SAMPANG, RadarMadura.id — Bagi masyarakat Desa Junok, Kecamatan Sreseh, ikan bandeng bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghidupan.
Hampir empat dari lima dusun di desa ini menggantungkan ekonomi pada tambak bandeng.
Namun, selama bertahun-tahun, keuntungan yang mereka peroleh tidak sebanding dengan kerja keras di tambak.
“Biasanya kami hanya jual mentah atau pindang kuning. Harganya tidak seberapa, dan kadang harus lewat tengkulak,” kata Nasirah, ketua Paguyuban Bakul Ikan Al-Barokah.
Situasi itu berubah setelah Universitas Trunojoyo Madura (UTM) turun tangan melalui program Abdimas DRTPM yang digagas oleh Mashudi, S.E., M.E.I selaku Dosen Ekonomi Syariah Fakultas Keislaman UTM.
Selama lebih dari dua bulan, dosen lintas disiplin bersama mahasiswa mendampingi petambak untuk mengembangkan produk olahan bandeng Junok.
Pendampingan dimulai dengan sosialisasi pentingnya branding dan sertifikasi halal, dilanjutkan pelatihan produksi, hingga praktik pemasaran digital.
Tidak hanya itu, tim Abdimas juga menyediakan peralatan modern yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki, seperti panci presto, kompor api seribu, dan vacuum sealer.
Perubahan pun terasa. Produk bandeng Junok kini hadir dalam tiga varian utama: pindang kuning, bakar, dan presto.
Semuanya dikemas cantik dengan merek baru “Bandeng Junok Beda” dan logo halal. “Sekarang kami merasa punya kebanggaan baru. Produk kami sudah punya merek sendiri,” ujar Nasirah.
Kepala Desa Junok H. Ach Fathoni menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, program tersebut membuka peluang kerja baru di desa.
“Lebih dari dua pertiga wilayah kami adalah tambak bandeng. Dengan adanya inovasi ini, anak muda bisa ikut terlibat dalam produksi, pemasaran, bahkan promosi digital. Ini bukan hanya soal ikan, tapi juga pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Hasil evaluasi Abdimas menunjukkan antusiasme warga meningkat. Mereka kini mulai melihat bandeng bukan sekadar hasil tambak, melainkan potensi ekonomi desa yang bisa membawa nama Junok ke pasar lebih luas.
Pemerintah kecamatan dan kabupaten pun menyatakan dukungan untuk membantu promosi produk tersebut.
Transformasi ini menandai sebuah langkah penting: akademisi, pemerintah, dan masyarakat desa bergandengan tangan mengangkat potensi lokal.
Dari desa pesisir kecil di Sampang, lahirlah sebuah inovasi yang bukan hanya menambah nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas desa.
“Bandeng Junok Beda” kini tak hanya menjadi merek dagang, melainkan simbol kebanggaan warga Junok. ***
Editor : Abdul Basri