Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Industri Sawit Menguat, GAPKI Beberkan Strategi Perdagangan, Tata Kelola dan Biofuel

Hendriyanto • Jumat, 14 November 2025 | 14:23 WIB

Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025 di Nusa Dua Bali.
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025 di Nusa Dua Bali.

BALI, RadarMadura.id - Industri sawit nasional sedang menghadapi dinamika yang kian kompleks dan belum pernah terjadi pada periode sebelumnya. Perubahan perdagangan global, tuntutan tata kelola, dan kebijakan energi baru menjadi faktor besar yang membentuk masa depan komoditas strategis Indonesia itu.

Dalam pembukaan 21st Indonesia Palm Oil Conference di Bali, Kamis 13 November 2025, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono memaparkan langkah organisasi dalam menjawab tantangan industri. Ia menyebut forum IPOC sebagai ruang strategis tahunan untuk merumuskan arah kebijakan dan membaca prospek sawit global.

“Inilah strategi yang akan GAPKI terapkan,” ujar Eddy saat menyampaikan sambutan. Dua kalimat itu menjadi pembuka pemaparan mengenai arah baru industri sawit yang harus diambil secara kolektif.

Optimisme Eddy muncul karena kinerja sawit nasional sepanjang Januari hingga September 2025 menunjukkan perbaikan nyata. Produksi mencapai 43 juta ton atau naik 11 persen dari tahun sebelumnya dan menandai pergerakan positif mesin industri.

Pada sisi ekspor, volume sawit termasuk CPO, turunannya, oleokimia dan biodiesel menembus lebih dari 25 juta ton atau tumbuh 13,4 persen. Nilai tersebut menyumbang devisa 27,3 miliar dolar AS atau naik 40 persen dari periode sama sebelumnya.

Baca Juga: AgenBRILink Jadi Pahlawan Inklusi di Tengah Kebun Kelapa Sawit, Berhasil Dekatkan Layanan Perbankan dengan Masyarakat

Konsumsi domestik juga tetap kuat karena mencapai 18,5 juta ton dibanding 17,6 juta ton tahun lalu. Eddy menyebut kinerja ini sebagai sinyal penting bahwa industri memerlukan strategi baru agar tetap tumbuh dan kompetitif.

“Kinerja industri sawit menunjukkan sedikit percepatan dibandingkan periode yang sama,” lanjut Eddy. Ia mengingatkan bahwa capaian tersebut harus menjadi wake up call bagi seluruh pelaku industri.

Tema konferensi tahun ini, “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade,” dipilih untuk menggambarkan tantangan yang semakin besar. Eddy menilai pelaku usaha harus mampu membaca arah kebijakan global dan menyiapkan respons yang proporsional.

Pada aspek perdagangan global, Eddy melihat peluang pertumbuhan industri sawit Indonesia masih sangat terbuka. Momentum penting hadir melalui Indonesia–EU CEPA yang memberi akses lebih luas ke pasar Eropa dan berpotensi mengubah rantai pasok dunia.

Namun regulasi EU Deforestation Regulation tetap menjadi tantangan besar karena berdampak langsung pada penerimaan produk Indonesia di Eropa. Eddy menilai EUDR tidak sekadar regulasi karena mencerminkan sistem yang harus disiapkan industri sawit.

Baca Juga: Bahas Sawit dan Karbon, Erick Thohir Gelar Rapat Perdana sebagai Menko Marves

Ia menegaskan bahwa informasi keliru harus diluruskan dengan data dan fakta agar citra sawit tidak terus disalahpahami. Ia juga meminta pelaku usaha menerapkan standar keberlanjutan yang lebih baik dan memenuhi tuntutan pasar global.

Tata kelola menjadi fokus strategi kedua karena menjadi fondasi menjaga kepercayaan global terhadap industri sawit. Eddy menegaskan perlunya memperkuat sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil agar tidak hanya menjadi simbol.

ISPO harus menjadi standar emas global yang menunjukkan keberlanjutan sebagai prinsip utama. Eddy mengingatkan bahwa nilai keberlanjutan bukan slogan karena “Sustainability adalah komitmen GAPKI.”

Eddy juga mengapresiasi kebijakan energi terbarukan pemerintah yang memberi ruang lebih besar bagi sawit sebagai bahan baku biofuel. Mandat B35 dan B40 dinilainya menjaga stabilitas permintaan domestik dan menurunkan emisi nasional.

Ia berharap sinergi pemerintah dan pelaku industri semakin konsisten agar kebijakan energi terbarukan terus berkembang. Eddy menegaskan bahwa stabilitas regulasi menjadi kunci untuk menjaga daya saing industri sawit.

“Untuk mendorong pertumbuhan, kita membutuhkan setiap bagian dari mesin pemerintahan kita bekerja secara harmonis,” kata Eddy. Ia menilai ekosistem sawit harus memiliki kerangka kebijakan solid agar mampu berinovasi dan kompetitif.

Baca Juga: Potensi Industri Sawit untuk Kesejahteraan Rakyat

Selain memperkuat struktur industri, GAPKI juga memastikan petani kecil merasakan manfaat terbesar dari kemajuan sawit. Organisasi ini rutin menggelar kompetisi untuk menobatkan koperasi pekebun paling produktif di Indonesia.

Tahun ini pemenang berasal dari Kutai Timur, Kalimantan Timur dengan capaian 37,4 ton TBS atau naik 9 persen dari tolok ukur produktivitas. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dari pemenang tahun lalu dan menunjukkan peningkatan produktivitas pekebun.

GAPKI juga mendorong generasi muda menghadirkan inovasi baru bagi industri sawit nasional. Pada pembukaan IPOC 2025, GAPKI menyoroti semangat ratusan mahasiswa yang mengikuti Hackathon Minyak Sawit Nasional 2025.

Juara kompetisi tersebut adalah Tim BiFlow dari ITS Surabaya dengan proyek RAPIDS untuk mendeteksi dini penyakit Ganoderma Boninense. Inovasi berbasis pembelajaran mesin dan radar non-invasif itu dinilai mampu meningkatkan keberlanjutan produksi sawit.

“Kami juga bangga mengumumkan inisiatif yang diluncurkan oleh Konsorsium Elaeidobius,” ujar Eddy. Ia memperkenalkan kolaborasi antara GAPKI, lembaga pemerintah, lembaga riset dan organisasi profesi untuk memperbaiki penyerbukan alami kelapa sawit.

Baca Juga: Menguak Misteri Wisata Paling Angker di Indonesia: Dari Alas Purwo hingga Ghost Palace Bali, Destinasi Horor yang Bikin Merinding Sekaligus Terkagum

Konsorsium tersebut menggandeng Tanzania Agricultural Research Institute untuk memperkenalkan tiga spesies serangga penyerbuk Elaeidobius. Program ini sudah berjalan dan diyakini mampu meningkatkan hasil panen pada masa mendatang.

Menurut Eddy, seluruh langkah tersebut menjadi modal penting untuk membawa industri sawit Indonesia menuju masa depan yang lebih kuat. Ia optimistis upaya kolektif seluruh pemangku kepentingan akan menjaga daya saing sawit di pasar global. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
#bali #biofuel #IPOC Bali 2025 #kepala sawit