BRI Perkuat Manajemen Risiko, Pertumbuhan Kredit Tetap Sehat dan Berkelanjutan

Hendriyanto • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:45 WIB
DUKUNG KETAHANAN PANGAN:  BRI terus memberikan layanan kredit usaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.
DUKUNG KETAHANAN PANGAN: BRI terus memberikan layanan kredit usaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

JAKARTA, RadarMadura.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga pertumbuhan kredit dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengelolaan risiko yang disiplin.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memastikan ekspansi bisnis berjalan sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian.

Sebagai bank yang fokus pada pemberdayaan segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), BRI tidak hanya mengukur pertumbuhan kredit dari besarnya penyaluran pembiayaan.

Perseroan juga memastikan kualitas kredit dengan mempertimbangkan profil risiko debitur, prospek usaha, kemampuan membayar, serta kondisi sektor dan industri yang dibiayai.

Baca Juga: Enam Dapur SPPG di Bangkalan Tutup Sementara

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan prinsip kehati-hatian menjadi fondasi dalam setiap keputusan penyaluran kredit. BRI memperkuat kualitas aset sejak tahap awal melalui proses underwriting yang disiplin, pemantauan kredit secara berkelanjutan, serta penerapan sistem early warning untuk mendeteksi potensi risiko sejak dini.

“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas. Kami memastikan setiap ekspansi kredit melalui proses asesmen risiko yang memadai sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Ety.

Dalam menjalankan strategi pertumbuhan, BRI menerapkan pendekatan selektif dengan mempertimbangkan karakteristik risiko pada setiap segmen dan sektor ekonomi. Perseroan juga terus menyempurnakan kebijakan perkreditan dan mekanisme pemantauan portofolio agar tetap relevan dengan perubahan kondisi ekonomi serta profil risiko.

Pendekatan tersebut membantu BRI menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan tingkat risiko yang dapat diterima. Pengelolaan risiko juga tidak berhenti setelah kredit disalurkan karena BRI melakukan pemantauan portofolio secara berkala dengan pendekatan berbasis data.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk mendeteksi perubahan kualitas debitur maupun potensi tekanan pada sektor tertentu. Dengan langkah tersebut, BRI dapat melakukan mitigasi lebih awal terhadap berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi kualitas kredit.

“Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” lanjut Ety.

Baca Juga: BRI Salurkan KUR Rp 103,81 Triliun kepada 2 Juta Debitur hingga Juni 2026

Pendekatan tersebut semakin penting karena portofolio BRI didominasi segmen UMKM dengan karakteristik nasabah yang beragam dan tersebar di seluruh Indonesia. Berbekal basis data dan pengalaman panjang dalam melayani UMKM, BRI terus meningkatkan kemampuan memahami karakteristik serta profil risiko nasabah secara lebih granular.

Perbaikan kualitas aset BRI tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) yang membaik secara Quarter on Quarter (QoQ). Rasio NPL turun dari 3,07 persen pada akhir Desember 2025 menjadi 3,01 persen pada Maret 2026.

Selain itu, indikator risiko kredit yang lebih forward-looking, yakni rasio Loan at Risk (LaR), juga menunjukkan perbaikan signifikan. Rasio LaR turun dari 11,13 persen pada Maret 2025 menjadi 9,67 persen pada Maret 2026 atau membaik 145 basis poin.

BRI juga terus menjaga kecukupan pencadangan dan permodalan sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko. Langkah tersebut sekaligus menjadi bantalan untuk menghadapi potensi tekanan dan memastikan fundamental perseroan tetap kuat dalam mendukung ekspansi bisnis.

Hal itu tercermin dari rasio NPL Coverage yang berada pada level 179,45 persen dan LaR Coverage sebesar 55,75 persen. Stabilnya kedua rasio tersebut menunjukkan konsistensi BRI dalam menjaga kecukupan pencadangan risiko sebagai bagian dari penerapan manajemen risiko yang pruden. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
bri Pertumbuhan Kredit kredit usaha rakyat kur