Jaga Marwah NU

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:02 WIB
Moh. Subhan
Moh. Subhan

Oleh Moh. Subhan*

 

PERNAH mendengar Kotak Infak Nahdlatul Ulama atau Koin NU? Lima ratus rupiah, seribu rupiah, dikumpulkan setiap hari. Nilainya mungkin kecil bagi sebagian orang.

Namun, bagi nahdliyin yang menyisihkan dari uang belanja dan penghasilan pas-pasan, itulah cara paling memungkinkan untuk ikut menjaga NU.

Dari uang receh itu, ada keyakinan bahwa NU adalah rumah besar yang patut dijaga. Ada warga yang mungkin tidak pernah datang ke forum organisasi. Tidak mengenal hiruk pikuk elite.

Bahkan, tidak tahu bagaimana keputusan-keputusan besar NU dibuat. Tetapi, mereka tetap ikut menjaga jam’iyah dengan caranya sendiri.

Baca Juga: Bukan PCX atau ADV, Honda NS150GX Hadir dengan Mesin 150 CC Bertenaga, ABS, TCS hingga Dashcam 

Hari ini, Kamis, 27 Agustus 2026, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu menggelar muktamar ke-35. Agenda lima tahunan itu akan berlangsung selama lima hari hingga Senin, 31 Agustus nanti.

Jombang kembali menjadi titik temu. Para pengurus NU dari berbagai tingkatan berkumpul. Mulai pengurus besar, pengurus wilayah, hingga pengurus cabang. Termasuk para pengurus dari empat kabupaten di Madura.

Muktamar bukan sekadar pertemuan besar. Di sana, arah perjalanan NU ke depan akan ditentukan.

Biasanya, ada tiga agenda besar yang menjadi perhatian. Pemilihan pemimpin. Pembahasan persoalan keagamaan. Serta, penyusunan program kerja strategis organisasi.

Dari tiga agenda itu, pemilihan pemimpin tentu paling menyedot perhatian.

Baca Juga: Hanya 798 Gram, HUAWEI MateBook Pro S Resmi Meluncur dan Membuktikan Laptop Super Ringan 

Muktamar akan menentukan Rais ‘Aam Syuriyah dan Ketua Umum PBNU untuk lima tahun ke depan. Dua posisi penting dengan peran yang berbeda, tetapi sama-sama menentukan perjalanan jam'iyah yang memiliki puluhan juta jemaah itu.

Secara formal, mungkin tidak pernah ada kontrak politik antara warga nahdliyin Madura dengan para pengurus cabang NU di empat kabupaten. Tidak ada pula mandat tertulis dari warga NU di bawah yang harus dibawa ke arena muktamar. Namun, ada tanggung jawab moral.

Mereka yang berangkat ke Jombang membawa nama organisasi. Lebih dari itu, mereka membawa harapan warga. Membawa suara jemaah. Membawa kepercayaan.

Karena itu, saya sebagai nahdliyin ingin menitipkan satu amanah: Jagalah NU.

NU membutuhkan pemimpin yang memiliki kedalaman ilmu. Memahami tradisi. Memiliki keluasan pandangan. Menjaga akhlak. Sekaligus mempunyai kemampuan manajerial yang kuat.

Pemimpin NU ke depan harus mampu menjaga marwah para kiai, merawat tradisi, dan membawa organisasi besar ini menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Baca Juga: Asus dan Xbox Bikin Gebrakan Lewat ROG Ally X20, Konsol Genggam Berbodi Transparan dengan Layar OLED

Harapan itu menjadi penting setelah beberapa waktu lalu warga NU disuguhi konflik di tubuh elite PBNU. Perselisihan antara Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU menjadi perhatian banyak orang.

Siapa yang benar dan siapa yang salah, tentu masing-masing memiliki penjelasan dan sudut pandang. Namun, masyarakat tidak selalu melihat konflik dari dokumen, argumentasi, atau mekanisme organisasi. Mereka melihat apa yang tampak di permukaan.

Dan, ketika para tokoh yang selama ini menjadi panutan terlibat perselisihan terbuka, masyarakat mudah kecewa. Bukan semata karena adanya perbedaan. Perbedaan adalah sesuatu yang wajar. Bahkan dalam organisasi sebesar NU.

Yang sering kali menjadi persoalan adalah ketika perbedaan kehilangan adab. Ketika perdebatan menjauh dari tradisi sopan santun. Ketika kepentingan terasa lebih menonjol daripada kemaslahatan bersama.

NU dibangun dengan ilmu. Dibesarkan dengan keteladanan. Dirawat oleh tradisi adab yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, muktamar ini harus menjadi momentum untuk kembali menguatkan semuanya.

Dari Madura, saya percaya para pemegang mandat akan tetap teguh pada pendirian. Tidak mudah terbawa arus. Tidak mudah tergoda kepentingan. Dan, tidak meninggalkan prinsip ketika menentukan pilihan.

Sebab, suara yang mereka bawa bukan sekadar suara peserta muktamar. Di belakangnya ada jutaan warga yang berharap NU tetap menjadi rumah besar. Tempat para kiai menjaga ilmu. Tempat tradisi dirawat. Tempat perbedaan diselesaikan dengan kebijaksanaan.

Selamat bermuktamar.

Jaga NU. Jaga marwah. Jaga kepercayaan Nahdliyin. (*)

*)Pemred Jawa Pos Radar Madura

Editor : Hera Marylia
Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama Jaga marwah menjaga NU nahdliyin nahdlatul ulama