SAMPANG, RadarMadura.id – Fidi Geprek menambah daftar kuliner di wilayah Kabupaten Sampang. Meski outlet berada di wilayah Kota Bahari, tapi konsumennya berasal dari luar daerah.
Brand lokal dengan menu utama ayam goreng krispi tersebut kini semakin berkembang. Ada empat outlet yang sudah beroperasi di wilayah Kecamatan Sampang dan Torjun.
Yakni di Jalan Trunojoyo, Jalan Wijaya Kusuma (Alun-Alun Trunojoyo Sampang), Jalan Rajawali (depan RSUD Sampang), dan Jalan Raya Torjun.
Paidi selaku owner Fidi Geprek menceritakan, dia merintis usaha fried chicken sejak 2017. Awalnya, dia berjualan menggunakan gerobak di area Pasar Srimangunan, Sampang. Itu berlangsung hampir dua tahun.
Paidi menjajaki dunia usaha sambil lalu menekuni profesi sebagai jurnalis media nasional. Inspirasi untuk membuka usaha dia dapat saat berkunjung ke kerabatnya di Bali. Di sana, Paidi tertarik dengan fried chicken setelah melihat usaha yang dikembangkan kerabatnya tersebut.
”Jadi, setelah hunting berita, saya buka usaha ayam krispi di Pasar Srimangunan,” kenangnya.
Pria kelahiran Sumenep itu menyampaikan, waktu itu persaingan usaha ayam krispi tidak banyak. Dia menghitung, di wilayah Sampang hanya ada tiga brand, termasuk miliknya yang awalnya diberi nama CFC. Usahanya berkembang hingga menambah cabang baru di tempat lain.
Seiring berkembangnya usaha, Paidi dihadapkan pada dilema. Sebab, bumbu yang digunakan bukan racikan sendiri. Selama buka usaha, dia membeli bumbu ke temannya. ”Kan tidak mungkin saya beli (bumbu) terus. Saya juga khawatir tiba-tiba harganya naik,” ujarnya.
Lalu, Paidi mencoba mencari referensi bumbu di media sosial. Sayangnya, rasa yang dihasilkan tak sesuai ekspektasi. Namun, dia tidak putus asa mencari racikan bumbu yang sesuai dengan keinginannya.
Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang teman yang pernah bekerja di usaha fried chicken ternama. Dia berbagi resep cara membuat bumbu fried chicken. Rasanya enak, tapi buat Paidi belum pas.
Setelah itu, Paidi mencoba melakukan eksperimen melalui resep bumbu yang diberikan temannya. Hampir satu tahun dia mencoba meracik bumbu sendiri. Banyak lidah yang sudah mencoba hasil eksperimen pria yang kini tinggal di Desa Taddan, Camplong, Sampang tersebut.
”Resep dari teman itu saya utak-atik. Ditambah bumbu-bumbu sesuai kebutuhan,” ungkapnya.
Percobaan terakhir yakni pada 2023. Paidi membuat tester kepada karyawan, teman, dan pelanggan. Mereka bilang rasanya lebih enak dari brand-brand terkenal. ”Nah, sejak saat itu saya semakin percaya diri menggunakan racikan yang terakhir,” tuturnya.
Paidi menyadari bahwa persaingan usaha ayam goreng krispi semakin kompetitif. Lalu, dia mendaftarkan merek Fidi Geprek ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi manusia (Kemenkum HAM) RI. Sebelumnya, dia mendaftarkan dua merek, tapi tidak disetujui.
Dia mengungkapkan, outlet Fidi Geprek kini tersebar di empat titik. Hal itu tidak terlepas dari respons masyarakat terhadap kehadiran brand lokal tersebut. Bahkan, konsumen Fidi Geprek tidak hanya warga Sampang, tapi ada juga dari Sumenep, Pamekasan, dan Bangkalan.
”Meski brand lokal, tapi disukai banyak kalangan. Bukan hanya kalangan anak-anak, orang dewasa juga suka sama Fidi Geprek,” tukasnya. (bil)
Editor : Amin Basiri