PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tekad dan kemauan jadi modal utama Zubair Ali Mortadho untuk merintis usaha pembuatan sepatu.
Dengan modal nekat dan kerja keras, karya warga Desa Seddur, Kecamatan Pakong, Pamekasan, itu berhasil menembus pasar Malaysia.Top of FormBottom of Form
Sebagai salah seorang pengasuh Yayasan Al-Mukhlisin, Zubair Ali Mortadho merasa gelisah.
Banyak alumni lembaga pendidikannya yang terpaksa harus bekerja di luar kota demi memenuhi kebutuhan ekonomi.
Pria 27 tahun itu kemudian punya ide untuk merintis usaha pembuatan sepatu. Dalam bisnis kerajinan ini, sepenuhnya memanfaatkan sumber daya alumni.
”Usaha pembuatan sepatu ini dirintis di 2022,” tutur Ali kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Sabtu (3/8).
Ali memulai usaha pembuatan sepatu hanya menyiapkan modal Rp 10 juta. Uang tersebut didapat dari meminjam kepada sanak saudaranya.
Saat itu Ali hanya punya modal nekat. Ide kreatif untuk membuka usaha produksi sepatu muncul saat berkunjung ke Mojokerto. Di sana, dia melihat dan bertemu dengan banyak perajin sepatu.
Sejak saat itulah, Ali bergegas untuk merintis usaha serupa di desanya. Dia melihat potensi ekonomi dari usaha kerajinan sepatu itu sangat besar. Lebih-lebih di Desa Seddur belum ada yang memulai usaha kreatif.
”Di sini masyarakatnya kerja sebagai petani, sebagian yang lain merantau ke Malaysia. Saya kemudian berinisiatif untuk mendirikan rumah kreatif pembuatan sepatu ini,” tuturnya.
Suami Siti Muflihatun itu berkeinginan besar untuk menghidupkan ekonomi masyarakat. Lebih-lebih dapat memberdayakan alumni dari lembaga pendidikannya.
”Siapa tahu nanti bisa mengangkat ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Produk sepatu Ali beragam. Mulai sepatu santai hingga sepatu resmi. Setiap jenis sepatu dirancang dengan detail dan kualitas yang tinggi untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelanggan.
Bahan yang digunakan dalam produksi sepatu ini juga bervariasi. Meliputi kulit sapi, kain batik, serta kombinasi dari keduanya. Pilihan bahan ini tidak hanya memastikan keawetan dan kenyamanan, tetapi juga memberikan sentuhan estetika yang khas pada setiap pasang sepatu.
Selama proses produksi, karya Ali ini telah berhasil menembus pasar internasional, termasuk ke negara tetangga Malaysia dan Singapura.
Pemasaran itu melalui jejaring warga Seddur yang sedang bekerja di kedua negara tersebut.
”Awal-awal, kesulitannya itu di izinnya. Tapi, alhamdulillah bisa. Dan, kalau ngirim itu paling sedikit lima pasang sepatu, karena berkaitan dengan ongkos kirim,” tuturnya.
Dalam sebulan Ali mampu memproduksi 50 pasang sepatu dengan pekerja 15 orang. Khusus pembuatan sepatu kulit bisa memakan waktu dua hari sampai satu minggu per pasang. Semua itu bergantung pada desain dan detail yang diinginkan.
”Saya mengedepankan kualitas untuk kepuasan pelanggan dan meningkatkan daya saing produknya di pasar,” terangnya.
Harga yang ditawarkan Ali untuk satu pasang sepatu bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah.
Sepatu dengan harga lebih tinggi umumnya adalah jenis pantovel dan yang terbuat dari bahan kulit.
”Omzet per bulan sekitar Rp 15 juta, karena mayoritas barang saya dikirim ke Malaysia dan Singapura. Saya menerapkan strategi pemasaran dengan menawarkan garansi satu bulan. Jika sol sepatu copot, akan diganti dengan yang baru,” tegasnya.
Ali memiliki keinginan besar untuk memperluas usaha. Pria berbadan tegap itu berharap bisa melahirkan berbagai produk selain sepatu.
Seperti tas, ikat pinggang, songkok, dan barang-barang fashion lainnya.
”Untuk beberapa bulan ini yang kerja saya liburkan. Karena lagi musim tembakau. Nanti rencana akan mulai produksi lagi di Desember. Di situ saya berkeinginan untuk membuat banyak produk selain sepatu,” pungkasnya. (c3/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti