Cerpen MUDHAR CH.
SEGERA aku menelepon suamiku yang ada di negeri orang. Ia merantau. Kuminta segera pulang. Aku sedikit mengancam, ”Saya tunggu keputusannya sampai besok. Kalau Mas tidak mau pulang, jangan pernah mencari kami jika kami tidak di rumah lagi.” aku mengakhiri pembicaraan. Sengaja tak memberi kesempatan untuk bertanya atau menjawab.
Aku tahu ini sangat mengganggu suamiku, tapi lebih mengganggu lagi pernyataan ibunya jika aku tetap tinggal bersamanya. Hidup dengan mertua yang cerewet sangat tidak nyaman. Segala sesuatu diatur. Tidak boleh minum eslah, tidak boleh makan-makanan pedeslah, tidak boleh ngalungin handuklah. Alasannya macem-macem. Semuanya tidak masuk akal.
Pagi-pagi sekali ponselku berdering. Telepon dari suamiku, ”Apa yang terjadi?”
”Sudahlah, nggak usah banyak tanya. Kalau Mas pulang aku jelaskan. Kalau tidak, ya sudah!” nada ketus sengaja aku pertajam untuk memperjelas bahwa aku sudah tidak bisa diajak rembukan lagi. Keputusanku sudah bulat.
”Ya, aku pulang. Aku berangkat besok pagi sebab ini belum apa-apa.”
”Ya, lebih cepat lebih baik. Aku dan anak-anak di rumah barat.”
”Lho, kok di rumah barat?”
”Kalau Mas sudah di rumah aku jelaskan semuanya,” kembali aku menutup pembicaraan.
Belum genap dua bulan suamiku berangkat ke Arab Saudi. Aku kenal dengannya ketika masih lajang. Aku pun berprofesi sama, bekerja di sana. Aku menjadi TKW. Kala sama-sama pulang tidak sengaja bertemu di bandara, berkenalan dan telepon-teleponan. Berangkat lagi ke Saudi berangkat bareng. Sesampainya di sana, beberapa bulan kemudian aku dinikahi dan yang jadi wali adalah pamanku yang juga bekerja di sana. Dari pernikahan itu aku dikaruniai dua orang anak masih kecil-kecil. Yang pertama perempuan umur 3 tahun dan yang kedua laki-laki umur satu setengah tahun. Kini aku sedang hamil anak yang ketiga. Kehamilanku saat ini memasuki usia 3 bulan.
***
Aku berdebat panjang lebar dengan suamiku yang baru datang. Intinya aku tidak mau tinggal lagi bersama ibunya. Ibu mertuaku. Aku bertekad lebih baik aku hidup di rumah kontrakan daripada harus tinggal dengan orang tua yang hanya membuat hidupku ribet.
”Ya sudah, kita ngontrak. Tapi ini butuh waktu. Cari kontrakan itu tidak mudah,” suamiku menyerah juga.
”Nggak apa-apa aku nunggu satu, dua hari.”
Seminggu kemudian suamiku baru dapat kontrakan. Kompleks perumahan. Katanya bebas dari banjir. Tetangganya ramah-ramah. Meski dalam area perkotaan suasananya sejuk seperti pedesaan. Ini cocok dengan keinginanku.
Rumah yang suamiku kontrak posisinya pas sebelah kiri masjid di perumahan itu. Aku sangat menyukainya. Diam-diam aku berpikir hidupku akan jauh lebih tenang karena dekat dengan masjid. Dekat dengan rumah Allah. Dekat dengan orang-orang ahli ibadah. ”Semoga aku dan anak-anakku ketularan menjadi hamba-hamba yang taat beribadah,” begitu harapku kala kali pertama kakiku menginjakkan kaki di rumah itu seraya mengelus perutku yang semakin membuncit.
Hari pertama sampai hari ketiga aku ditemani adik angkatku bersama suaminya di rumah itu. Mereka membantu menata barang-barangku. Hari keempat, kelima, dan seterusnya aku lalui dengan keluarga kecilku. Sebagaimana orang-orang secara umum jika menempati rumah baru, kami mengadakan selamatan meski hanya sekadarnya. Dua orang jemaah salat Asar kala itu orang yang kami undang.
Seminggu kulalui penuh suka tinggal di rumah kontrakan. Hari kedelapan persediaan air di tandon mulai menipis lalu habis. Suamiku datangkan tukang untuk mengecek saluran air PDAM dan pompa air. Tidak ada kerusakan.
Menjelang subuh suamiku membangunkanku untuk mandi di kamar mandi masjid. Ide bagus. Aku melakukannya. Pagi-pagi suamiku membawa kedua anakku mandi di rumah embahnya, rumah mertuaku. Sore hari suami dan anak-anakku kembali berangkat ke rumah mertuaku untuk mandi.
”Ibu! Bu!” aku setengah berteriak memanggil penghuni rumah sebelah yang belum kukenal sebelumnya.
”Iya...” sedikit tergesa orang itu. Sudah tampak tua. Tubuhnya bongsor. Rambutnya sudah mulai sulit menemukan yang hitam.
”Saya penghuni sebelah, Bu, mau numpang ke kamar mandi,” tanpa dipersilakan aku ngeluyur masuk. Ibu tua itu kelihatan sedikit bingung meski akhirnya ia menunjukkan juga kamar mandinya.
Selesai mandi aku keluar. Ada seorang bapak duduk di kursi depan TV ukuran 24 inchi. Saat yang bersamaan ibu yang tadi keluar dari kamarnya.
”Ma kasih, Bu!”
”Eee, iya sama-sama.”
Hari berikutnya aku pindah-pindah, numpang ke rumah di sebelahnya lagi. Dua rumah di sebelah kiri dan dua rumah di sebelah kanan kontrakanku.
Pernah juga aku pagi-pagi, sekitar pukul delapan lebih, tanpa mengetuk pintu nyelonong saja masuk ke rumah yang pintu pagar dan rumahnya terbuka. Tanpa diduga di ruang tamu aku bertemu dengan seorang lelaki pemilik rumah yang hanya pakai celana pendek seraya tiduran di kursi ruang tamunya.
”Numpang mandi, Pak!” spontan aku berucap untuk menguasai keadaan. Laki-laki itu tak langsung menjawab. Ia malah teriak-teriak.
”Ma! Mama! Ada tamu.”
Setelah aku melihat seorang perempuan keluar dari ruang belakang, aku kembali berkata, ”Mau numpang mandi, Bu!”
”Hah? Ayo masuk sini, Bu!” jawab ibu tadi setelah sebelumnya sempat terperangah.
Begitu aku dari hari ke hari selama kurang lebih dua minggu di rumah kontrakan itu. Setelah ditelusuri memang aliran air PDAM di kompleks itu tidak merata. Tidak sampainya air ke rumah kontrakanku bukan karena saluran atau pompanya rusak. Bukan. Tapi memang ketika persediaan airnya sedikit atau orang-orang sebelum rumahku menyalakan pompanya maka jangan harap air itu sampai ke rumah. Jadi untuk mendapatkan air harus bela-belain tidak tidur malam-malam. Begitu, di kompleks itu sudah biasa.
Tumpangan yang paling nyaman adalah di rumah yang bercat hijau itu. Rumah dan kamar mandinya biasa bahkan ada yang jauh lebih bagus dari itu. Tapi, aku rasakan nyaman karena pada saat jam kerja di situ hanya ada seorang ibu seusia ibuku. Mandi di rumah bercat hijau itu serasa mandi di rumah sendiri, sebab di situ aku melihat sosok ibu. ”Sayang, ibuku sudah tiada.”
Belajar dari kenyataan aku bertekad bahwa aku harus bisa memenuhi kebutuhan air dengan tanpa menumpang. Aku mulai risih dengan pandangan mencurigakan dari orang-orang sekitar. Aku tahu mereka mulai menggunjingkan kebiasaanku. Urusan air dengan segala keterbatasan aku dapat mengatasinya meski terkadang harus membeli air tangki.
Memasuki usia kehamilan 6 bulan suamiku kembali merantau demi menyambut kelahiran anak kami yang ketiga. Keberangkatan suamiku tidak membuat hubunganku dengan tetangga lebih baik. Adik angkatku memperparah suasana semakin runyam. Bagaimana tidak? Senin malam, kala aku tertidur pulas sama kedua anakku lambat-laun aku mendengar pintu pagar digoyang-goyang seraya memanggil-manggil. Dengan malas aku bangun seraya memperbaiki posisi baju yang kukenakan. Di bagian dada sedikit kedodoran. Aku merasa nyaman jika berpakaian yang cenderung longgar. Bahkan ketika lama tidak hujan terkadang aku tidur nyaris tanpa pakaian.
Kurang lebih sepuluh orang telah berdiri di depan pintu pagarku. Terdengar suara isak tangis dari sela-sela kerumunan. ”Kami pengurus RT dan warga sekitar,” begitu di antara mereka memulai pembicaraan kala melihatku membuka pintu.
Tidak salah lagi, yang mereka bawa adalah Neneng, adik angkatku. Ia ditangkap warga karena ia berduaan dengan seorang laki-laki di salah satu gardu di kompleks perumahan. Awalnya salah satu warga hanya menyuruhnya pulang karena sudah larut malam, tetapi ia malah mengatakan bahwa dirinya adalah warga perumahan ini. Jawabannya berbelit-belit. Setelah dipaksa dan datang banyak orang ia baru ngaku bahwa ia adik angkatku. Sementara mereka tidak banyak tahu dan mengenali siapa aku sesungguhnya.
”Makanya laporan ke RT!” seorang di antara mereka setengah berteriak berkali-kali dari kerumunan paling ujung.
***
Masuk usia 8 bulan kehamilanku, aku mencoba mendekati rumah bercat hijau. Yang aku dekati bukan pemiliknya, tetapi sosok ibu yang aku rasakan di rumah kontrakan. Saat mereka pada berangkat kerja, ”Ibu! Saya, Bu! Assalamualaikum!” berkali-kali aku memanggil. Tak ada jawaban. Sebelumnya aku jelas mendengar gemericik air dari kamar mandi belakang yang akses keluar-masuknya bisa melalui pintu samping. Aku tahu karena di tempat itu aku pernah mandi.
Seketika gemericik air terhenti. Aliran air ke pembuangan got depan pagar juga semakin sedikit lalu kemudian tidak sama sekali. Ibu yang kumaksud pasti di situ, terkadang nyuci atau mandi. Aku membatin, harus hari ini. Tak ada waktu lagi.
”Assalamualaikum!” seraya masuk dan berjalan melalui pintu samping, ”Ibu!”
”Iya, siapa?” ibu keluar di pintu depan. Segera kuputar balik menuju ke pintu depan, ibu berada. Tahu aku yang datang, segera ibu menutup pintu pagar, ”Ada Apa? Tidak cukupkah selama ini?”
Aku paham, ibu kurang suka terhadap kehadiranku. Aku datang ke situ pasti untuk memenuhi kebutuhanku. Tidak terkecuali saat ini. Nyaris hidupku tidak untuk orang lain. Aku utarakan maksud dan keinginanku. Aku meminta bahkan memohon kesudiannya untuk menjadi ”dukun” kala ku melahirkan nanti. Orang tua zaman dulu dari desa pula, aku yakin pasti bisa.
Singkatnya, ia menolak. Ia ajukan nama orang lain yang tidak kukenal orangnya. Atas tawaran ibu, aku tidak menolak tidak pula mengiyakannya. Akhir pembicaraanku dengannya aku sandarkan harapan besar di pundaknya.
Perutku semakin besar. Beban tubuhku berlipat beratnya. Usia kehamilanku mendekati proses persalinan dan lahiran. Aku bertekad tidak menggunakan jasa bidan. Dukun lebih murah dan alami. Pernah kusempatkan pulang kampung untuk pijat ke dukun beranak. Sama persis dengan perhitunganku, sebulan lagi.
Akhir-akhir ini kepalaku sering pusing. Aku ceritakan kondisiku pada tetangga sebelah rumah. Ia justru menganjurkanku sering-sering periksa ke bidan atau ke dokter. Aku menolak keras, ”Buang-buang waktu, Bu,” dengan nada sedikit ketus, ”Uang kok dikasih dokter.”
Mendengar jawabanku air mukanya seketika berubah. Segera ia masuk rumah membanting pintu keras-keras.
Malam harinya perutku terasa sakit. Bolak-balik kamar mandi serasa mau BAB, tapi tidak bisa. Seperti ingin kencing juga tidak ada yang keluar. Semakin lama semakin sakit rasanya. Keringat sejak tadi membasahi tubuhku, ”Nggak mugkin aku lahiran sekarang. Bukankah baru tiga hari yang lalu aku pijat ke dukun itu. Belum satu pekan apa lagi sebulan.”
Aku terus bertahan. Bertahan dari sakit dan bertahan untuk tidak lahiran. Kedua anakku sudah mengarungi samudera malam. Suamiku akan datang Selasa depan. Tanda-tanda lahiran semakin terpampang. Aku mulai keluar cairan. Dari sedikit jadi semakin banyak. Diam bagaimanapun terasa tidak enak.
”Mas, aku sakit perut, mungkin mau lahiran,” seraya menahan sakit.
”Kok bisa? Katanya masih sebulan lagi?” suamiku tidak percaya mencoba meyakinkan.
”Aku gak kuat, Mas!” suaraku melemah. Tenagaku menghilang. Mataku berkunang-kunang. Pandanganku mengabur. Yang tampak jelas perlahan menjadi samar. Telepon yang kupegang sulit kupertahankan dalam genggaman.
Dalam samar aku melihat ibu melambai di kejauhan. Dari sorot matanya tersirat rindu yang mendalam. Kukumpulkan tenaga untuk mendekatinya, ikut bersamanya. Dalam jarak dua tiga langkah, ibu mengulurkan tangannya. Aku tak segera bisa menggapainya. Dalam sekejap ada tangan lain segera mencengkeram pergelangan tanganku. Sedikit kasar, dengan gerakan lihai aku dimasukkan ruangan. Sebelumnya sempat kudengar bahwa mereka atas perintah ibu mertua. Tanpa banyak tahu, gerakan berikutnya aku sudah tidak lagi merasakan apa-apa. Tidak jua sakit yang mendera.
***
Suamiku menelepon ibunya setelah tak lagi mendengar suaraku. Saat itu juga diantar keponakannya, ibu mertuaku datang ke rumah kontrakanku. Digedor-gedor pintu pagarku tak ada jawaban. Mendengar ribut-ribut warga sekitar keluar. Ibu mertuaku menjelaskan. Mereka paham. Berikutnya giliran pintu rumah yang mereka gedor. Tetap tak ada jawaban. Mereka merusak pintu samping rumah kontrakan. Di depan televisi aku sudah tergeletak pendarahan. ”Bawa ke UGD dan berikan pertolongan penyelamatan!” begitu ibu mertuaku meminta warga setengah menginstruksikan. (*)
*)Mengabdikan diri di SMPS Al-Ittihad, Camplong, Sampang.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti