Cerpen HANI MARIA MARDHACIKA
SEMUA nampak baik-baik saja ketika Iyyah berada di kota orang. Keluarganya begitu hangat dan menyayangi satu sama lain. Tetapi ketika kepulangannya mendekati 1 bulan, dia mendapat kabar bahwa rumah sedang tidak baik-baik saja. Iyyah diwaspadai agar lebih berhati-hati jika berada di rumah atau bisa memilih untuk tidak pulang ke rumah.
Iyyah menelepon ibunya hanya untuk memastikan jika semua itu tidak benar adanya. Tapi, apa yang ia dapati setelah menelepon ibunya? Semua tidak sesuai harapan Iyyah. Ibunya membentak dan terus memarahi, bahkan menyalahkan Iyyah. Tidak pantas jika seorang anak durhaka terhadap ibunya yang telah mengandung, menyusui, dan bahkan membesarkannya. Iyyah terus berdoa agar Allah melembutkan hati ibunya.
Hari untuk pulang telah tiba. Ibu yang Iyyah pikir membencinya bahkan tidak menyayangi, itu semua berbanding terbalik. Ibunya menjadi sangat lembut, bahkan takut kehilangannya. Rumah nampak begitu tenteram dengan kehangatan yang ada. Tetapi apa? Ayah yang tidak pernah kelihatan batang hidungnya di rumah menyadarkan Iyyah bahwa rumahnya tidak baik-baik saja. Ayah yang pergi dari pagi sampai pulang subuh, kemanakah ayah pergi?
Iyyah terus memikirkan ke mana ayah yang pergi dengan alasan rapat kerja, yang bahkan adanya rapat tidak mungkin setiap hari dan berlarut hingga subuh. Iyyah terus berpikir positif dan bahkan hampir tidak ada curiga, tetapi kedekatan dan keromantisan ayah ibu tidak pernah terlihat membuat Iyyah memutar pikiran.
Malam di hari ke-10 kepulangan Iyyah ke rumah, pikiran negatif itu terus memenuhi pikiran Iyyah, sampai di puncaknya dia mendapatkan kabar bahwa yang dipikirannya selama ini benar. Nomor WhatsApp baru muncul dengan screenshot-an percakapan dan satu foto wanita yang muncul.
Hari menggelap. Dia bergetar. Seluruh tubuhnya meluruh ke lantai. Iyyah mendekap dirinya sendiri, menangis dalam diam, agar isi rumah tetap terlihat tenang.
Malam itu menjadi malam tanpa bulan dan bintang bagi Iyyah. Nomor WhatsApp yang tidak dikenal terus-terusan mengirim bukti-bukti kebersamaan ayah dan pelakor itu. Iyyah larut dalam heningnya mencoba menepis semua itu. Tetapi itu bukan mimpi. Ini adalah kejadian dan jawaban atas apa yang dicurigai selama 10 hari itu.
Pikirannya terus menghantui untuk membongkar semuanya, agar ibu juga tahu kelakuan ayah di luar. Tetapi, Iyyah memikirkan semua. Adiknya yang masih butuh kasih sayang orang tua yang lengkap, bagaimana cara agar semua terlihat baik-baik saja ketika itu terungkap?
Iyyah mulai gelisah, tak mengenali dirinya. Tatapannya kosong, pikirannya berisik dan seakan berbicara sendiri. Pikiran untuk bunuh diri itu muncul. Iyyah telah menyiapkan semuanya agar ia menyakiti diri sendiri, tetapi semua itu gagal karena tawa adiknya yang sedang bermain di luar. Iyyah mulai sadar bahwa ini bukan jalannya, tetapi perubahan sikap Iyyah sangat drastis, menjadi anak yang pembangkang dan kurang ajar (tidak mendengarkan perkataan ayahnya). Iyyah pikir ini adalah pembalasan terhadap ayahnya.
Siang itu Iyyah memberranikan diri untuk melabrak si pelakor, tapi tak kunjung ada respons hingga Iyyah menghantui semua media sosialnya dan memaki si pelakor itu. Tetapi, usaha ini tidak membuahkan hasil. Ini adalah cara yang salah, karena pada dasarnya ayahnyalah yang membuat semua ini terjadi. Tuan rumah tidak akan membuka pintu yang terkunci jika tuan rumah itu tidak mempersilakan tamu masuk ke dalam rumah. Permasalahan ini ada di ayahnya, tetapi Iyyah juga mencari bukti dengan kebenaran yang valid.
Sore itu Iyyah mendengar ayahnya sedang menelepon seseorang dengan suara yang lembut bahkan nyaris tidak terdengar. Iyyah terus berusaha mendengarkan percakapan aneh itu, dan embusan angin membawa suara itu. Suara perempuan yang ia dengar. Hatinya kembali sakit, dunianya menggelap, seluruh tubuhnya bergemetar.
Tidak kuat rasanya, Iyyah ingin cepat membuka rahasia besar ini kepada ibu, tetapi dilihatnya sorot mata ibu yang penuh kesedihan mendalam membuat Iyyah menguburkan niat dan memilih memendam seorang diri. Namun, rasa menyerah Iyyah tidak pernah muncul. Iyyah terus semangat untuk mencari bukti yang benar-benar bisa Iyyah terima. Dia mendapati informasi nama dan alamat pelakor itu. Ingin rasanya mengitari rumahnya. Tetapi, Iyyah bukanlah anak yang bebas hanya berjalan di depan rumahnya. Rencana ini tidak berjalan. Iyyah hanya mengandalkan kecerdasan media sosialnya yang juga menunjukkan bukti-bukti permasalahan.
Dering telepon terus-terusan berbunyi di HP ayah, jiwanya mengantarkan tubuh Iyyah untuk melihat siapa si penelepon itu yang berani menelepon ayah hingga berkali-kali. Dikenalnya ayah adalah tokoh agama di desa dan membuat semua orang sungkan dan bahkan takut jika hanya menelepon malam hari tanpa bertamu ke rumah.
Kecurigaan itu terus muncul di pikirannya. Nama itu terlihat sama dengan informasi yang Iyyah dapatkan. Iyyah tidak bisa berpikir positif. Adik Iyyah yang mendengar HP itu terus berbunyi, berteriak bahwa seseorang meneleponnya, tetapi respons ayah yang didapat apa? Ayah memarahi adik dengan bentakan keras seakan ada sesuatu yang ia simpan erat.
Lima menit kemudian, akhirnya ayah keluar untuk memeriksa HP-nya di luar kamar. Lalu, pergi menjauh dari rumah untuk menjawab telepon itu. Sepuluh menit berlalu ayah bergegas untuk pergi meninggalkan rumah di tengah penatnya ia sepulang bekerja, mencium aroma minyak wanginya membuat Iyyah tertegun bahwa semua itu benar, ayah pergi dari malam hingga pagi jam 7.
Iyyah termenung dan terus dihantui oleh pikiran negatif itu, karena tujuan Iyyah adalah mempertahankan keutuhan rumahnya, ia memilih diam dan tidak bisa berbicara di atas rasa sakitnya. Ayah adalah orang yang Iyyah sungkani. Sampai sekarang Iyyah menyimpan rahasia besar keluarganya, yang membuat Iyyah mempunyai anxiety, trauma besar dan masih dirahasiakan sampai saat ini. (*)
*)Mahasiswi Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti