PAMEKASAN, RadarMadura.id – Ijazah sarjana tak membuat Hasanatul Alfiyah harus mengejar pekerjaan kantoran.
Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu justru memilih menekuni usaha kreatif dari rumah.
Perempuan 27 tahun asal Desa Batubintang, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, tersebut merintis usaha buket, seserahan, parsel, hingga jasa hias sejak 2022.
Aktivitas itu dijalankan di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan mengurus dua anak.
Baca Juga: Resep Mie Gomak Kuah Khas Sumatera Utara Kaya Rempah, Lengkap dengan Bumbu Andaliman
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Saat memulai usaha, bisnis buket dan jasa hias masih tergolong jarang di daerahnya.
Hasanatul melihat kondisi itu sebagai celah untuk mencoba peruntungan.
”Dulu masih jarang yang buka usaha seperti ini. Jadi peluangnya terlihat cukup menjanjikan,” ujar Alfiyah pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Jumat (28/8).
Selain melihat peluang pasar, dia juga membutuhkan pekerjaan yang fleksibel.
Usaha tersebut bisa dikerjakan dari rumah dan tidak terikat jam kerja.
Kondisi itu membuatnya tetap bisa menjalankan peran sebagai ibu sekaligus memiliki penghasilan sendiri.
Bahan-bahan yang digunakan juga relatif tidak mudah rusak sehingga risiko usaha dinilai cukup kecil.
Kini, usaha serupa mulai banyak bermunculan. Namun, Alfiyah tidak memilih mundur.
Baca Juga: Harga Bersahabat, ADVAN V11 Usung Gemini AI, Layar FHD 11 Inci dan Keyboard untuk Pelajar
Dia tetap bertahan dengan mengandalkan kreativitas dan kemampuan mengikuti selera pelanggan.
Pilihan menjadi pelaku usaha sempat membuatnya merasa risih.
Terutama ketika ada pandangan bahwa seorang sarjana semestinya bekerja di kantor atau mengenakan seragam.
Alfiyah memilih tidak memasukkannya ke hati. Menurut dia, gelar sarjana bukan ukuran seseorang dalam menentukan pekerjaan.
”Bagi saya, ini bukan pekerjaan, tapi hobi yang dibayar,” katanya.
Menurut dia, ada kebahagiaan tersendiri ketika hasil karyanya menjadi bagian dari momen spesial orang lain.
Buket dan berbagai hasil kreasinya bisa menjadi pelengkap untuk ulang tahun, wisuda, hingga perayaan lainnya.
Baca Juga: Mesin Dipangkas, Performa Malah Bertambah, Mazda MX-5 Terbaru Siap Hadir dengan Tenaga Lebih Besar
Di sisi lain, menjalankan usaha dari rumah membuatnya tetap dekat dengan keluarga.
Kreativitas bisa terus berjalan tanpa harus mengorbankan waktu bersama anak.
Bukan berarti usaha tersebut tanpa kendala. Pesanan mendadak menjadi tantangan tersendiri karena Alfiyah belum memiliki karyawan untuk membantu proses pengerjaan.
”Kalau ada pesanan mendadak, kadang cukup kewalahan karena masih mengurus kebutuhan rumah, belum lagi anak yang kadang rewel mau ditemenin terus,” tuturnya.
Tren yang terus berubah juga menuntutnya untuk terus belajar.
Model buket, parsel, dan seserahan berkembang mengikuti keinginan pelanggan.
Tak jarang, pelanggan datang dengan permintaan yang berbeda-beda.
Karena itu, Alfiyah dituntut serbabisa agar kreativitasnya tidak berhenti pada satu model.
Untuk buket, harga yang ditawarkan mulai Rp 15 ribu. Sementara seserahan dan produk lainnya menyesuaikan isi serta permintaan pelanggan.
Parsel dipatok mulai Rp 20 ribu. Pelanggan bisa membawa sendiri keranjang atau kotak untuk dihias.
Bisa pula memilih layanan lengkap hingga tinggal menerima hasil jadi.
Empat tahun berjalan, Alfiyah mengaku sangat bersyukur usahanya masih bertahan.
Apalagi, bisnis tersebut tergolong musiman dan tidak selalu ramai pesanan.
”Alhamdulillah masih bisa bertahan sejauh ini,” ucapnya.
Baginya, usaha tersebut bukan semata soal mengejar keuntungan besar.
Bisa tetap produktif, memiliki pemasukan, sekaligus dekat dengan anak dan keluarga sudah menjadi capaian yang patut disyukuri. (afg/han)
Editor : Hera Marylia