Berawal dari keprihatinan terhadap meningkatnya ketergantungan masyarakat pada obat berbahan kimia, Siti Aisyah memilih menekuni usaha jamu tradisional. Hingga kini, ia tetap mempertahankan proses produksi secara alami dan berhasil memasarkan puluhan jenis jamu hingga ke luar negeri.
__________________
Usaha jamu ini mulai beroperasi sejak tahun 2021. Lokasinya berada di Dusun Ponjun, Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep. Saat ini, sudah ada 40 jenis jamu herbal yang di produksi.
Jamu tersebut antara lain, jamu saraf kejepit, jamu ambien, dan jamu gemuk sehat.
Lalu jamu khusus perempuan seperti pelancar haid, jamu istihadhoh, jamu galian rapet, jamu program hamil, jamu ibu menyusui, dan jamu bersalin. Ada juga jamu khusus pasangan suami istri.
Pemilik, St Aisyah mengaku memilih memproduksi jamu karena prihatin melihat banyak masyarakat yang bergantung pada obat-obatan berbahan kimia.
Dari keprihatinan tersebut muncul keinginan untuk menyediakan alternatif pengobatan tradisional melalui jamu berbahan alami.
Saat ini, produk yang dihasilkan mencapai lebih dari 40 jenis jamu. Beragam produk tersebut ditujukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.
Dengan demikian, target pasarnya mencakup seluruh kalangan yang membutuhkan pengobatan herbal.
Bahan baku jamu sebagian diperoleh dengan mencari langsung tanaman obat di sekitar lingkungan rumah dan kawasan terbuka yang masih banyak ditumbuhi berbagai dedaunan serta rempah-rempah.
Seluruh bahan dipilih dari tanaman yang dinilai layak dijadikan bahan baku jamu.
Dalam proses produksinya, pemilik tetap mempertahankan cara-cara tradisional.
Bahan baku dijemur menggunakan sinar matahari ketika cuaca memungkinkan. Saat musim hujan, produksi disesuaikan dengan jenis bahan yang tidak memerlukan penjemuran.
Setelah dibersihkan secara menyeluruh, bahan diolah dengan cara ditumbuk atau diparut hingga siap menjadi jamu.
Menurut Aisyah, keunggulan produknya terletak pada proses pengolahan yang masih alami.
Ia menilai banyak produk jamu di pasaran menggunakan mesin atau oven dalam proses pengeringan, sementara beberapa jenis rempah lebih baik dikeringkan secara alami menggunakan sinar matahari.
"Cara tersebut diyakini mampu menjaga kualitas bahan herbal," katanya.
Selain mengutamakan proses alami, kebersihan juga menjadi perhatian utama selama produksi. Seluruh bahan dicuci hingga bersih sebelum diolah.
Pemilik meyakini metode tradisional tersebut dapat mempertahankan kualitas jamu, meski klaim mengenai berkurangnya kandungan zat aktif akibat penggunaan mesin atau oven masih memerlukan pembuktian melalui penelitian ilmiah yang lebih lanjut. (*)
Editor : Amin Basiri