SUMENEP, RadarMadura.id – RJ Oud Instrument merupakan nama yang tidak asing bagi para pencinta alat musik oud di Indonesia.
Hasil karya Mohammad Khalili itu sudah melanglang buana ke berbagai penjuru tanah air.
Bagi pria kelahiran Banyuwangi, 24 Juli 1995, itu bermain musik merupakan aktivitasnya sehari-hari.
Sejak SMP memang sudah senang bermain musik, khususnya musik bergenre metal.
”Sejak awal saya memang senang musik, tapi metal, selain itu juga pernah bermain musik dangdut, dan saat ini sudah menjadi pemain musik gambus,” terangnya saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke kediamannya di Desa Rombiya Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, Sabtu (22/6).
Dia kali pertama membuat alat musik oud pada 2013. Namun, di saat itu hanya berhasil menyelesaikan satu unit.
Setelah itu, vakum selama beberapa tahun. Dia memulai kembali pada 2018. Di awal kembali aktif itu, Khalili hanya membuat beberapa unit karena perkakas belum lengkap.
”Saat itu ada beberapa kiai yang mendukung saya dengan memberikan beberapa alat dan kayu. Salah satunya adalah mantan ketua Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) Kiai Makmun Tamim,” kenangnya.
Awalnya, Khalil merasa minder untuk membuat gitar oud. Sebab, saat itu dirinya tidak yakin akan banyak orang yang menyukai gitar tradisional khas Timur Tengah tersebut.
Dia mengaku suka pada oud karena bentuknya yang unik. ”Ternyata yang suka banyak, termasuk di Madura,” terangnya.
Dia menjelaskan, ada bagian dari oud yang tidak bisa menggunakan kayu lokal. Sehingga, dia harus impor dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan itu.
Baca Juga: Layanan Perpusling di Pamekasan Belum Sasar Warga Pedesaan
Selain itu, dia juga melakukan riset untuk menyeleksi dan belajar jenis-jenis kayu. ”Saya riset kurang lebih selama dua tahun,” jelasnya.
Kayu yang impor dari luar negeri, yakni kayu spruce dan cedar (sejenis pohon pinus).
Kayu itu hanya ada di negara-negara yang bersalju, seperti Kanada, Rusia, dan lainnya.
”Yang tidak bisa menggunakan kayu lokal itu bagian papan depannya. Sedangkan bagian lainnya saya menggunakan kayu lokal Jawa dan Madura, seperti jati, mahoni, dan lainnya,” tuturnya.
Seiring berkembangnya zaman, oud itu berkembang menjadi banyak model seperti silent oud, semi oud, dan classic oud.
Saat ini ia memproduksi sesuai dengan permintaan pelanggan. ”Oud itu banyak model, tapi esensinya tetap sama,” ungkapnya.
Pelanggan Rj Oud Instrument berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Kalimantan, Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Surabaya, dan dari daerah Madura sendiri. Soal harga bergantung tingkat kesulitan pembuatan.
Menurut Khalili semuanya menggunakan kayu grade A. Hal itu dilakukan untuk menjaga kualitas oud buatannya.
”Harganya lebih mahal dari gitar biasa. Kalau di saya paling murah sekitar Rp 2 juta. Yang membedakan harganya itu tingkat kesulitan pembuatan dan model oudnya, karena terkadang ada pelanggan itu yang minta ada ukirannya,” ujarnya. (c1/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti