Cerpen A. MOENDZIER*
MALAM yang dihiasi bintang, bulan bersinar malu menyinari jalan setapak tempat aku berkarya. Cat, kuas, serta kanvas sudah kusisipkan di balik malam yang indah ini.
Aku menata langkah satu per satu demi sebuah kesempurnaan, deretan rumah warga yang persegi beratapkan daun kelapa membuat hasrat seniku meronta-ronta, beralun-pelan kicauan jangkrik menemaniku berkarya, untuk menciptakan karya seni terbaik yang pernah dicatat sejarah.
Malam ini, aku memulai berkarya, mengendap-endap hingga berhasil masuk ke dalam toko bir tua yang sudah tutup ini. Sengaja aku jadikan subuh waktu aku beraksi, karena mereka hanya buka sampai tengah malam. Tak sulit untukku menyusup ke dalam, karena lagi-lagi pintunya tak mereka kunci, entah lupa atau mereka teledor.
Aku masuk melalui pintu belakang yang langsung menuju dapur, tempat para koki itu memasak dan membuat bir. Tak ada pegawai di sini karena memang mereka pulang ketika kafe mereka tutup. Lampu dapur tetap dibiarkan menyala, sedang lampu tempat para pengunjung dibiarkan gelap, hanya sedikit cahaya dari sorotan lampu dapur.
Cukup menguntungkan, kataku. Apalagi tempat ini sangat sepi karena memang tak ada satu pun orang yang menjaga, meski entah mengapa instingku menolak kalau kafe ini sepi. Seakan sepasang mata tengah mengawasi gerak-gerikku.
Satu per satu aku mulai membuka lemari yang ada di bawah meja, mencari dengan teliti, namun nihil. Di sana hanya kudapati tikus berkeliaran mencari sisa-sisa makanan. Setelah kuubrak-abrik seluruh dapur sempit ini, terdapat lantai yang seakan bisa dibuka. Rantai dan gembok menutupnya dengan rapat. Aku butuh barang yang lumayan tajam untuk membobolnya karena peralatan yang biasa kupakai sudah karatan dan hampir patah.
Setelah sekilas kulihat sebilah kapak tergantung berjejer, yang biasa mereka pakai untuk memotong daging sapi, dengan sedikit berjinjit kuraih kapak itu, karena tubuhku yang terlalu pendek atau mereka saja yang terlalu tinggi. Suara kapak yang berbenturan menimbulkan suara yang sedikit keras, hingga akhirnya dengan susah payah aku berhasil membuka lantai itu, aku dibuat terkejut karena barang itu memang berada di sana. Hanya selembar kertas yang berada di dalam botol bir bening.
Tanpa berpikir panjang, kuambil lantas buru-buru keluar dari dapur itu. Kesenanganku tak bertahan lama, kakek tua bertongkat berpakaian compang-camping berdiri tepat di depanku. Aku sempat menatapnya, angin bertiup mengembuskan dedaunan. Waktu yang sangat singkat namun juga begitu sunyi. Meskipun pada akhirnya aku memilih kabur terbirit-birit, kakek itu tetap di depan pintu yang tadi, ia tak memburuku.
Dengan napas terengah-engah. Akhirnya aku sampai di rumah. Namun bukan hanya aku yang sampai, kakek itu berdiri di depan pintu lagi, sekarang bukan pintu kafe itu, melainkan ia berdiri di depan rumahku, tetap dengan tongkat dan bajunya yang compang-camping berkibar diembus angin. Tatapannya sangat dingin seraya melihat ke bawah.
”Sini, Nak,” ucapnya.
Yang membuat tubuhku bergerak sendiri dan tak bisa kukendalikan. Kini aku benar-benar berada di hadapannya.
”Apakah kau sudah puas dengan permainanmu?”
Sontak, tubuhku mematung, mulutku pun membisu tak bisa bicara. Dia bukan manusia biasa pikirku.
”Nak, mungkin kau tak mengerti, kakek di sini ditugaskan untuk menjemputmu,” kakek itu bicara seakan tahu segalanya.
”Kau sekarang sedang mengalami koma dan tubuh aslimu terbaring lemas tak berdaya.”
”Tanganmu diborgol serta beberapa polisi berjaga di sampingmu. Di sini kau hanya bermimpi. Ini hanyalah mimpi panjangmu. Kau adalah ketua dari komplotan pembunuh bayaran yang terkenal dingin, bahkan aparat akan memberi uang miliaran bagi orang yang bisa menangkapmu, tak ada orang yang berani menentangmu, setiap orang yang kau target pasti sudah berhadapan dengan mautnya,” kakek itu berhenti, entah harus aku percaya atau tidak.
”Namun malangnya dirimu. Pada akhirnya kau tertangkap karena pingsan terkapar, lantas terkena bola yang sedang anak-anak mainkan di taman, kau terpati-pati setelah membunuh targetmu. Hingga akhirnya, orang tua anak itu melaporkanmu ke polisi. Barang kali di sini kau merasa hanya beberapa minggu, namun kau sudah koma selama dua belas tahun.”
Aku hanya terdiam tak percaya, tubuhku dingin seakan takut kakek itu benar.
”Dewa memberimu waktu untuk memperbaiki kesalahanmu, namun nyatanya kau hanya bermain dengan nafsumu. Dan sudah saatnya aku membawamu kembali ke tempat yang seharusnya kau berada.”
Mulutku tetap bisu, badanku seakan beku tak bisa bergerak. Hingga akhirnya, kakek itu membawaku memasuki rumah yang setelah ia buka pintunya, aku hanya melihat cahaya terang benderang terpancar dari dalam pintu. Aku sangat jelas melihat kakek itu, tangannya yang lancip dengan mata biru yang indah. (*)
*)Alumnus Al-Huda II Gaptim, Sumenep
Editor : Ina Herdiyana