MENTARI pagi masih berada di sebelah timur, sekitar pukul 06.00 ketika Jawa Pos Radar Madura (JPRM) melaju ke Desa Pademawu Timur, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Sabtu (1/6).
Tiga perempuan yang menjadi pekerja Syaiful Hidayat sedang memanen tanaman cabai merah dengan nama ilmiah Capsicum annuum ini.
Sekitar lima menit pria berkaus kuning itu datang dan menyapa JPRM. ”Maaf ya, telat. Tadi masih ada kerjaan belum selesai di rumah,” katanya.
Dalam proses tanam ini dia menyemai benih cabai merah besar. Yang kemudian membutuhkan 25 hari untuk menjadi bibit yang ditanam pada luas lahan sekitar 0,2 hektare.
Jarak tanam antara tanaman cabai merah besar dengan yang lain yakni 30 sentimeter. Dalam satu bedeng yang ditutup mulsa bisa diisi 10 pohon cabai merah besar itu.
”Punya saya ini totalnya ada sekitar 3.000-an cabai,” kata Syaiful, warga Desa Pademawu Timur, Kecamatan Pademawu, Pamekasan.
Setelah ditanam, hanya membutuhkan waktu 85 hari agar bisa berbuah sempurna. Dengan melakukan penyiraman selama satu minggu sekali dengan jumlah yang cukup banyak.
Syaiful menyampaikan, untuk perawatannya masih sama dengan tanaman yang lain. Kuncinya juga harus telaten dan memahami dari tanaman tersebut.
”Untuk penyiraman, meskipun hanya satu kali seminggu, itu langsung banyak airnya,” jelasnya.
Dalam pemberian pupuk dilakukan satu kali seminggu juga dengan memberikan jenis NPK. Kemudian, pupuk kandang sebanyak 10 ton per hektare dengan waktu pemberian yang sama.
Sedangkan untuk hama biasanya lebih dominan thrips, tungau, dan lalat buah. Untuk pengobatannya, dengan memberikan obat jenis insektisida, sekaligus untuk pencegahan dilakukan penyemprotan setiap seminggu sekali.
Pria 44 tahun itu menambahkan, jarak panen berikutnya dilakukan selama dua hari satu kali. Sehingga, proses perawatan juga bisa dilakukan lebih intens.
”Intinya harus tahu caranya agar hasil dari cabai merah besar ini sesuai dengan yang diinginkan,” tukas Syaiful.
Hasil Panen Tembus Rp 50 Juta
Usaha dalam pertanian apabila maksimal maka hasil bisa lebih menguntungkan, apalagi jika harga jualnya yang tinggi.
Seperti tanaman cabai merah besar yang saat ini harga di tingkat petani Rp 30 ribu setiap satu kilogram.
Seperti halnya warga Desa Pademawu Timur, Kecamatan Pademawu, Pamekasan Syaiful Hidayat yang dalam sehari bisa memanen antara setengah sampai satu kuintal cabai merah besar. Hingga kemarin dia sudah memanen 25 kali sejak kali pertama berbuah.
”Alhamdulillah, semuanya patut disyukuri. Hasil jerih payah juga soalnya,” katanya.
Untuk pemasarannya bisa sampai Surabaya yang diborong tengkulak dari berbagai wilayah di Pamekasan. Sehingga, dia tidak perlu susah-susah menjual dan menjajakan di pasar.
Modal awal Rp 15 juta. Hasil yang didapat kurang lebih Rp 30 juta. Pendapatan yang diperoleh diperkirakan sudah Rp 50 juta dari hasil tanaman cabai merah besar milik Syaiful ini.
”Kalau ditotal nanti sekitar Rp 50 juta, iya syukurnya bisa balik modal,” terangnya.
Dia menyampaikan, meskipun seperti itu, Syaiful juga membagikan hasil tanaman cabai merahnya dengan warga. Sebab, dia meminta tiga orang pekerja untuk membantu memanen.
Pria yang juga Kepala BPP Proppo ini tentu sangat berpengalaman perihal tanaman.
Dia selalu siap apabila ada warga yang hendak konsultasi tanpa dipungut biaya sepeser pun.
”Dari hasil tanam sudah sangat alhamdulillah. Tentu dalam menyalurkan ilmu tidak perlu sampai memungut bayaran, sambil lalu beramal dengan ilmu yang kita miliki,” pungkasnya. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti