Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Lestarikan Warisan Nenek Moyang Madura, Warga Jungcangcang, Pamekasan Produksi Jamu, Kebanyakan Peminat dari Luar karena Terkenal Manjur

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 21 Januari 2024 | 16:33 WIB
PRODUKTIF: Imam Suhairi menunjukkan jamu racikannya di Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, Sabtu (6/1). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)
PRODUKTIF: Imam Suhairi menunjukkan jamu racikannya di Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, Sabtu (6/1). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Heri menekuni usaha jamu sejak 1980. Sebenarnya Heri tidak memiliki keahlian untuk membuat jamu. Namun karena istrinya hidup di keluarga penjual jamu, akhirnya mencoba secara otodidak membuat jamu.

”Bermodal ingatan sejak masih bersama neneknya dulu sering ikut jualan jamu, istri mencoba meracik jamu sendiri mengingat-ingat cara membuat jamu yang pernah dibuat neneknya,” kenang Heri.

Meski bermodal ingatan, Sumiati bisa membuat jamu sesuai dengan yang dibuat neneknya dulu. Sehingga, dicoba untuk dijual ke pasar tradisional. ”Alhamdulillah, banyak yang meminati. Bahkan, masih tetap bertahan sampai sekarang,” ujarnya.

Warga Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Pamekasan, itu menerangkan, jamu buatannya saat ini dijual ke pasar dan dijual via WhatsApp. Pelanggan jamu pasangan ini tidak hanya warga Madura. Jamu dari Kota Gerbang Salam ini juga diminati warga Jakarta, Bandung, Malang, Batam, dan Banten.

”Kebanyakan peminatnya yang dari luar Madura karena khasiatnya dikenal sangat manjur,” terangnya.

Jamu buatan Heri dan Sumiati bermacam-macam. Ada jamu sehat lelaki, galian rapet, galian singset, jamu bengkes, pegal linu, beras kencur, asam urat, selokarang, dan jamu kuat laki-laki. Jamu-jamu itu berbentuk cair, serbuk, dan pelintiran.

BAHAN BAKU: Imam Suhairi menunjukkan bahan alami untuk membuat jamu di Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, Sabtu (6/1). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)
BAHAN BAKU: Imam Suhairi menunjukkan bahan alami untuk membuat jamu di Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, Sabtu (6/1). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)

Bapak tiga anak itu menerangkan, harga jamu buatannya beragam. Paling murah dibanderol Rp 30 ribu per 50 gram. Sedangkan yang paling mahal 1 kilogram Rp 500 ribu. ”Lumayan dalam sehari kami memperoleh omzet Rp 1.250.000. Sebulan bisa tembus Rp 30 juta,” terangnya.

Heri menekuni usaha jamu untuk melestarikan warisan nenek moyang Madura. Sebab, jamu Madura sangat dikenal di luar Madura, meski di Madura masih minim. Heri ingin menepis mindset anak muda jamu itu pahit. Padahal, meskipun pahit, khasiatnya bagus untuk kesehatan badan.

”Kami terus mengupayakan agar anak muda tertarik minum jamu agar tidak selalu mengonsumsi obat-obatan saat sakit,” terangnya.

Dia menambahkan, dalam menekuni usaha, konsep yang dipegangnya yakni doa, usaha, istikamah dan tawakal (DUIT). Sebab, dalam setiap usaha pasti ada tantangan dan cobaan yang mesti dilalui. (bai/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

 

Editor : Hera Marylia Damayanti
#usaha jamu #jamu Madura #Kelurahan Jungcangcang #meracik jamu #melestarikan warisan nenek moyang #jamu