebut tetap merespons positif keputusan pemerintah menjadikan tongkos sebagai atribut pegawai.

Sudarsono mengenal tongkos dari almarhum ayahnya yang juga sebagai sejarawan. Namun, tongkos yang dia kenal sejak muda yaitu dua lipatan. Lipatan bagian depan itu lambang lam jalalah. Sedangkan ekor di bagian belakang itu menunjukkan hubungan antarmanusia.

”Pemerintah sudah menetapkan tongkos sebagai penutup kepala yang digunakan ASN. Tentu kami menyambut positif, apalagi itu memberikan dampak positif untuk ekonomi perajin,” katanya. (*/luq) Editor : Abdul Basri
#pegawai #Abdul Hamid Mustari #kebudayaan #tongkos