PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tak semua usaha besar lahir dari modal besar. Ada yang tumbuh dari tumpukan utang, air mata keluarga, dan keberanian mengambil risiko. Itulah kisah Lutfiadi, 30, warga Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.
Lulus kuliah pada 2019, Lutfiadi tidak langsung menikmati pekerjaan mapan. Di awal 2020, dia memilih merintis usaha percetakan dari rumah. Modalnya hanya sebuah laptop dengan layar rusak dan satu printer. Usaha kecil itu diberi nama Pola Print.
Pelanggan pertamanya hanya teman-teman dekat. Saat mendapat pesanan banner, dia bahkan belum memiliki mesin sendiri.
Seluruh pekerjaan harus dibawa ke percetakan di Kota Pamekasan. Perjalanan pulang-pergi dari Palengaan lebih banyak menghabiskan biaya daripada keuntungan.
”Yang saya kejar waktu itu bukan untung. Tapi, menjaga komitmen kepada pelanggan.
Apa saja yang disuruh pelanggan saya kerjakan. Mulai disuruh cetak undangan, bahkan jasa tukang foto juga saya kerjakan,” kenangnya.
Cobaan datang lebih berat pada 2021. Ayahandanya meninggal dunia dan meninggalkan utang angsuran. Di sisi lain, Lutfiadi masih harus membantu ibu serta membiayai adiknya yang masih kecil. Keadaan memaksanya mengambil keputusan yang tidak mudah.
Bersama keluarga, dia mencairkan setoran haji sang ayah dan menjual mobil peninggalan ayah untuk membayar utang. Namun, setelah itu masih tersisa kewajiban sekitar Rp 180 juta.
Tidak ingin ibunya terus dihantui tagihan bank, Lutfiadi kembali mengambil risiko. Pada 2022, dia menjual sepeda motor, melepas emas milik istrinya–yang saat itu sempat membuat sang istri bersedih–serta meminjam modal Rp 150 juta ke bank untuk membeli mesin cetak banner.
Selama hampir dua tahun, sebagian besar keuntungan usahanya habis untuk melunasi utang keluarga. ”Saya hanya berpikir ibu dan adik tidak lagi didatangi penagih. Bahkan saya pernah berdoa, kalau utang selesai, setelah itu bangkrut pun tidak apa-apa,” ujarnya.
Namun, doa itu justru berbalik menjadi jalan rezeki. Setelah seluruh utang terselesaikan pada 2023, usahanya mulai berkembang. Di tahun yang sama, anak pertamanya lahir. Perlahan dia mampu membeli kendaraan, merenovasi rumah, dan memperkuat bisnisnya.
Momentum Pemilu 2024 menjadi titik balik. Pesanan percetakan melonjak tajam. Lutfiadi kemudian membuka cabang Easy Print di Kecamatan Pakong. Meski masih ada pelanggan yang menunggak pembayaran, dia terus melangkah dan merambah bisnis kuliner dengan membuka Madani Fried Chicken.
Perjalanan itu berlanjut pada 2025 dengan berdirinya KM Print. Kini, Lutfiadi mengelola tiga usaha percetakan–Street Digital Printing, Easy Print, dan KM Print–serta satu usaha makanan cepat saji. Dari empat unit usaha tersebut, dia telah mempekerjakan 14 karyawan.
Bagi Lutfiadi, keberhasilan bukan sekadar soal omzet atau jumlah cabang. Baginya, usaha yang dirintis dari laptop rusak itu menjadi bukti bahwa keberanian menanggung tanggung jawab kepada keluarga dapat mengubah kesulitan menjadi jalan kesuksesan. (afg/jup)
Editor : Amin Basiri