Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Usaha Teri Tembus Pasar Nasional, Original dan Rasa Balado Jadi Best Seller

Fatmasari Margaretta • Senin, 12 Mei 2025 | 02:19 WIB
KRISPI: Mohammad Cholid dan Nur Umamah menunjukkan produk usaha terinya di Desa Nyalabu Daya, Kecamatan Pamekasan. (AYU LATIFAH/JPRM)
KRISPI: Mohammad Cholid dan Nur Umamah menunjukkan produk usaha terinya di Desa Nyalabu Daya, Kecamatan Pamekasan. (AYU LATIFAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Segala bentuk usaha yang ditekuni akan berbuah manis. Kuncinya adalah konsisten dalam merawat usaha.

Seperti usaha teri yang berhasil menembus pasar nasional.

Usaha teri milik pasangan Mohammad Cholid dan Nur Umamah telah berhasil menjaring pembeli di marketplace.

Cholid menekuni usaha tersebut sejak 2015. Saat itu dirinya hanya iseng mengisi kekosongan saja.

”Awalnya coba-coba jual punya temen, ternyata ada peminatnya,” katanya.

Unggahan platform e-commerce tersebut mulai banyak dilirik pembeli. Hingga akhirnya kini telah berada di tiga online shop dengan memiliki sembilan toko.

 ”Alhamdulillah, terus berkelanjutan dan saya mulai pakai strategi marketing hingga akhirnya sampai sekarang,” tambah Nur Umamah.

Pasangan asal Desa Dasuk, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, tersebut memang tidak memproduksi teri sendiri.

Teri krispi yang diambil dari sanak saudaranya diolah kembali dengan berbagai varian.

Yakni, rasa original, balado, barbeque, hot spicy, jagung bakar, ayam geprek, ayam bakar, sapi panggang, keju, dan rumput laut.

”Yang best seller itu original dan balado,” ungkapnya.

Menu varian produk yang ditawarkan tidak hanya olahan teri krispi. Namun, juga ada abon teri yang peminatnya juga lumayan.

”Ada teri super, kecil, dan abon teri. Tapi, yang banyak peminatnya teri super,” ujarnya.

Harga yang dipatok untuk teri dimulai Rp 10 ribu isi 50 gram dan Rp 130 ribu isi 1 kilogram untuk teri super.

Sedangkan teri kecil dijual dari Rp 5 ribu untuk 40 gram dan Rp 60 ribu untuk 1 kilogram.

Sementara abon dipatok Rp 2 ribu hingga Rp 20 ribu. ”Semua olahan teri kami jual,” paparnya.

Banyaknya peminat di marketplace sering membuat dirinya kewalahan.

Sebab, dalam satu hari bisa ada 25 hingga 360 orderan. Umamah dibantu oleh tiga pekerjanya.

”Sementara suami saya itu pulang mengajar pukul 12.00 dan paket kurir paling lambat pukul 13.00 jadi kami keteteran,” sambung Nur Umamah.

Perempuan 28 tahun itu memaparkan, saat ini dirinya memiliki 225 reseller online.

Sedangkan offline ada tujuh koperasi kapontren yang menjual produknya.

”Tentu lebih banyak online dari offline karena kalau Pamekasan stagnan,” ucap ibu dua anak itu.

Usaha kendhuy miliknya sempat diajak kerja sama dengan distributor.

Dalam sekali pengiriman dirinya bisa hitungan kuintalan ke Surabaya. Namun, kondisi tersebut berkurang sejak pandemi Covid-19.

”Sekarang tetap minta cuma 1,7 ton. Sedangkan kalau pesanan lain 50 kilogram hingga 5 kuintal,” ucapnya.

Menurutnya, dalam satu toko di marketplace dirinya bisa menghasilkan omzet Rp 26 juta dalam satu pekan.

Pendapatan tersebut hampir merata di delapan toko lainnya. Hasilnya kini bisa membangun rumah.

”Alhamdulillah, target kami terus berkembang. Bahkan, kalau bisa hingga ke internasional,” harapnya. (ay/luq)

Editor : Fatmasari Margaretta
#teri #mengajar #Konsisten #balado #marketplace #pandemi #usaha #omzet #abon