Cerpen KEVIN DIAS SYAHPUTRA
RUMOR tentang adanya dosen gaib menyebar luas di kampus, ada mahasiswa yang melihat sosok itu di perpustakaan dan fakultas kedokteran. Ciri-ciri lengkapnya masih belum jelas, ada beberapa yang mengatakan bahwa dosen itu memiliki bekas sayatan pisau di bagian lehernya. Tetapi menurut salah satu mahasiswa yang bertemu dengannya, sosok itu wajahnya berlumuran darah dan tanah liat, kakinya tidak menapak ke tanah, ia mengenakan turtleneck warna cokelat, mungkin untuk menutupi bekas sayatan di lehernya itu.
Salah satu mahasiswa di sana yang bernama Najwa, tidak percaya dengan adanya dosen gaib, ia pun memilih menghiraukan rumor itu. ”Hah…ada-ada saja deh, dosen gaib itu cuma cerita karangan saja. Mana mungkin benar adanya.”
Saat Najwa berjalan sendirian menuju toilet untuk cuci muka, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang, ia pun terhenti dan menoleh perlahan ke belakang. Ternyata Salma, teman satu kosnya.
”Wa, nanti saat pulang, aku boleh nebeng gak? Soalnya kali ini aku takut sekali pulang sendirian.”
Mendengar perkataan Salma, Najwa pun terheran-heran dan lalu bertanya. ”Tumben Sal, kamu sekarang gak berani pulang sendirian? Biasanya kamu setiap hari pulang jalan kaki sendirian. Kutawari boncengan, selalu kau tolak terus, dan sekarang tiba-tiba minta nebeng. Emangnya ada apa? Aku merasa ada yang aneh denganmu belakangan ini.”
Salma menjawab dengan nada ketakutan dan terbata-bata. ”Se-sebenarnya be-begini, Wa. Kemarin ma-malam, aku melihat sosok dosen gaib yang sering dibicarakan oleh para mahasiswa. Sosok itu sedang berada di depan gerbang masuk kampus, wajahnya berlumuran darah dan tanah liat, kakinya juga tidak menapak ke tanah. Aku yang kemarin pengin beli nasi goreng dan tempatnya itu harus melewati depan gerbang masuk, tidak ada jalan lain. Ketika aku melihat sosok itu, aku yang setengah ketakutan dan penasaran mencoba menghampiri, lalu bertanya kepadanya.”
”Kau bertanya apa, Sal?” sela Najwa.
”Ih, kamu ini, Wa, selalu saja menyela saat aku mau ngomong. Dengerin sampai habis dong,” ucap Salma sambil menjewer telinga Najwa.
”Ya map, Sal. Janji deh, lain kali aku gak bakal menyela lagi, hehe,” kata Najwa lalu tersenyum tipis.
Salma langsung melanjutkan ceritanya. ”Aku bertanya kepada sosok itu. ’Pak, sudah larut malam begini kok masih belum pulang? Lagi nungguin siapa? Apalagi dengan tatapan kosong seperti itu.’ lalu dosen itu menjawab begini, Wa. Jawaban yang bikin aku syok dan langsung berlari ketakutan.” ucapan Salma terhenti, lalu ia memandangi sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang mendengar ceritanya.
Najwa pun sudah fokus ingin mendengar kelanjutan cerita seram Salma, lalu berkata. ”Oi, Sal, lanjutin ceritanya dong. Udah nungguin nih aku, ada apa sih?”
Setelah memandangi sekitar, Salma pun melanjutkan ceritanya. ”Jawabannya begini, Wa. ’Nak…Temukan gelang hitamku, lalu taruh itu di atas makamku. Tempat pemakamanku berada di seberang kampus ini dan cirinya ada 2 mawar merah di sebelah kanan makamku. Gelang hitam itu adalah pemberian istriku yang sudah lama meninggal, aku ingin kau membantuku temukan gelang itu, agar arwahku bisa tenang dan tidak lagi bergentayangan di kampus ini.’ setelah itu aku langsung berlari pulang dan tidak jadi beli nasi goreng.”
Najwa yang mendengar itu seketika langsung merinding dan tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba ia menarik lengan kanan Salma dan berlari menuju perpustakaan. Salma terheran-heran dan sepertinya Najwa mengetahui sesuatu.
***
Sesampainya di dalam ruang perpustakaan, terlihat ada Kak Linda sedang tertidur di atas meja layanan. Najwa pun menjelaskan dengan nada pelan, alasan kenapa ia tiba-tiba menarik lengan Salma. ”Jadi gini, Sal, tadi kau bilang, kalau dosen itu meminta tolong untuk menemukan gelang hitam miliknya, lalu ditaruh di atas makamnya agar arwahnya bisa tenang dan tidak bergentayangan lagi di kampus ini. Aku kemarin melihat ada gelang hitam di perpustakaan ini, tepatnya di sekitar rak buku yang berisikan novel.”
Sontak Salma langsung terperangah, tidak percaya apa yang Najwa katakan barusan. ”Hah? Seriusan, Wa? Kamu tidak bohong, kan? Kalau begitu, ayo kita cari. Toh, kamu udah tahu tempatnya, kan.”
”Serius, Sal, mana mungkin aku berbohong. Mungkin butuh waktu yang lama untuk mencarinya, karena buku novel di perpustakaan ini banyak sekali dan gelang itu terselip di dalam buku novel. Namun aku lupa judul bukunya.”
”Duh…ketemunya bakal menghabiskan waktu sampai 2-3 jam. Apalagi habis ini sudah menjelang petang. Sosok itu selalu muncul ketika sudah menjelang malam, aku takut sekali, Wa.”
Najwa berpikir sejenak beberapa menit. ”Sudahlah, Sal, kita harus segera menemukan gelang itu. Cepat bantuin aku, jangan mengeluh.”
***
Sudah hampir 3 jam mereka mencari, namun gelang itu masih belum ditemukan, hari pun sudah menjelang malam. Perpustakaan mulai gelap dan hanya dua lampu kecil dan tiga lilin yang menyala di meja baca.
Kak Linda sudah terbangun sejam yang lalu, ia pun menghampiri mereka berdua dan berkata. ”Dik, ayo cepat kalian keluar. Perpustakaan ini mau kututup. Ngomong-ngomong, kalian berdua sedang mencari apa? Dari tadi kuperhatikan kalian membuka satu per satu buku novel.”
Salma pun menjawab. ”Kami sedang mencari gelang hitam yang terselip di dalam buku novel, Kak. Najwa menangis dari kemarin, karena kehilangan gelang pemberian mantan pacarnya, hahahaha.”
Najwa melirik tajam ke arah Salma dengan raut wajah kesal, Salma membalasnya dengan senyuman tipis sambil mengelus-elus pundak Najwa.
”Oh.. baiklah kalau begitu, semoga cepat ketemu ya. Ini, Dik, kunci perpustakaan, nanti kalau sudah ketemu dan pengin balik, jangan lupa kunci ruangan ini ya. Soalnya Kakak ada urusan penting, jadinya gak bisa menemani kalian di sini. Kuncinya berikan padaku besok saja.”
Mereka berdua hanya mengangguk. Setelah itu, Kak Linda pergi keluar ruangan seraya menghidupkan beberapa lampu agar tidak terlalu gelap.
***
Beberapa menit kemudian, setelah ditinggal Kak Linda. Tiba-tiba semua lampu berkedip-kedip dengan cepat, seperti ada yang memainkan saklarnya. Najwa dan Salma mulai merasa merinding. Ditambah lagi ada angin yang berembus kencang di dalam ruangan itu, padahal semua jendela sudah tertutup, membuat suasananya semakin mencekam.
Mereka berdua langsung mempercepat pencarian, karena sudah merasakan firasat yang tidak enak, mungkin saja sosok itu sebentar lagi datang.
Akhirnya mereka menemukan gelang itu di buku yang terakhir dan tepatnya di rak buku bagian paling pojok, dekat dengan jendela yang gelap.
”Akhirnya ketemu juga, Sal. Ayo, kita harus cepat-cepat taruh gelang ini di atas makamnya,” ujar Najwa sambil mengusap-usap keringat di keningnya.
Salma, yang awalnya tampak bahagia, seketika ekspresinya berubah drastis menjadi ketakutan ketika melihat ke arah jendela yang gelap itu. ”Do-dosen gaib itu menampakkan dirinya, dia menatap kita dari luar jendela, Wa,” teriaknya yang cukup kencang.
Najwa pun terkejut dengan teriakan itu, ia langsung menoleh ke arah jendela yang Salma lihat. Tetapi sosok itu sudah menghilang.
”Sudahlah, Sal. Sosoknya gak ada tuh, kamu mungkin sedang berhalusinasi,” ucap Najwa.
Setelah menemukan gelang itu, mereka langsung keluar dari perpustakaan dan tidak lupa mengunci ruangan itu.
Baca Juga: Ayah Iyyah
***
Sesampainya di depan makam dosen itu, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Salma sebelumnya. Dosen itu bernama Pak David. Menurut rumor yang beredar, Pak David meninggal karena dibunuh begal dengan cara disayat lehernya. Sepertinya para mahasiswa tidak tahu kalau sosok dosen gaib itu adalah Pak David, dosen di kampus ini. Mungkin karena wajahnya berlumuran darah dan tanah liat. Tanpa pikir panjang, mereka berdua segera menaruh gelang hitam di atas makamnya Pak David, lalu mendoakannya.
Terlihat dari kejauhan, di bawah rindangnya pohon mangga, Pak David menatap mereka berdua dengan wujud sempurna tanpa bekas sayatan di lehernya, beliau juga memberikan senyuman yang hangat kepada mereka berdua. Dengan perlahan, sosoknya menghilang.
Dengan hati yang lega, Najwa dan Salma pun menyelesaikan doa mereka untuk arwah Pak David.
Saat perjalanan pulang, wajah mereka dipenuhi rasa lega dan kelelahan yang menyenangkan. Suasana yang tadinya tegang dan mencekam kini telah berubah menjadi tenang dan damai.
Kini rumor tentang dosen gaib itu pun mulai memudar, dan semakin hari, cerita itu hanya menjadi kenangan yang tersemat di sudut-sudut kampus, tak lagi menimbulkan ketakutan. (*)
*)Penulis kelahiran Kota Mojokerto. Beberapa cerpennya dimuat di sejumlah media massa, yaitu Suara Merdeka, Radar Mojokerto, Radar Lawu, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, dan Radar Bojonegoro. Penulis novel, cerpen, dan puisi.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti