Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Amala dan Sinar Kelabu di Tepi Pantai

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 17 Mei 2024 | 16:50 WIB
Ilustrasi cerpen Amala dan Sinar Kelabu di Tepi Pantai.
Ilustrasi cerpen Amala dan Sinar Kelabu di Tepi Pantai.

Oleh Dzikra Nasyaya Mahfudhah

 

AKU menemuinya di pelataran taman setelah menghadiri pengajian Ustad Ahmad, tepat pukul 9. Suasana malam yang hampir sunyi menyisakan suara jangkrik dan deburan ombak yang tenang. Malam ini sinar bulan begitu terangnya mengenai lensa mata, dengan kesiur angin sepoi-sepoi yang memunculkan hawa dingin yang menggerogoti suhu tubuhku, sampai Aku memutuskan untuk mengenakan dua lapis pakaian. Sembari menunggu, menghibur diri sendiri dengan bermain ayunan yang menggantung di ranting pohon mangga dekat bangku taman. Desa tempat kami tinggal memang terletak di ujung kota, dekat dengan alam. Bukit-bukit kecil hanya berjarak beberapa kilometer dari perumahan warga. Bisa dibayangkan betapa hijaunya petak-petak sawah dan jalanan sekitar. Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu datang menghampiri dengan wajah sedikit lesu.

“Tidak ada harapan, Nis,” ucap Amala, suaranya sedikit getir, namun memaksa kuat.

“Apa keputusannya, Mal?” tanyaku.

“Pak Kiai tidak menerima apa pun alasanku. Semuanya sudah setuju, termasuk kedua orang tuaku. Pun ketika aku memohon dengan bersujud. Dia tetap akan ke sini lusa dengan keluarganya.” Bendungan air matanya tak lagi kuasa menahan rintik bening di pelipis mata. Mulai turun setetes demi setetes. Namun ia tetap berusaha melanjutkan.

“Aku sudah cerita semua pada Pak Kiai, bahwa aku tidak suka kepadanya. Istikharah juga sudah kulakukan beberapa kali. Sekali lagi Nis, tidak ada harapan,” pecah sudah tangis Amala. Sendu terasa menyesakkan dada.

Aku berusaha mengerti perasaannya. Pasti sakit sekali,dipaksa hidup bersama orang tak dikenal, tidak diketahui pula sifatnya, kekurangannya. Tapi, siapa lagi yang akan menguatkan di kala kedua orang tuanya pun tak menampik keinginan Pak Kiai. Di lubuk hati, aku yakin kedua orang tuanya juga tak sampai hati melihat Amala seperti itu, namun apa daya, tradisi konservatif ini memang cukup menyebalkan. Tidak adil bagi perempuan. Ya, budaya ini masih sangat kental di desa kami. Walaupun bukan titisan pesantren, desa kami masih sangat menjunjung tinggi tokoh agama dan masyarakat. Pengambilan keputusan sangat bergantung pada beliau-beliau ini. Memang terkadang tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi, setidaknya hingga saat ini.

“Tidak ada salahnya jika kau coba mengenalnya dahulu Mal. Lusa, ketika lelaki itu sudah datang, kau bisa meminta untuk berdiskusi empat mata. Dari situ kau bisa menilai, apakah dia lelaki yang pantas menjadi imam rumah tangga di masa depanmu,” ujarku coba berpikir positif.

Amala lantas terdiam sejenak, mencerna saran yang mungkin sebenarnya tidak ia inginkan, tapi boleh dicoba.

“Baiklah, terima kasih, Nis,” jawabnya singkat, sambil memandangi lautan yang tenang dengan sinar rembulan yang sedikit pilu, mendung, persis seperti hati Amala.

“Sama-sama, Mal, seba..” belum sempat menyelesaikan, Amala berbicara lagi.

“Nis, apakah rembulan di atas langit yang sedang memperhatikan kita juga ikut mendoakanku lusa nanti? Jika iya, mungkin aku akan coba mengajak lelaki itu bertemu di sini,” ujar Amala sambil matanya menatap ke atas awan kebiruan. Apa maksud ucapan Amala? Aku masih berpikir cukup keras.

Ia meringis kecil, “Penghuni langit pun tahu, Nis, kalau yang ia lihat di bawah sana sedang bersedih. Terlebih, ia paling dekat dengan singgasana Tuhan. Nanti, ketika hasil pertemuanku dengannya tidak memberikan senyum semringah di wajahku, maka aku berdoa, sinarnya muncul lebih pekat, tanda ia hendak menghiburku,” ujar Amala berfilosofi.

Sementara deburan ombak tidak lagi terdengar, aku memutuskan untuk mengajaknya pulang untuk istirahat, sejenak melepaskan tumpukan pikiran kami malam ini.

*****

Hari itu tiba. Tidak ada perayaan apa-apa. Pun penyambutan di pintu. Semata-mata menghindari semua orang tahu. Namun, apa pun itu, Amala, yang merupakan seorang berprestasi, dengan paras yang elok dan lembut, siapalah yang bisa mengabaikannya. Kabar bahwa ia akan dikenalkan dengan seorang lelaki pilihan Pak Kiai sontak menjadi bahan pembicaraan seantero desa. Amala berusaha terus memalingkan pandangan jika telinganya mulai mendengar bisikan orang-orang di sekitar tentang dirinya.

Ada yang unik dari seorang perempuan campuran suku Bugis dan Jawa ini. Di jagat raya mana pun, bukankah menjadi perhatian banyak orang sangat diidam-idamkan bagi sebagian wanita? Dielu-elukan, dipuji, bahkan diandai-andaikan. Beribu mata ingin memandang, berharap dilirik untuk sekadar menjadi teman. Tapi, tidak bagi seorang Amala. Ia tidak seperti itu. Bahkan terkadang, dalam keramaian pasar sekalipun, ia merasa sepi. Ia selalu lebih nyaman berada di suasana hening.

Di hari itu juga, meskipun Amala tahu bahwa lelaki tersebut akan datang, penampilannya sangat sederhana. Hanya balutan gamis berwarna merah yang terjulur hingga mata kaki dan hijab panjang menutup dada. Ia pun hanya memakai liptint merah di tengah bibir hanya agar terlihat fresh dengan parfum berbau soft floral. Bayangkan, itu sudah cukup membuat orang di sekitar menoleh ketika ia lewat.

“Amala, ini lelaki yang hendak kukenalkan padamu. Namanya Firman. Ia sudah sarjana agama di perguruan tinggi di kota. Pekerjaannya saat ini fokus mengajar di suatu pesantren milik nenek moyangnya,” ucap Pak Kiai memulai pembicaraan.

Amala hanya terdiam mendengarkan. Wajahnya menunduk. Sekilas, ekor matanya melirik pada lelaki tersebut, ia tidak tahu apa yang bersemayam di pikirannya sendiri, tapi sejak awal, hati nuraninya menolak. Jika bisa, detik itu juga Amala ingin segera beranjak dari ruang pertemuan. Namun, ia teringat ucapan sahabatnya, untuk mencoba mengenal lelaki pilihan Pak Kiai tersebut, Firman. Barangkali selama ini pemikirannya salah.

Amala menarik napas, kemudian mulai mengucapkan apa yang telah ia diskusikan bersama Nisa tempo hari.

“Jika diperkenankan, izinkan kami berbincang empat mata.” Amala mencoba berbicara dengan nada tegas.

Pak Kiai bersama empat rombongan keluarga Firman menunjukkan wajah sedikit terkejut. Seketika hening.

“Baik Amala. Apakah kita bisa berbicara sekarang?” Amala tidak menyangka, Firman langsung mengiyakan permintaannya. Alur yang bagus, batin Amala.

“Ya, mari. Tapi aku akan mengajak sahabatku untuk melihat kita dari jauh agar menghindari fitnah.”

Beberapa menit berselang, aku sudah berada di tepi pantai, memperhatikan dua manusia itu berdiskusi, entah apa yang dibicarakan. Yang jelas, aku melihat mata Amala mulai berkaca-kaca. Dahinya berkerut. Ada apa? Sementara raut wajah si lelaki seperti biasa saja, bahkan cenderung merendahkan. Ah, seketika aku menepis segala pikiran negatif yang sejak tadi bersemayam. Aku harus mendengar langsung dari Amala, tidak hanya sekadar asumsi belaka.

Malam harinya, aku menunggu Amala bercerita. Kami sudah berjanji untuk bertemu di tempat biasa. Namun, ada yang aneh saat perempuan itu menghampiriku. Wajahnya memerah, lantas memelukku dan seketika menangis sesenggukan. Di tengah kebingungan, kubiarkan kepalanya jatuh di pundakku sejenak, melepas sedikit beban melalui linangan air mata yang sepertinya sudah terdesak keluar sejak tadi. 2 menit, 5 menit, ia masih terus terlelap dalam tangisnya. Saat kutanya ada apa, ia bahkan tidak sanggup menyelesaikan satu kata pun.

Selepas tangisannya mulai surut. Amala mulai memasang wajah serius dilengkapi dengan setitik amarah.

“Benar apa kata hatiku  Nis. Pun istikharahku. Dia bukan lelaki yang baik,” ucap Amala sambil mengusap sebagian air matanya yang masih menetes.

Aku menatapnya dalam-dalam, “Apa yang membuatmu berkata demikian, Mal? Sepertinya, saat kuperhatikan kalian tadi siang, dia tidak sama sekali memukulmu. Menyentuhmu pun tidak,” ujarku mengernyitkan dahi, ingin tahu apa yang terjadi.

“Saat aku baru saja menginjakkan kaki di hangatnya pasir pantai yang sejuk itu, dengan harapan aku bisa menepis segala pikiran negatif dalam diriku, rasanya seperti hilang begitu saja ketika ia berkata dengan mudahnya, bukannya kau sudah tahu dari Pak Kiai kalau aku akan datang bersama keluargaku? Kenapa kau tidak berdandan? Setidaknya memasang bedak.. atau perona pipi dan bibir? Apakah kau tidak punya uang untuk membelinya? Jika kau meminta, aku bisa memberimu sejumlah yang kau mau.” Amala tercekat untuk beberapa detik sebelum ia melanjutkan ceritanya.

“Aku ingat setiap jengkal kalimatnya, Nis, bagaimana ia mengucapkannya secara cuma-cuma. Dia kira aku manusia macam apa. Kita bahkan tidak mengenal satu sama lain. Apalah arti kekayaan, tidak bisa membuat seseorang menghargai sesama. Amala bercerita sambil kembali menangis. Raut wajahnya tidak bisa dibohongi, ia merasa terhina.

Mendengar ucapan lelaki sok itu (ya, kini aku memanggilnya sok) dari Amala, sontak aku terkejut. Amarahku hendak memuncak. Bagaimana bisa seorang tak dikenal dengan tiba-tiba menghina perempuan dengan hati tak berperasa itu. Apalagi sampai mengomentari fisik Amala yang semua orang bahkan tahu ia berparas ayu, meski tanpa embel-embel dandanan apa pun. Kulitnya putih bersih, pipinya merona merah seperti ditaburi buah beri di atasnya. Hidungnya mancung. Bulu matanya sangat lebat. Tahi lalat kecil hinggap di sisi kanan bawah bibirnya menambah kesan manis padanya. Namun, terlepas dari itu semua, Amala adalah gadis yang tidak hanya cantik, melainkan juga berprestasi. Ia sangat berbakat di bidang akademik. Di perguruan tinggi, ia mengambil jurusan sosial dengan nilai akhir yang sangat baik. Kemampuannya dalam beropini sangat dikagumi banyak orang. Apakah Firman sama sekali tidak melihat itu?

“Kau yakin dia bilang seperti itu, Mal?” Aku kembali meyakinkan Amala.

“Aku yakin, Nis. Telingaku mendengarnya jelas,” jawab Amala sambil terisak. Angin kepiluan mendarat jelas di jendela hatinya. Ombak seketika deras mengiringi kesedihan Amala kala itu, turut tak menyangka bahwa manusia sebaik Amala dipertemukan dengan lelaki macam Firman.

“Lalu, kau jawab apa perkataannya, Mal?” tanyaku. Aku yakin, Amala adalah gadis yang pintar dan tidak mudah tersulut emosi.

“Aku bersyukur pada Allah yang telah meneguhkan hatiku, Nis. Dari awal dia bicara, itu sudah cukup membuatku menilai seperti apa karakternya. Jadi, aku hanya menjawab dengan senyum getir dan berterima kasih. Kita lalu saling diam, dan aku pergi meninggalkannya,” ujar Amala.

“Jujur aku juga tidak menyangka kau dipertemukan dengan lelaki seperti itu Mal. Tapi, setidaknya kau sudah memantapkan hati. Katakan dengan tegas pada orang tuamu dan Pak Kiai, Mal. Aku yakin mereka mengerti. Lelaki pemuja rupa belaka itu tidak pantas mendapatkan dirimu,” Aku sedikit meluapkan emosi. Di antara banyak bahan pembuka obrolan, terlebih mengenai masa depan pernikahan yang akan mereka jalani nantinya, apakah tidak lebih penting dari hanya sekadar mengomentari riasan?

Namun, apalah daya. Tiga hari setelah pertemuan tersebut, tersirat kabar bahwa Pak Kiai sudah membulatkan tekad untuk menikahkan Amala dengan Firman. Entah jenis sujud dan permohonan seperti apa yang sudah Amala lakukan, mengungkapkan segala opini, kedua orang tuanya malah membela lelaki itu.

“Dia mungkin hanya bercanda, Mal. Lagi pula, itu sudah menjadi hal yang wajar jika laki-laki sangat memperhatikan penampilan pasangannya,” tukas Ayah Amala yang sudah berusia 60 tahunan itu.

Lantas Ibu menyaut, “Memang seharusnya kau berdandan, Mal. Tidak ada salahnya, kan?”

Amala tergeragap. Tidak menyangka akan tanggapan kedua orang tuanya. “Tidak hanya sekadar itu, Yah, Bu. Ia sampai mengatakan akan memberiku uang jika aku tidak mampu membeli barang-barang itu. Tidakkah itu sama saja merendahkan anakmu ini? Ayolah, aku tidak rela menghabiskan hidupku dengan lelaki yang suka merendahkan wanita macam dia. Dia berpikir, bahwa dengan kekayaan dia bisa menguasaiku. Ayah dan Ibu tahu, aku tidak gila kekayaan,” ucap Amala, mencoba membela diri.

Ayah dan Ibu diam sejenak. Tersirat di hati nuraninya, ada benarnya juga jawaban Amala barusan. Tapi, mereka berdua segera menepis pikiran tersebut. Tradisi memaklumi segala macam kontradiksi laki-laki masih mengakar kuat dalam diri mereka. Mereka mungkin berpikir, karakter lelaki bisa diterima selama tidak main tangan dan main wanita.

“Sudahlah, Nak. Sebetulnya Firman adalah lelaki yang baik, berasal dari keluarga yang baik dan terpandang. Dia sudah sarjana, sama denganmu. Pekerjaannya juga sangat mulia, mengajar agama di pesantren. Kita hanya manut Pak Kiai. Insyaallah, Pak Kiai sudah memilihkanmu jodoh yang sesuai.” Ayah dan Ibu menarik kesimpulan sepihak.

Sementara Amala sudah tidak sanggup membela diri lagi. Ia berjalan ke kamarnya dengan lunglai dan menutup pintu dengan keras.

*****

Hari pernikahan itu pun tiba. Pernikahan di desa umumnya dipenuhi riuh ingar bingar kebahagiaan keluarga mempersiapkan pesta, terdengar juga bisikan-bisikan selamat dari tetangga sekitar. Namun, kali ini, diam, hening, dan sedikit sepi. Meskipun Ibu-ibu desa memang seperti biasa membantu memasukkan setiap kondimen makanan ke dalam kotak nasi, tapi, itu seperti formalitas. Terutama pada wajah orang tua Amala. Wajah semringah tidak kutemukan waktu itu.

Semesta sepertinya turut bersungkawa pada kesedihan Amala. Ia tidak berbahagia sama sekali. Ingin berteriak di pelataran sawah tapi hati menghalanginya. Ia menganggap itu adalah ujian, sedikit pengharapan dan doa agar hatinya bisa luluh dan menerima Firman dengan segala kekurangannya.

Jam 9 pagi, akad nikah telah dilangsungkan. Semua yang hadir bersorak, alhamdulillah!

Di dalam kamar Amala, Aku yang sedari tadi memegang erat tangannya terhenyak. Amala lamat-lamat mengucapkan doa apa pun yang bisa ia lantunkan dalam hati. Aku menarik napas dalam-dalam, tidak juga siap menatap wajah Amala yang kini sudah resmi jadi istri Firman.

Tidak lama kemudian, pintu kamar dibuka oleh Firman beserta beberapa anggota keluarga untuk melakukan prosesi memasang cincin perkawinan dan mencium tangan. Mataku masih tertuju pada Amala. Ia terus menunduk, tidak sedetik pun mengangkat wajahnya yang cantik hanya dengan riasan tipis itu. Terlihat jelas garis kesedihan di wajahnya, seakan mengatakan bahwa ia tidak menginginkan pernikahan ini.

“Mbak Amala, silakan cium tangan Mas Firman. Lalu tahan selama 5 detik untuk diabadikan,” ucap sang fotografer memandu.

Amala mengikuti arahan tersebut dengan lesu. Dengan gontai ia menyambut tangan Firman dan mulai menciumnya sambil tak sabar kapan acara ini akan selesai dan ia ingin segera pergi ke tepi pantai, tempatnya berkeluh kesah.

“Senyum, Mbak,” ujar fotografer yang agak kesulitan memotret karena Amala tidak kunjung melebarkan senyumnya. 30 detik tidak ada perubahan, fotografer memutuskan untuk mengabadikan momen apa adanya.

Dengan mata berkaca, aku diam saja menatap perempuan malang itu. Firman juga kulihat sekelebat ia malah senyum-senyum sendiri. Tidak lantas menanyakan pada istrinya ada apakah gerangan, atau apa pun itu. Sementara di sisi lain, beberapa tetangga sekitar yang hadir terdengar mulai menangis pelan di luar kamar. Mereka tahu yang sebenarnya. Mereka tahu, ada yang tidak bahagia dari pernikahan ini. Si mempelai wanita.

*****

Terhitung sudah 3 minggu sejak pernikahan Amala. Aku belum mendengar kabar apa pun darinya. Keinginanku untuk menghubungi Amala, setidaknya sekadar bertanya bagaimana keadaannya saja kuurungkan karena takut mengganggu kehidupan barunya. Jarak rumah kami memang cukup jauh, beda desa. Kami juga punya aktivitas masing-masing, itulah mengapa untuk bertemu kami harus janjian terlebih dahulu. Sampai akhirnya, aku ditelpon oleh Ayah Amala hingga membuatku terkejut.

“Assalamualaikum, Nis. Apakah Amala sedang bersamamu? Jika iya, apakah Paman bisa berbicara sebentar dengannya?” tanya Ayah Amala dengan suara pelan. Tapi dari intonasinya, tampak beliau cemas.

Pertanyaan pertama yang hinggap di otakku setelah mendengar apa yang diucapkan Ayah Amala adalah, Ke mana anak itu? Tidak ada sebelumnya dalam kamus Amala untuk pergi dari rumah tanpa izin seperti ini.

“Waalaikumsalam, Paman. Maaf, Saya tidak sedang bersama Amala. Bahkan kami sudah tidak berkabar sejak hari pernikahannya,” jawabku. Ah, sebenarnya aku ingin bertanya ada apa sebenarnya dengan Amala. Tapi aku takut membuat beliau tidak nyaman, tapi aku penasaran, bagaimanapun juga Amala adalah sahabatku. Apakah ini saatnya aku memberanikan diri.

“Baiklah, Nak, terima kasih, Wassala..”

“Sebentar, Paman. Apakah Nisa boleh bertanya? Sebenarnya, ada apa dengan Amala? Tapi, kalau Paman tidak berkenan menjawab, Nisa sungguh tidak apa-apa. Hanya tolong sampaikan pada Amala bahwa Nisa merindukannya.” Aku coba memberanikan diri agar rasa penasaranku terjawab.

Hening, tidak ada jawaban. Hanya ada helaan napas. 2 menit kemudian, Paman memutuskan berbicara.

“Sudah 2 minggu Amala pergi dari rumah. Tidak pula meninggalkan surat atau apa pun sebagai petunjuk. Terakhir Bu Siti, tetangga dekat rumah, melihat Amala pergi membawa tas ransel jam 5 sore. Kami sebenarnya tahu bahwa Amala tidak mungkin menemuimu, karena kami sempat melacaknya, ia memesan kereta api. Entah ke mana. Kali ini Paman coba menghubungimu, barangkali Amala kembali. Ternyata tidak.” Beliau bercerita dengan suara parau. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin.

*****

Kuraih telepon genggamku, berniat mencoba sebisa mungkin menghubungi Amala yang entah di mana. Lima kali, tujuh kali, hanya nada dering yang terus berbunyi. Aku sudah mulai putus asa, tapi setidaknya aku ingin mencoba sekali lagi.

“Halo, Amala?” Tanyaku memastikan.

“…”

“…Iya, Nis”. Amala menjawab singkat.

“Kau ke mana saja? Mengapa kau tidak menghubungiku? Apa kau baik-baik saja di sana? Apa kau sedang kekurangan uang? Bilang saja padaku. Kita kan sudah berjanji, akan menjadi sahabat, dalam suka maupun duka.” Aku langsung menyerbunya dengan pertanyaan karena kekhawatiranku.

“Maaf, Nis, beberapa waktu lalu aku sedang hancur, dan aku merasa ingin sendiri dahulu. Tapi sekarang, aku ingat bahwa seandainya waktu dapat diulang, hari pertama aku meninggalkan rumah dan lelaki sialan itu, aku seharusnya langsung menghubungimu. Tapi saat itu, pikiranku sedang kalut, Nis. Sekali lagi, maaf.” Amala menjelaskan dengan terbata-bata.

“Aku mengerti perasaanmu, Mal. Kau bisa cerita apa pun padaku,” ujarku.

“Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, Nis. Apa yang keluar dari mulut Firman selalu menghinaku. Merendahkan aku hanya karena mungkin status sosial kita berbeda. Ia dari keluarga terpandang yang memiliki banyak uang, sementara menurutnya, aku dari keluarga sederhana, sehingga dia menganggap bahwa aku dapat diatur seenaknya,” ucap Amala.

“Lalu…maksudnya kau ingin berpisah dengan Firman?” Tanyaku sambil mencoba memahami apa keinginan Amala.

“Iya, Nis. Tolong bilang pada Ayah Ibuku, aku akan pulang jika mereka mengiyakan permintaanku. Sepertinya kali ini aku harus tegas pada diriku sendiri.”

“Mal, boleh aku bertanya sekali lagi? Selama kau pergi dari rumah, apa yang kau lakukan untuk menghabiskan waktumu?” Aku memastikan Amala tidak merenung terus-terusan.

“Hari-hari pertama aku hanya diam di kamar, mencoba mencerna apa yang terjadi. Lalu mulai mencoba banyak hal yang bisa aku lakukan, Nis. Mulai dari mengajar TPQ, les, dan menjadi waiters di salah satu restoran.”

Selesai telepon itu, diskusi alot pun dimulai. Mau tidak mau, aku ikut terseret pada masalah ini. Firman mulai menuduhku yang tidak-tidak. Ia bilang, aku yang menyuruh Amala untuk pergi dari rumah. Makin terbukalah bagaimana sifat Firman yang sebenarnya.

Lima hari kemudian, akhirnya ayah dan ibu Amala begitu pula Firman setuju untuk berpisah. Amala akhirnya kembali ke rumah, berdamai dengan orang tua, dan dirinya sendiri. Mencoba melupakan apa yang terjadi belakangan, dan mulai melanjutkan hidupnya. Hingga 1 tahun berlalu, aku diberi kabar bahwa ia menemukan pujaan hati yang baru dari tempat ia mengajar. (*)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Desa #Amala #ombak #pernikahan #Pak Kiai #Firman #konservatif #perjodohan #tepi pantai #Nisa