Cerpen RIZQI ALI MAHDI SAHID*
DALAM taman itu bunga-bunga bermekaran menghias bak keindahan bintang gemintang di gelap malam. Merpati dengan sayap mungil melanglang memecah ruang hampa. Bulunya selembut embun di pagi hari, sementara matanya seindah rembulan di pucuk malam.
Di balik ufuk timur, mentari menyambangi siang. Tepat di cakrawala sinar keemasan menelusup. Perlahan dengan sempurna mentari tampak tersenyum dengan sinar yang melimpah; menerangi jalan para petani menuju sawah; membangunkan seseorang di balik selimut; menyegarkan kembali tumbuhan setelah lama istirahat di gelap malam.
Tepat di bawah rindang pohon jati, seorang perempuan, Rina namanya, berumur seperempat abad, duduk diam menikmati keindahan pagi.
Tetesan air mata mengalir di pelupuk. Jiwa perempuan tersebut hancur juga tak jarang berteriak sembari sesekali sesenggukan, melemparkan kegelisahan serta kekecewaan di relung hati. Tak kuasa Rina menanggung kepedihan yang terjadi beberapa hari lalu. Ayah tercinta hendak menjual dirinya kepada dukun di desa tempat ia tinggal.
Kata dukun, keselamatan desa dari marabahaya dibayar gadis perawan setiap empat bulan sekali. Dijadikannya sebagai pemuas birahi lelaki di desa dalam sebuah pesta. Jarang yang selamat dari belenggu perilaku biadab budaya. Sering kali jeritan dan perlawanan dilakukan kaum ibu hendak menyelamatkan anaknya dari tangan tamak suami demi selembar uang. Terkadang, sesekali terjadi perlawaan nyaris melayangkan nyawa. Kami tidak terima dengan budaya biadab. Kami rela mati demi kehormatan. Laki-laki dan perempuan sama, hanya beda jenis kelamin semata.
Kini, Rina tengah berada di hutan belantara, sebagai tempat pelarian dari kejaran ayah. Beberapa hari tinggal di sana, serta merasa aman. Tiada perbekalan yang dibawa melainkan hanya sepasang pakaian. Saban hari dedaunan serta biji-bijian sedikit mengisi perut kosong dan aliran air sungai sebagai obat dahaga.
Begitulah Rina hidup. Menjalani hidup di tempat sepi. Tiada seorang pun menemani selain cucuran air mata duka. Hidup tiada arti ketika kembali ke desa berasal. Menetap juga menjalani hidup di hutan belantara, tak ada masalah, walau sedikit terpaksa, katanya.
Adakah dapat dilakukan selain menangisi nasib? Tiadakah masa muda lebih bahagia? Dapatkah mengukir jejak indah masa depan? Budaya di desa mencekik dirinya. Dibuatnya perempuan sebagai boneka pemuas hasrat semata seakan laki-laki lebih mulia serta memiliki martabat jauh lebih tinggi. Padahal, semua itu hanyalah egoisme pemuasan diri. Tiada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, hanya berada dalam jejak peradaban tanpa hati. Begitulah reformasi Nabi Muhammad Saw. Juga R.A. Kartini, sebagai penjunjung derajat perempuan.
Hanya sesekali Rina bertandang ke desa. Menelusup ke dapur, di samping rumah, mengambil bahan yang dapat dimakan lalu kembali ke hutan. Berulang kali ia melakukan hal tersebut saat tiada makanan hendak dimakan di sekitar hutan. Rina Bertekad melakukan demi sesuap makanan sekadar melanjutkan hidup. Berangkat waktu malam. Mengendap tanpa sepasang mata yang menyadari kehadiran dirinya. Sesekali mendengar isakan tangis ibu, namun ia tak dapat menemui. Bisakah Rina bertahan hidup dengan keadaan seperti ini?
Baca Juga: Ngaton
Keberanian bertekad hidup di tempat liar didorong demi menjaga harga diri semata. Tak kuasa menanggung rasa malu bila budaya merenggut kehormatannya. Rina rela berkorban hanya demi mempertahankan kehormatan semata. Iya, memang! Tak sepantasnya memberikan mutiara ke tangan seorang penghimpun dosa. Benar, lelaki di desanya adalah para pengabdi dosa. Tidakkah harus melawannya? Namun di luar kuasa dirinya. Tak tahu harus berbuat apa selain duduk seorang diri dengan tetesan air mata. Rina keluar dari buaian budaya biadab sembari mengutuk dengan tangis duka. Banyak gadis sebelumnya sebagai korban tanpa ada perlawanan.
Dalam benaknya terjadi pemberontakan. Hidup tidak adil. Hanya berpihak sebelah. Rina berpikir keras mencari jalan keluar dari permasalahan. Haruskah demontrasi terhadap desa sendiri? Tapi bagaimana caranya? Otakku tak berfungsi! Geramnya. Oh, tiada dapat diperbuat. Rina tak menemukan jalan solusi. Buntu! Akhirnya terlelap dengan buaian kesedihan di bawah rindang pohon jati.
#
LIMA minggu berada dalam hutan. Pohon jati setia menemani setiap jejakan waktu. Semilir angin dari segala penjuru menerpa keelokan wajahnya. Bambu-bambu dirajut juga dedaunan sebagai atap menjelma rumah sebagai pelindung. Dibangun tepat di bawah rindang pohon jati. Pohon penuh kenangan dalam sejarah hidup sejak bertandang ke hutan tersebut: tempat menjatuhkan kesedihan serta kepedihan yang menggantung dalam benak.
Sejak kesedihan dipikul, Rina berdiam diri di bawah limpahan naungan pohon jati. Mengingat biadab budaya menumbuhkan gejolak di hati. Harus beraksi demi kehormatan perempuan. Harus! Harus berpikir keras. Tumbuh ide pembantaian dalam benaknya. Beberapa hari kemudian, Rina pulang ke rumahnya di bawah atap gulita dengan lentera sabit. Tiada mata yang mengetahui geraknya. Beberapa barang dibawa ke dalam hutan. Belati berukuran 10 cm. Juga pakaian hitam, di antaranya.
Di suatu malam pekat, tak ada nyala lentera sedikit pun, hanya remang rembulan, Rina menyusup tanpa salam. Sebilah belati digenggam. Tapakan kaki perlahan menyambut maut sasaran. Waspada dengan sekitar. Tak ada sepasang mata yang melihat. Tak ada telinga yang mendengar. Sunyi. Sangat sunyi! Hanya terdengar dengkuran serta melodi kematian. Dengan sebilah belati di genggaman, berlindung di balik topeng, Rina iris urat nadi para lelaki bejat di desanya lalu menyumbat mulut mereka.
Darah mengucur dari urat nadi. Desa Karang Anyar diteror kematian. Keesokan hari saat mata terbuka kembali, tangis-jerit istri serta anak kesayangan melanglang menyesaki semesta. Mereka menyadari suami-ayah tengah tidak bernyawa. Malam Kamis Kliwon waktu malaikat maut bekerja. Memanen roh-roh para pengabdi dosa. Dicabutnya dengan kasar tanpa belas kasih. Para gadis desa selamat dari belenggu biadab. Desa Karang Anyar dirundung pilu.
Mengingat niat tindak Rina, dibilang orang baik sebab memperjuangkan kehormatan kaum perempuan. Sepantasnya disebut seorang pejuang. Seorang pahlawan dalam nilai kemanusiaan. Namun, mengetahui dampak perbuatannya, harus dipertimbangkan kembali.
Rina tengah kembali ke dalam hutan. Pakaian yang dikenakan serta belati di tangannya berlumur darah. Ia berhasil melakukan misinya. Namun, tak ada yang tahu nasib selanjutnya setelah tahu pelaku pembantaian adalah dirinya.
Kembalinya dari desa Rina merasa semua sudah aman. Tidak ada masalah lain yang akan menimpa dirinya. Ia masuk ke rumah bambunya sekadar merehatkan diri sejenak. Dilihat jam tangannya menunjukkan pukul setengah lima pagi. Fisik dan jiwanya lelah serta butuh istirahat. Ia lelap dalam kantuk berat. Sebelum tidur merapal doa keselamatan diri. Namun, apalah kuasa bila takdir bertindak lain. Rina mati setelah rumahnya kebakaran. Seseorang yang mengintai tindakan Rina tadi malam membakar rumah bambunya sebelum mentari menyingsing. (*)
*)Santri PP Annuqayah Latee Rayon K.H. Ahmad Basyir AS, calon mahasiswa Universitas Annuqayah.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti