Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Berawal dari 10 Meter Kain, Batik Binaan BRI Ini Sukses Tembus Pasar Internasional

Hendriyanto • Jumat, 19 Desember 2025 | 00:54 WIB

ANGGUN: Hasil busana Batik Canting Asasi dari Padang Panjang diperagakan di salah satu pameran.
ANGGUN: Hasil busana Batik Canting Asasi dari Padang Panjang diperagakan di salah satu pameran.

PADANG, RadarMadura.id - Pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi justru menjadi titik balik bagi Rita Nova Omala, pengusaha UMKM batik asal Padang Panjang, Sumatera Barat. Dari keterbatasan saat pandemi, lahirlah Batik Canting Asasi yang kini dikenal hingga pasar nasional dan internasional.

Usaha batik tersebut berkembang pesat berkat kegigihan Rita dalam bertahan dan berinovasi di tengah krisis. Batik Canting Asasi kini menjadi salah satu produk unggulan UMKM Sumatera Barat dengan ciri khas kuat.

Perjalanan Batik Canting Asasi tidak terlepas dari pendampingan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melalui Rumah BUMN BRI Padang Panjang. BRI secara konsisten memberikan pelatihan, pendampingan usaha, promosi digital, hingga fasilitasi ekspansi pasar.

Rita memulai usahanya pada November 2021 dengan modal yang sangat terbatas. Saat itu, ia hanya memiliki kain sepanjang 10 meter untuk diproduksi menjadi tiga potong baju.

Dari hasil penjualan tersebut, Rita memutar kembali keuntungan sebagai modal produksi berikutnya. Strategi sederhana itu menjadi fondasi pertumbuhan Batik Canting Asasi hingga dikenal luas.

Baca Juga: Gelar RUPSLB, BRI Perkuat Tata Kelola dan Siapkan Akselerasi Kinerja 2026

Perkembangan usaha semakin pesat setelah Rita aktif memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram. Selain itu, partisipasi dalam berbagai pameran turut memperluas jangkauan pasar produknya.

Nama Batik Canting Asasi terinspirasi dari Masjid Asasi, masjid tertua di Padang Panjang yang berada di Kelurahan Sigando. Masjid tersebut menjadi sumber filosofi sekaligus inspirasi utama desain batik yang dihasilkan.

“Keunikan Batik Canting Asasi ada di sanggar membatik. Kami memakai pewarna alami yang lembut dan klasik. Kami memanfaatkan limbah seperti kulit jengkol dan biji pinang untuk bahan pewarna. Hasilnya lebih ramah lingkungan dan warnanya lebih awet,” jelas Rita.

Saat ini, Batik Canting Asasi menghadirkan berbagai motif khas seperti Asasi, Barara, dan Panen. Motif Asasi menjadi favorit karena merepresentasikan nilai budaya dan religi masyarakat Padang Panjang.

Selain kain batik, sanggar ini juga memproduksi pakaian jadi seperti jaket, blazer, dan setelan resmi. Produk tersebut digunakan oleh berbagai kalangan, termasuk pejabat daerah.

Batik Canting Asasi tidak hanya bergerak di sektor kreatif, tetapi juga berperan sebagai wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Sejak berdiri, jumlah tenaga kerja meningkat dari empat orang menjadi 15 orang.

Baca Juga: Tanggap Darurat Bencana Sumatra, BRI Sebar Bantuan di Puluhan Titik Terdampak

Sebagian besar pekerja merupakan perempuan dan lansia yang dilibatkan dalam berbagai proses produksi. Mulai dari melukis, mencap, mewarnai, hingga pembuatan jambul selendang.

“Ada yang melukis, mencap, mewarnai, dan membuat jambul pada selendang. Kami juga memberdayakan lansia untuk membuat jambul. Beragam, ada yang usia 18, 24, 27 tahun sampai 60 tahun. Jadi dari milenial sampai lansia,” tutur Rita.

Peran BRI dinilai sangat signifikan dalam mendorong pertumbuhan Batik Canting Asasi. Melalui Rumah BUMN BRI Padang Panjang, Rita memperoleh berbagai pelatihan dan kesempatan mengikuti pameran nasional.

Salah satu ajang bergengsi yang diikuti adalah BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di BSD, Tangerang. Keikutsertaan tersebut membuka akses pasar yang lebih luas dan memperkuat jejaring bisnis.

“BRI selalu mendukung kami. Kalau ada pameran, ada staf BRI yang datang mendampingi dan menanyakan kebutuhan kami. Kami juga pernah dipercaya jadi narasumber pelatihan untuk teman-teman disabilitas. Sekarang sudah ada penyandang disabilitas yang bekerja di sanggar kami,” ungkap Rita.

BRI juga membantu pembuatan e-katalog produk agar dapat menjangkau konsumen digital. Langkah tersebut menjadi terobosan penting dalam promosi dan perluasan pasar.

Hasilnya, Batik Canting Asasi mulai menerima pesanan dari luar negeri. Produk batik tersebut dikirim ke Jepang, Singapura, Malaysia, hingga Arab Saudi.

“Memang belum banyak, baru sekitar 5–10 potong. Kami senang karena produk kami bisa sampai ke sana tanpa perantara. Semua berkat promosi lewat media sosial dan dukungan dari BRI,” kata Rita bangga.

Baca Juga: BRI Manjakan Nasabah di Usia 130 Tahun dengan Promo Belanja hingga KPR Spesial

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan peran Rumah BUMN sebagai wadah kolaborasi pelaku usaha. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas bisnis UMKM agar mampu bersaing di pasar yang kompetitif.

Menurutnya, pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mewujudkan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Hingga kini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 17 ribu pelatihan UMKM di berbagai daerah.

“Banyak pelaku usaha yang semula hanya menjual produk di pasar lokal, kini telah memasarkan produknya secara daring bahkan menembus pasar ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai program pemberdayaan BRI seperti pendampingan berkelanjutan dan akses ekosistem digital mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya. (dry)

Editor : Hendriyanto
#batik #bri #Rumah BUMN #padang #padang panjang