Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Penasihat Terbaik

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 2 Maret 2025 | 22:55 WIB
Ilustrasi cerpen
Ilustrasi cerpen

Cerpen NADIA YASMIN DINI*

 

SELEPAS pulang sekolah, aku langsung pergi menemui Rudi. Di kepalaku sudah tersimpan banyak sekali cerita, yang tak sabar aku bagikan pada Rudi. Rudi itu kawanku. Usia kami terpaut empat puluh delapan tahun. Meski begitu, aku nyaman berada di dekat Rudi. Dia selalu mendengarkan semua ceritaku dan tak jarang juga memberikan aku sebuah nasihat. Bagiku, Rudi adalah penasihat terbaik di kampung ini.

”Bian dan teman-temannya kembali mengganggumu hari ini?” tanya Rudi saat dia melihat permen karet di rambutku. Aku menganggukkan kepala dan tanpa sadar telah mengeluarkan air mata. Melihat itu, Rudi langsung mengelus-elus pucuk kepalaku. ”Sudah, sudah. Jangan menangis, Nak. Biar kubantu melepaskan permen karet itu dari rambutmu. Kamu tunggu dulu di sini.” Rudi menyuruhku untuk duduk di sebuah lincak yang berada di depan rumahnya. Sementara, dia pergi masuk ke dalam.

Tak lama kemudian, Rudi datang sambil membawa gunting di tangannya. Dia lalu memotong sedikit rambutku yang terkena permen karet.

”Kalau ketahuan ibu bagaimana?”

”Tidak akan. Aku hanya memotong sedikit. Ibumu tak akan menyadarinya.” Rudi duduk di sampingku dan menatapku dengan pandangan iba. ”Mau sampai kapan terus begini? Seharusnya kamu melaporkan anak-anak nakal itu pada ibumu,” ujar Rudi.

Aku menggelengkan kepala. Rudi mungkin tidak tahu, kalau sebenarnya aku sudah pernah melaporkan perilaku buruk Bian dan teman-temannya pada ibuku. Namun ternyata, respons ibuku jauh dari bayanganku. Ibu justru memarahiku habis-habisan dan membela Bian hanya karena Bian adalah anak dari majikannya. Karena itu, aku tak pernah cerita apa pun lagi soal Bian dan teman-temannya pada ibuku dan lebih memilih bercerita pada dirinya saja. Pada Rudi aku bisa menceritakan semuanya tanpa harus takut disalahkan. Rudi tak pernah tahu soal ini karena aku memilih untuk tidak memberitahunya.

Aku menggeleng merespons perkataan Rudi barusan. ”Aku tidak mau sekolah saja besok.” Aku menatap Rudi. Rudi lalu mengusap air mataku dengan lembut.

”Jangan terus lari dari masalah. Hadapi dan selesaikanlah masalah itu. Jangan pernah jadi orang yang pengecut.”

”Terus aku harus bagaimana?”

”Lawan mereka. Sudah cukup kamu diam selama ini. Saatnya, kamu berubah sekarang. Karena semakin kamu diam, semakin kurang ajar mereka.”

Aku tersenyum. Rudi pun ikut tersenyum.

”Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang, kamu pulang dan ganti bajumu. Nanti orang tuamu kebingungan mencarimu.” Aku mengangguk lalu bangkit dari dudukku. Saat aku hendak pergi, tangan Rudi tiba-tiba mencegahku. ”Ingat nasihatku tadi. Jangan pernah jadi orang yang pengecut, yang terus lari dari masalah,” ucap Rudi. Aku mengangguk yakin.

***

Sejujurnya, aku bingung dengan orang-orang yang terus membicarakan hal-hal buruk tentang Rudi. Waktu itu, aku tak sengaja mendengar pembicaraan antara ibu-ibu kampung dengan ibuku di depan rumah. Mereka sedang membicarakan tentang keburukan Rudi saat itu. Bukan rahasia umum lagi, jika rumahku itu kerap dijadikan sebagai tempat gosip ibu-ibu di kampung.

Bu Siti lebih dulu membuka percakapan, dengan mengatakan bahwa dahulu Rudi sempat menghamili seorang perempuan di luar nikah. Perempuan itu adalah teman kuliah Rudi. Mereka saling jatuh cinta dan terbuai dengan perasaan masing-masing, hingga menyebabkan mereka nekat melakukan hal yang dilarang oleh agama. Saat si perempuan itu hamil dan minta pertanggungjawaban, Rudi malah menghilang dari kampung. Tak ada satu pun orang yang tahu di mana keberadaan Rudi saat itu. Dia seperti lenyap ditelan bumi. Saat itu, banyak warga kampung yang menduga bahwa Rudi ingin lari dari masalah dan tanggung jawabnya. Karena setelah si perempuan itu memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain, tak lama kemudian Rudi kembali.

Bu Aminah menambahkan, jika dahulu Rudi juga sering bolos kuliah. Hal itu karena Rudi sering lupa mengerjakan tugas dan takut dimarahi oleh dosennya. Itu sebabnya, Rudi memilih untuk lari dari masalah dengan tidak masuk kuliah. Kebiasaan buruk Rudi ini ternyata sudah ada sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu, Rudi juga sering tidak masuk sekolah lantaran takut dimarahi oleh gurunya sebab dia belum mengerjakan PR.

Aku juga sempat mendengar dari ibu, bahwa dahulu Rudi sempat menabrak seseorang saat dalam perjalanan pulang. Waktu itu, kalau tidak salah Rudi menabrak seorang remaja laki-laki hingga menyebabkan kaki remaja tersebut menjadi patah dan tak sadarkan diri. Karena takut diamuk oleh massa, akhirnya Rudi memilih untuk melarikan diri. Meskipun beberapa hari setelah itu, polisi datang ke rumah Rudi untuk menangkap dan memenjarakannya selama beberapa tahun.

Karena itu, ibu dulu memintaku untuk jangan pernah bermain atau dekat-dekat lagi dengan Rudi. Aku masih ingat, saat itu ibu mengatakan, ”Jauhi Rudi. Dia bukan orang yang baik. Rudi adalah orang yang selalu lari dari masalah. Kalau kamu masih dekat-dekat dengan Rudi lalu terjadi sesuatu dengan kamu, mungkin dia juga akan lari.”

Meski begitu, aku tak pernah menjauhi Rudi. Karena, aku tak pernah percaya dengan semua cerita-cerita itu. Bagiku, semua cerita itu bohong. Rudi tak mungkin seperti itu. Dia tak mungkin lari dari masalah. Bukankah dia sendiri yang menasihatiku untuk jangan pernah lari dari masalah?

***

Bian dan teman-temannya kembali menggangguku pagi ini. Mereka tiba-tiba masuk ke dalam kelasku dan mengacak-acak buku pelajaranku. Aku ingin sekali menangis dan lari ke kamar mandi. Tetapi, kemudian aku kembali teringat dengan nasihat Rudi waktu itu. Katanya, aku tak boleh terus lari dari masalah. Aku harus menghadapi masalah itu. Aku harus melawan mereka sekarang.

Saat Bian hendak menyiramkan es teh itu ke seragamku, buru-buru aku mengambil alih es teh tersebut dari tangan Bian dan berbalik menyiramkannya ke seragam Bian. Kedua temannya hendak maju membela Bian dan menyerangku, tetapi aku sudah lebih dulu menginjak kaki mereka hingga membuat mereka meringis kesakitan. Saat mereka sibuk sendiri, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk lari dari mereka dan pergi ke ruang guru. Aku melaporkan Bian dan juga teman-temannya pada kepala sekolah. Saat itu juga, kepala sekolah segera menjatuhkan hukuman pada mereka. Sungguh, aku sudah tak peduli lagi dengan status Bian yang merupakan anak dari majikan ibuku.

Aku pun pulang dalam keadaan suasana hati yang bahagia. Aku tak sabar ingin segera membagikan ceritaku ini pada Rudi. Dia pasti sangat senang mengetahui temannya ini sudah berani menghadapi masalahnya sekarang.

Tetapi, ketika aku sampai di depan rumah Rudi, ada banyak sekali orang di sana. Kulihat seorang laki-laki paruh baya tengah memaki-maki Rudi di barisan paling depan. Hingga kemudian, pandanganku jatuh pada ibuku yang ternyata juga berada di antara kerumunan itu. Ibuku terkejut melihat kehadiranku di sana.

”Untuk apa kemari?” tanya ibu heran. Aku malah berbalik tanya. ”Ada apa ini? Siapa laki-laki yang marah-marah di depan rumah Rudi itu? Dan, ke mana Rudi?”

”Laki-laki itu datang untuk menagih hutang pada Rudi. Tetapi sepertinya, Rudi sudah melarikan diri. Selama ini kan dia selalu lari dari masalah,” jawab ibu.

”Tidak mungkin Rudi melarikan diri. Dia pasti akan kembali,” ucapku yakin. Mungkin saja, Rudi sedang ada urusan penting di luar sana. Itu sebabnya, dia tak ada di rumah. Tetapi, dia pasti akan kembali untuk menyelesaikan masalahnya. Ya, aku yakin itu.

Setiap pulang sekolah, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Rudi dan berharap dia sudah kembali. Tetapi, bulan sudah berganti dan dia tak kunjung kembali. Bahkan, sudah bertahun-tahun lebih dia belum juga menunjukkan batang hidungnya di kampung ini. Apakah benar kata orang, bahwa Rudi pergi karena ingin melarikan diri dari masalah utangnya?

Kalau memang itu semua benar, satu hal yang dapat aku simpulkan sekaligus aku ambil pelajaran, bahwa manusia memang paling pintar kalau disuruh menasihati orang lain. Tetapi, mereka sering kali lupa untuk menasihati diri mereka sendiri. (*)

*)Mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#lari dari masalah #Bercerita #penasihat terbaik #melarikan diri #aku #menasihati #Cerita #rudi #nasihat