Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kiai AS*

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 22 September 2024 | 13:20 WIB
Ilustrasi cerpen Kiai AS oleh M. Syahirul Ezzy
Ilustrasi cerpen Kiai AS oleh M. Syahirul Ezzy

Cerpen M. SYAHIRUL EZZY**

 

SENJA kembali merona di antara hamparan langit biru yang tak berujung setelah matahari mulai berkemas meninggalkan hari. Sementara malam menanti dengan sabar tuk menemani kegelapan. Meski malam hampir menjelma, tak ada satu warga pun yang berani menyalakan obor atau lampu gas rumahnya di kampung kecil itu, membiarkan malam memeluk mereka dalam keremangan yang misterius.

Sudah enam bulan berlalu sejak para tentara Belanda itu kembali masuk ke kampung-kampung dan melarang seluruh aktivitas malam hingga satu lampu pun dilarang untuk dihidupkan. Desingan peluru dan senapan tak hanya sesekali terdengar di antara bisikan udara dan tarian daun-daun, meski hanya samar-samar dari kejauhan, membuat malam-malam yang mencekam.

”Cepat tutup pintu, Rahim. Kita tidak mau orang Belanda itu kembali berseliweran ke sini seperti minggu lalu,” desis seorang perempuan tua dari dalam rumah kayu, suaranya penuh ketegangan. Di ambang pintu, seorang remaja laki-laki, berpakaian kaus usang dan sarung lantas segera menarik pintu kayu itu dengan rapat dan menguncinya. Bayangan kejadian mengerikan seminggu yang lalu masih menyisakan jejak di ingatan mereka, saat para tentara datang ke rumah-rumah penduduk dan memaksa memberitahukan lokasi Kiai AS mengungsi.

”Katakan, di mana Kiai AS bersembunyi, kau pasti tahu, cepat katakan di mana dia!” desak seorang tentara Belanda dengan nada mengancam, sembari mengarahkan moncong senapannya kepada perempuan paruh baya yang tengah duduk di sebuah kursi di sudut ruangan, setelah dia mendobrak pintu rumah tanpa ampun. Perempuan itu menatap mata tentara dengan penuh ketegangan, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

”Tidak tahu,” perempuan itu akhirnya menjawab gemetar dengan suara lemah, tubuhnya terguncang melihat serdadu Belanda dengan wajah garang dan seragam hijau kehitaman yang bersih dan rapi. Kontras dengan penampilan dirinya yang kusam nan lusuh. Belum selesai perempuan dengan kebaya itu terkejut dan ketakutan, tentara Belanda itu tiba-tiba melemparkan barang-barang di sekeliling ruangan, menciptakan kekacauan yang tak terduga.

Seketika rumah kayu dengan dinding anyaman bambu yang sebelumnya memang tak pernah terlihat rapi dibuat makin berantakan oleh tentara itu. Melihat perbuatan kasar tentara, sontak perempuan itu langsung berlutut dan berusaha melindungi kepalanya dengan dua tangan kurus yang mengeriput.

”Awas saja kau!” bentak serdadu itu setelah dia puas mengobrak-abrik barang-barang di dalam rumah kayu tersebut. Lalu pergi dengan wajah marah tak karuan bersama para tentara lain di luar tanpa membawa apa pun dari rumah itu karena memang sudah tak tersisa lagi barang berharga di dalamnya. Perempuan paruh baya itu lalu berdiri dengan wajah pucat, mengintip dari jendela, menyaksikan tentara Belanda yang sudah menjauh. Lalu segera mengunci pintu depan, merasa lega bahwa ancaman itu telah berlalu meski tak ada kepastian mereka tak akan kembali lagi.

Saat pintu tertutup rapat, seorang remaja lelaki datang dari pintu belakang, membawa dua singkong yang entah dia dapat dari mana. ”Astaghfirullah, Mak tidak apa-apa!? Tentara itu datang lagi, Mak?” tanyanya, matanya terbelalak ketika melihat rumahnya sudah berantakan. Dua singkong yang dia bawa tadi segera terlupakan dan dibiarkan tergeletak begitu saja. Dalam hatinya, anak itu selalu mengutuk tentara-tentara itu.

Perempuan itu menghela napas dan menatap anaknya dengan pandangan tajam, berusaha menutupi ketakutan yang merayap di dalam dirinya. ”Rahim, kita beri tahu saja di mana Kiai AS mengungsi. Para tentara itu menjanjikan imbalan yang besar jika kita memberi tahu...”

Baca Juga: Rina

”Demi Allah, tidak, Mak!” Rahim memotong tegas. ”Mak tidak ingatkah ketika Mak sakit? Beliau yang datang menjenguk, Mak! Sudah terlalu banyak beliau berbuat baik kepada warga-warga di sini, kita tidak bisa mengkhianatinya.”

”Tapi kita sudah tak punya apa-apa lagi, Nak,” perempuan itu menatap anaknya dengan penuh belas kasihan namun juga keputusasaan.

”Lebih baik aku mati, Mak!” sergah Rahim mengakhiri pembicaraan itu.

***

Sudah hampir empat bulan Rahim dan para santri dipulangkan dari pesantren karena situasi yang semakin mencekam. Pulau kecil tempat Rahim tinggal tak luput dari agresi militer Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia pasca-kemerdekaan dan menjadikan pulau itu sebagai negara boneka.

Kiai AS, pengasuh pesantren tempat Rahim mondok sekaligus kepala desa waktu itu, langsung mengajak para warga bergabung ke Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah, yang terdiri dari barisan santri-ulama untuk membela tanah air dan mengusir para tentara laknat. Dengan strategi gerilya, menyerang secara sembunyi-sembunyi dan berpindah tempat, mereka pun berjuang meski hanya dengan persediaan senjata yanng minim.

Pertempuran demi pertempuran meletus, hingga akhirnya kedua laskar tersebut dipukul mundur oleh pihak musuh karena lebih solid dan terorganisasi dengan rapi. Pesantren tempat Rahim belajar yang saat itu telah menjadi markas pertemuan dan pelatihan pasukan, terpaksa dikosongkan. Para santri dipulangkan, sedang Kiai AS juga mengungsi ke sebuah desa yang cukup jauh, karena Belanda ingin pergi ke pesantren untuk menangkap Kiai AS yang menjadi episentrum pertempuran. Dalam situasi yang semakin tegang, langkah pengungsian menjadi pilihan terbaik untuk menyelamatkan nyawa dan memastikan kelangsungan perjuangan demi mempertahankan kemerdekaan.

Meski Rahim baru satu setengah tahun mondok, dia sudah mengenal Kiai AS sejak kecil. Lagi pula di kampung ini siapa yang tidak kenal dengannya. Dia adalah sosok yang sangat dekat dengan masyarakat. Sering kali Kiai AS menyempatkan diri pergi ke rumah penduduk untuk memberi sumbangan, meski hanya berupa doa. Karenanya, saat beliau dicalonkan menjadi kepala desa, para warga langsung mendukung beliau. Terlebih saat ada warga yang sakit, beliau langsung segera mengunjungi dan mendoakannya. Bahkan, rumah Rahim yang berada di ujung kampung pun tak lepas dari kunjungan beliau.

Adalah bapak Rahim yang berwasiat agar Rahim dimondokkan di pesantren Kiai AS sebelum dia meninggal sebelas tahun lalu karena serangan jantung. Sebagai harapan Rahim bisa menjadi penerus yang lebih baik dengan ilmu pengetahuan. Sebab, di pesantren itulah satu-satunya tempat untuk mencapai harapan.

Setelah kematian bapaknya, Rahim tinggal berdua bersama emaknya. Hidup mereka semakin melarat, makan terkadang bisa tiga hari sekali. Itu pun hanya singkong dan sisa beras yang harus mereka setorkan pada Belanda. Mau berutang tak bisa, karena mereka tahu warga lain juga tak jauh berbeda. Saat Rahim mondok, tak jarang emaknya lambat mengirim biaya. Dia hidup dengan mengandalkan upah kecil dari warga sekitar dengan membantu pekerjaan. Meski begitu, Rahim tak mengeluh karena dia ingin menjadi seperti panutannya.

Meski bapak Rahim tak berwasiat, Rahim memang sudah lama memendam tekad untuk mengemban ilmu di pesantren itu. Hal ini sebab keterpukauan Rahim kepada tekad serta keberanian Kiai untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Meskipun para penjajah menghalangi, tak ada yang bisa memadamkan semangat beliau.

”Hei, katakan, jika Belanda mampu padamkan cahaya bulan, niscaya aku akan tunduk,” ungkap Sang Kiai setelah diancam oleh para tentara Belanda untuk menghentikan kegiatan pengajian Al-Qur’an di pondok suatu malam pada masa pra-kemerdekaan. Tekad inilah yang membuat Rahim menjadikan Kiai AS sebagai sosok panutan dan ingin setidaknya menjadi santri yang berbakti.

***

”Rahim! Cepat buka pintu, Rahim!” teriak seorang remaja di depan rumah Rahim, sembari menggedor pintu kayu. Fajar belum juga menyingsing, enggan menyingkap tirai malam. Sekitar masih gelap, daun-daun basah sebab embun pagi. Rahim yang baru selesai menunaikan salat Subuh dengan emaknya di dalam rumah, cukup dikejutkan dengan suara gedoran. Tanpa ragu, ia segera melangkah menuju pintu depan dan membukanya.

”Kamil? Ada apa?” Rahim bertanya, heran melihat temannya tergesa-gesa mendatangi rumahnya. Napasnya masih tersengal-sengal setelah berlari setengah mati menuju rumah Rahim. Tubuhnya cukup berpeluh meski udara sekitar masih terasa begitu dingin.

”Cepat, kau ikut tidak?” tanya Kamil, sembari mengatur napas. Wajahnya tergambar penuh kegelisahan.

”Ke mana?” Rahim bertanya balik.

”Astaga, belum kau dengar? Kiai AS sudah wafat, para tentara membawanya ke markas mereka dan mengeksekusi beliau di sana, tadi malam ada yang mencari jenazah beliau dan berhasil membawanya kembali ke pondok. Beliau mau dikebumikan sebentar lagi,” terang Kamil, menceritakan kabar yang baru ia dengar dari warga lain, lalu segera menuju rumah Rahim untuk memberitahunya.

”Apa? Tapi bukankah beliau sudah mengungsi, bagaimana para tentara itu bisa menemukan Kiai?” Rahim memandang Kamil dengan kebingungan yang tak terelakkan, mencoba mencerna berita tragis yang baru saja ia dengar.

”Kiai kembali ke pondok, dari yang kudengar ada yang mengiriminya surat, berisi kabar palsu bahwa situasi di pondok sudah aman. Kemungkinan dari warga yang dipaksa dan dijanjikan imbalan oleh para tentara Belanda. Mengetahui kiai sudah kembali, mereka segera menyergap kiai di pondok, para warga yang tengah bertamu dan menyambut kiai di sana hendak melawan. Tapi beliau melarang, bersedia membiarkan dirinya dibawa tentara Belanda, dengan syarat para tentara tidak mengusik warga dan kampung ini lagi,” jelas Kamil sekali lagi.

”Kurang ajar, dasar tidak tahu diri. Belum cukupkah yang dilakukan kiai selama ini? Bisa-bisanya mereka tega menipu kiai,” Rahim memekik, wajahnya memerah oleh kemarahan dan kebingungan. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menyelimuti pemandangan sekitar, menambah kecemasan mereka.

”Sudahlah, ayo cepat, semoga kita masih sempat,” sahut Kamil, menarik lengan Rahim dengan cepat. Langkah mereka tergesa-gesa menuju pondok, terdengar pelan di atas jalan setapak di antara rumput yang masih segar di pagi hari. Langit mulai terang, tetapi suasana tetap tegang di sekitar mereka.

Dengan napas terengah-engah, mereka berusaha menggapai pondok, berharap masih bisa melihat tubuh kiai untuk terakhir kalinya sebelum alam mengambilnya. Sementara perasaan marah menyelimuti pikiran Rahim, kepada warga yang tega berbelot dengan tentara Belanda dan menipu kiai hanya karena dijanjikan imbalan oleh mereka.

***

”Terima kasih, perempuan tua. Kau cukup berguna,” ucap seorang tentara di daun pintu rumah Rahim, sembari tertawa terkekeh-kekeh setelah memberi sebuah karung kepada emak Rahim yang entah berisi apa. Tentara itu kemudian pergi sambil meneruskan tawanya.

Satu jam setelah Rahim mendapat kabar kematian kiai dan pergi menuju pondok, seorang tentara datang membawa karung ke rumahnya. Emak Rahim menatap karung yang tentara bawa, lalu berlutut. Air mata menetes membasahi pipi tuanya kemudian jatuh di atas karung di hadapannya. ”Maafkan emak, Rahim,” tangisnya menggema dalam udara pagi, merasa bersalah karena telah mengirim surat palsu kepada Kiai AS, sementara Rahim sedang berada di pondok untuk mengantar Kiai ke tempat terakhirnya. (*)

Kamis, 20 Juni 2024

 

*Cerpen ini dikembangkan dari kisah nyata pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee.

**Santri Rayon KH Ahmad Basyir AS PP Annuqayah Latee. Siswa SMA Annuqayah.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Tentara Belanda #pertempuran #rahim #Mak #serdadu belanda #pesantren #Kiai AS #santri