Cerpen NADIA YASMIN DINI
SUDAH tiga tahun berturut-turut, Mbok Inem selalu merayakan Hari Raya Idul Fitri sendirian di kampung. Karena kedua anak laki-lakinya, Ahmad dan Faiz, selalu beralasan untuk tidak mudik. Mereka lebih memilih untuk merayakan hari raya di kota, tempat mereka bekerja masing-masing.
Ahmad, anak pertama Mbok Inem, saat ini tengah menetap di Jakarta. Sekitar belasan tahun lalu, Ahmad menikahi seorang gadis asal Jakarta dan terpaksa harus ikut dengan istrinya. Lebih-lebih, Ahmad juga sudah bekerja sebagai seorang guru di salah satu sekolah dasar yang ada di Jakarta dari sebelum ia menikah dengan istrinya. Saat ini, Ahmad sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki. Anak pertamanya sebentar lagi akan masuk sekolah menengah pertama. Sementara anak keduanya baru berusia sepuluh tahun. Tiap kali ditanya alasan mengapa tidak mudik, Ahmad selalu mengatakan bahwa ia sedang ada banyak pekerjaan mendesak.
Begitu pula dengan Faiz. Ia kerap kali menggunakan template alasan yang sama dengan Ahmad. Masalah pekerjaan selalu menjadi alasan utama mengapa Faiz juga tidak bisa mudik selama tiga tahun terakhir ini dan lebih memilih merayakan hari raya di kota tempat ia bekerja, Jogjakarta. Dengar-dengar, saat ini istri Faiz tengah hamil anak pertama mereka. Kira-kira saat ini usia kandungan istrinya sudah jalan lima bulan sejak Faiz memberikan kabar mengenai kehamilan istrinya kepada Mbok Inem.
Mbok Inem hanya bisa berharap, jika Lebaran tahun ini kedua anak laki-lakinya itu bisa mudik dan merayakan Hari Raya Idul Fitri bersamanya. Meski Mbok Inem memiliki tetangga yang senantiasa ada di sampingnya, tetap saja Mbok Inem begitu merindukan kedua anak laki-lakinya itu.
Hampir setiap hari Mbok Inem terus memaksa dirinya sendiri untuk tidak boleh bersikap egois. Karena kalau berbicara soal keinginan, Mbok Inem pasti ingin kedua anak laki-lakinya itu pulang. Tetapi, jika itu hanya akan merepotkan serta mengganggu pekerjaan kedua anaknya, maka lebih baik tidak usah.
Yang bisa Mbok Inem lakukan saat ini hanyalah menarik napasnya dalam-dalam sembari memandangi foto kedua wajah anaknya yang terpampang jelas di dinding ruang tamunya. Perlahan, kedua matanya mulai tertutup rapat. Samar-samar suara orang tadarus di masjid berhasil membuat hati Mbok Inem semakin teriris. Diam-diam Mbok Inem juga memanjatkan doa kepada Tuhan supaya tahun ini kedua anaknya itu diberikan kemudahan untuk bisa pulang dan merayakan Hari Raya Idul Fitri bersamanya. Mengingat, Lebaran sudah tinggal dua minggu lagi. Namun, sampai sekarang Mbok Inem belum kunjung mendapatkan kepastian dari kedua anaknya itu. Apakah mereka akan pulang atau tidak tahun ini.
Seakan doanya menembus hingga langit ketujuh, selang dua menit setelah itu, telepon jadul Nokia milik Mbok Inem berdering. Buru-buru Mbok Inem meraihnya dan menjawab panggilan dari Ahmad. Dan betapa senangnya hati Mbok Inem ketika mengetahui bahwa Ahmad berencana akan mudik tahun ini. Ahmad juga bilang bahwa ia, istri, serta anaknya berencana akan datang di malam takbiran.
Setelah menerima telepon dari Ahmad, kini giliran panggilan dari Faiz yang masuk. Faiz juga memberikan kabar baik yang sama. Jika Faiz juga akan pulang sehari sebelum Lebaran.
Mendengar kabar tersebut, Mbok Inem spontan berterima kasih kepada Allah karena telah mengabulkan doanya. Akhirnya, tahun ini Mbok Inem bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama kedua anaknya.
Hingga tanpa terasa, hari yang telah lama-lama dinantikan pun tiba. Setelah melaksanakan salat Ied di masjid, mereka melakukan prosesi sungkeman. Saat melakukan prosesi sungkeman tersebut, hati Mbok Inem merasa sedih sekaligus bahagia. Di satu sisi, Mbok Inem merasa bahagia karena bisa bertemu dengan kedua anaknya lagi. Namun, di sisi lain Mbok Inem merasa sedih karena ia terharu. Mengingat, sudah tiga tahun mereka tidak melakukan sungkeman. Kedua anaknya itu hanya meminta maaf melalui pesan saja.
Setelah melakukan prosesi sungkeman kepada Mbok Inem, mereka akhirnya berkumpul di ruang tamu. Mbok Inem begitu gembira melihat kehadiran anak, menantu, serta cucunya di rumahnya. Sebelum akhirnya, suara Ahmad berhasil mengalihkan perhatian Mbok Inem.
”Begini, Bu. Sebentar lagi, Zidan kan akan masuk SMP. Saya dan istri saya sepakat akan memasukkan Zidan ke dalam sebuah pesantren,” jeda Ahmad sebentar sembari melirik istrinya. ”Jadi, apa ibu bersedia memberikan tunjangan hari raya untuk anak saya? Hitung-hitung untuk membantu pengeluaran kami,” lanjut Ahmad.
Belum sempat menjawab, Faiz juga ikut berbicara.
”Iya, Bu. Sebentar lagi istri saya juga mau lahiran. Apa boleh saya minta tunjangan hari raya untuk membantu biaya lahiran istri saya?”
Mbok Inem hanya terdiam mematung di tempat. Kini Mbok Inem tahu, alasan mengapa kedua anaknya itu pulang sekarang. (*)
*)Mahasiswa Universitas Airlangga
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti