Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Berangkat dari Nol, Pengusaha Asal Pamekasan Percaya Bahwa Satu Risiko Berarti Mengurangi Satu Jatah Kegagalan

Amin Basiri • Rabu, 15 Juli 2026 | 08:13 WIB
BAHAGIA: Lutfiadi berfoto bersama keluarga.
BAHAGIA: Lutfiadi berfoto bersama keluarga.

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Ketakutan menjadi alasan banyak orang menunda memulai usaha. Namun bagi pengusaha bernama Lutfiadi, hal itu justru menjadi langkah pertama untuk membuka peluang yang lebih besar.

Pemilik tiga usaha percetakan dan satu gerai makanan cepat saji itu mengaku tidak pernah menunggu modal besar atau kondisi benar-benar siap. Menurutnya, usaha harus dimulai dari apa yang dimiliki. Sebab, kesempatan tidak datang kepada orang yang hanya menunggu.

”Kalau terus menunggu siap dan matang, kita tidak akan pernah memulai. Saya dulu memulai hanya dengan laptop rusak dan satu printer,” katanya.

Lutfiadi mengatakan, setiap orang yang ingin menjadi pengusaha harus berani mengambil risiko. Risiko memang tidak selalu berujung keberhasilan. Namun, tanpa keberanian mencoba, seseorang tidak akan pernah mengetahui seberapa jauh kemampuannya.

”Saya percaya, mengambil satu risiko berarti mengambil satu jatah kegagalan. Semakin sering berani mencoba, kita semakin dekat dengan keberhasilan,” ujarnya.

RAMAI: Pelanggan memadati Madani Fried Chicken di Kecamatan Pakong, Pamekasan.
RAMAI: Pelanggan memadati Madani Fried Chicken di Kecamatan Pakong, Pamekasan.

Menurut dia, kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru dari kegagalan, pelaku usaha belajar mengambil keputusan yang lebih baik.

Karena itu, dia mengingatkan anak muda agar tidak mudah menyerah ketika usaha pertama belum membuahkan hasil.

”Jangan takut gagal. Takutlah kalau tidak pernah mencoba. Setiap langkah yang berani diambil selalu membawa pelajaran, meski hasilnya belum sesuai harapan. Kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan,” tuturnya.

Lutfiadi juga berpesan agar keuntungan usaha tidak dihabiskan untuk memenuhi gaya hidup. Sebaliknya, keuntungan harus diputar kembali menjadi modal agar usaha terus berkembang dan mampu membuka lapangan pekerjaan.

Baginya, ukuran sukses bukan sekadar memiliki banyak cabang atau aset. Kesuksesan adalah ketika usaha yang dirintis mampu memberi manfaat bagi keluarga dan orang lain.

 ”Kalau usaha kita bisa menghidupi keluarga dan memberi pekerjaan kepada orang lain, itu sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa dan bagi saya hal itu patut untuk disyukuri,” pungkasnya. (afg/jup)

Editor : Amin Basiri
percetakan pamekasan pengusaha