Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

KUR BRI Jadi Nafas Baru Industri Genteng Jatiwangi, Usaha Hena Gian Hermana Kembali Bergairah

Hendriyanto • 2026-03-15 07:30:10
BERDAYA: Pelaku UMKM genting di Majalengka mulai merasakan kampanye gentengisasi Presiden Prabowo.
BERDAYA: Pelaku UMKM genting di Majalengka mulai merasakan kampanye gentengisasi Presiden Prabowo.

MAJALENGKA, RadarMadura.id – Suara denting tanah liat dan deru mesin cetak masih terdengar dari sebuah sudut kampung di sentra genteng Jatiwangi, Majalengka.

Di tempat itulah usaha genteng milik Hena Gian Hermana bertahan dan berkembang, menjadi saksi perjalanan panjang industri tradisional yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Di halaman rumah yang sederhana, tumpukan genteng berjajar rapi di bawah terik matahari. Bagi Gian, setiap keping genteng bukan sekadar material bangunan, melainkan simbol ketekunan dan harapan bagi keberlanjutan usaha keluarga.

Usaha genteng yang ia jalankan bukanlah usaha baru. Pabrik tersebut telah berdiri sejak 1985, ketika permintaan atap genteng di wilayah Majalengka dan sekitarnya meningkat pesat.

Saat itu, kapasitas produksi pabrik-pabrik genteng di kawasan Jatiwangi belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai usaha genteng skala rumahan, termasuk milik keluarga Gian.

Namun perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, industri genteng tradisional menghadapi berbagai tantangan.

Mulai dari ketatnya persaingan dengan produk modern, tingginya biaya produksi, keterbatasan bahan baku, hingga semakin berkurangnya tenaga kerja menjadi tantangan yang harus dihadapi para pelaku usaha.

“Berbicara usaha pabrik genteng tentu tidak lepas dari pasang surut. Tantangan zaman, persaingan produk, biaya produksi tinggi, bahan baku terbatas, hingga berkurangnya jumlah pegawai membuat banyak pabrik genteng tidak bisa bertahan,” tutur Gian.

Perjalanan usaha tersebut mulai menemukan titik terang ketika Gian menjadi nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Bank Rakyat Indonesia.

Akses pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau memberikan ruang bagi dirinya untuk memperluas usaha dan meningkatkan kapasitas produksi.

Tambahan modal dari program KUR tersebut dimanfaatkan untuk membeli mesin cetak yang lebih modern serta memperbaiki tungku pembakaran agar proses produksi menjadi lebih efisien.

Hasilnya cukup signifikan. Kapasitas produksi meningkat, kualitas genteng menjadi lebih seragam, dan waktu pengerjaan dapat dilakukan lebih cepat.

“BRI menjadi mitra utama bagi para pelaku usaha pabrik genteng, karena memiliki fasilitas pinjaman bunga rendah melalui KUR bagi pelaku UMKM seperti kami, sehingga kami bisa terus menjalankan produksi,” ujarnya.

Tidak hanya dalam hal pembiayaan, Gian juga merasakan manfaat dari pendampingan yang diberikan oleh pihak bank. Ia mulai lebih tertib dalam mengelola keuangan usaha.

Mulai dari memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat arus kas secara rutin, hingga menyusun rencana pengembangan usaha jangka panjang.

Peningkatan produksi tersebut juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Gian mulai merekrut warga sekitar untuk membantu proses produksi, mulai dari pencetakan hingga pengangkutan genteng.

Usaha yang ia jalankan kini menjadi salah satu sumber penghidupan bagi sejumlah keluarga di lingkungan sekitarnya.

Di tengah maraknya penggunaan material atap modern seperti baja ringan dan genteng metal, Gian tetap optimistis terhadap masa depan genteng tanah liat.

Menurutnya, genteng tanah liat memiliki keunggulan tersendiri, terutama dalam hal ketahanan panas serta nilai estetika tradisional yang masih diminati masyarakat.

“Kami terus menjaga kualitas supaya pelanggan tetap percaya,” katanya.

Ke depan, Gian berencana memperluas jaringan pemasaran dengan menyasar proyek-proyek perumahan skala lebih besar, tidak hanya mengandalkan pembeli lokal.

Ia juga mulai mempertimbangkan inovasi desain agar produk genteng yang dihasilkan mampu bersaing dengan model genteng modern.

Gian pun berharap dukungan dari pemerintah dan sektor perbankan terus diperkuat agar industri genteng tradisional tetap bertahan.

Menurutnya, sinergi tersebut penting agar usaha genteng tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan bahan bangunan, tetapi juga tetap lestari sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

“Dukungan tersebut penting agar usaha pabrik genteng tidak sekadar bertahan, tetapi juga tetap menjadi sumber penghidupan berkelanjutan bagi para pekerja,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Gian juga menyinggung program gentengisasi yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto.

Program tersebut mendorong penggantian atap rumah berbahan seng dengan genteng tanah liat sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).

Menurut Gian, program tersebut menjadi harapan baru bagi para pelaku usaha genteng di Jatiwangi. Ia menyebut program gentengisasi ibarat oase di tengah gurun bagi industri genteng yang selama ini menghadapi berbagai tantangan.

Dengan adanya program tersebut, Gian berharap genteng Jatiwangi dapat kembali bangkit dan meraih masa kejayaannya seperti pada masa lalu.

Sementara itu, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa pihaknya siap mengambil peran strategis dalam mendukung program gentengisasi melalui skema pembiayaan KUR Perumahan.

Menurutnya, BRI dapat memfasilitasi pembiayaan antara pengusaha genteng dengan pengembang perumahan sehingga rantai pasok industri dapat berjalan lebih optimal.

“Peran BRI berada di tengah. Ketika sudah ada kontrak antara pengusaha genteng dengan developer atau pengguna, BRI siap memfasilitasi pembiayaannya melalui KUR Perumahan,” jelasnya.

Hery menambahkan bahwa pembiayaan tersebut tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas hunian masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

Mulai dari meningkatnya aktivitas produksi UMKM bahan bangunan, penguatan rantai pasok industri perumahan, hingga membuka peluang lapangan kerja di berbagai daerah.

Dukungan tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing UMKM lokal sekaligus memperkuat industri dalam negeri, khususnya industri genteng tanah liat. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
#majalengka #bri #umkm #Presiden Prabowo