PAMEKASAN, RadarMadura.id – Aktivitas berkebun menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi sebagian orang. Terlebih apabila tanaman yang tumbuh berkualitas unggul di pasaran. Tanaman terong yang biasa menjadi beberapa menu makanan juga bisa tumbuh subur di Pamekasan.
Jawa Pos Radar Madura menemui seorang petani di Jalan Raya Nyalaran, Kelurahan Kowel, Pamekasan, Jumat (10/11). Petani itu sedang merawat tenaman terong ungu di lahan yang jaraknya berkisar 300 meter dari jalan raya.
JPRM memarkirkan motor di tepi jalan dekat lahan yang ditanami terong itu. ”Ini sedang membersihkan rumput biar tidak mengganggu,” kata Satramin, warga Kelurahan Kolpajung, Pamekasan.
Dia sudah dua tahun mencoba menanam terong ungu di lahan yang dikelola keluarganya tersebut. Kali ini ada sekitar 2.800 bibit yang dia rawat di lahan itu. ”Ini yang masih kecil ada dua ribu bibit, yang sudah berbuah ada 800 bibit,” katanya.
Keunggulan kualitas tanaman terongnya yang selalu dia jaga. Dengan meningkatkan perawatan dan pemberian pupuk yang memiliki kualitas unggulan. Dia tidak pernah memikirkan hasil karena kualitas yang menjadi utama.
”Saya memang berbeda dengan petani yang lain, kalau saya tidak pernah memikirkan hasil, tapi kualitas. Jika kualitas bagus, hasilnya juga ikut tinggi,” ungkap Satramin.
Bibit terong ungu milik Satramin diperoleh dari Kelurahan Kangenan. Waktu panen hanya membutuhkan dua bulan. Mulai dari bibit sampai berbunga membutuhkan waktu satu bulan, sehingga dalam jangka waktu dua bulan, terong ungu milik Satramin sudah siap panen.
Satramin mengungkapkan, kunci dari hasil bagus pada terong ungunya tersebut ada pada pemberian air dan pupuk. Pupuk pertama yang digunakan jenis ZK. Kemudian phonska. Jika sudah mulai berbunga, dia berikan pupuk tawon boost.
”Itu semua harga pupuknya termasuk mahal. Untuk obat perangsang menggunakan bioka, kalau untuk organiknya sendiri saya menggunakan abu kayu bakar,” jelasnya.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Madura (Unira) Moh. Zali mengatakan, tanaman terong cocok di daerah beriklim tropis. Kemudian, bisa tumbuh di dataran rendah hingga tinggi mencapai 1.200 meter dari permukaan laut (MDPL). Juga cocok pada tanah lempung, lempung berpasir, dan berhumus yang mengandung unsur hara.
”Jarak tanamnya itu sekitar 4–5 sentimeter saja. Kalau sudah berbuah, itu pinggirannya dikasih bambu sebagai tumpuan,” tandasnya.
Raup Untung hingga Jutaan Rupiah
Penghasilan bisa didapatkan dari mana saja, termasuk bertani. Satramin memilih menjadi petani dan meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai sopir. Sebab, bagi warga Kelurahan Kolpajung, Pamekasan, itu penghasilan bercocok tanam lebih menggiurkan.
Sudah dua tahun Satramin memutuskan untuk bergelut di dunia pertanian. Selain karena menguntungkan, dia juga ingin menghabiskan masa tua melalui berkebun yang dianggapnya lebih produktif.
”Kalau sopir itu, pagi berangkat kemudian siang pulang, lalu tidak ada kerjaan. Kalau bertani itu lebih sehat, ada saja kegiatan saya di lahan yang dulunya tidak terawat ini,” ungkapnya.
Setiap hari ada 100 terong ungu yang dipanen dengan keuntungan Rp 100 ribu. Terong-terong itu dia jual per buah, bukan per kilogram atau ton. Sebab, keuntungan yang didapat lebih jelas.
Selama Ramadan lalu dia mendapatkan keuntungan Rp 6 juta. Selama sebulan itu dia menjual terong kepada para pengepul di Pamekasan. ”Kalau yang memasarkan itu anak saya, para pengepul dari Pasar Kolpajung, Blumbungan, Pasar 17 Agustus juga ada,” ucapnya.
Satramin tidak pernah main-main pada tanaman terong yang dia geluti. Dengan mengutamakan kualitas, dipercaya mendatangkan keuntungan berlipat. Tanaman yang mempunyai nama ilmiah solanum melongena ini memang banyak peminat. Sehingga, Satramin tidak susah mencari pasar.
”Kadang saya juga menanam bawang dan selanjutnya mungkin mau cari tanaman lain. Intinya jangan pernah berhenti belajar,” tegasnya. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti