Menunggu Kematian Koran yang Tak Kunjung Datang

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 11:29 WIB
Akhmadi Yasid
Akhmadi Yasid

Oleh Akhmadi Yasid*

 

SEKITAR sepuluh tahun lalu, ruang-ruang redaksi sesak dengan kalimat yang terdengar seperti vonis. Newspaper is dead. Koran akan mati!

Kalimat itu diucapkan dengan sangat yakin. Seminar-seminar media membahasnya. Pengamat meyakininya. Bahkan, sebagian wartawan mulai percaya bahwa profesi yang mereka cintai sedang menghitung hari.

Waktu itu memang ada alasannya. Radio mulai kehilangan pendengar. Televisi mulai digeser internet. Satu per satu surat kabar besar di berbagai negara tutup.

Di Indonesia pun tidak sedikit media cetak yang menyerah. Mesin cetak berhenti berputar. Gedung redaksi berubah fungsi. Wartawan kehilangan rumah. Semua tampak seperti sebuah keniscayaan.

Baca Juga: Menjangkau Lebih Luas

Lalu algoritma datang. Ponsel menjadi koran baru. Berita tidak lagi menunggu pagi. Ia lahir setiap detik. Bahkan, sebelum fakta selesai diverifikasi.

Orang mengatakan masa depan sudah selesai ditentukan. Media cetak tinggal menunggu giliran.

Tetapi pagi ini…Anda masih bisa membeli dan membaca koran. Anda masih bisa membuka halaman demi halaman yang baunya khas itu.

Artinya, ramalan itu belum sepenuhnya benar. Mungkin suatu hari nanti benar-benar terjadi. Tidak ada yang tahu. Namun setidaknya, satu dekade setelah kalimat “newspaper is dead” begitu populer, koran ternyata belum benar-benar mati.

Ia memang berubah. Platform berubah. Cara membaca berubah. Cara orang memperoleh informasi berubah. Tetapi, kebutuhan manusia terhadap informasi yang bisa dipercaya ternyata tidak pernah berubah.

Baca Juga: Koran, Jawa Pos Plus Radar Madura Tetap di Hati

Justru di era ketika semua orang bisa menjadi penyiar, semua orang bisa menjadi wartawan, dan semua orang bisa menjadi komentator, kebutuhan terhadap media yang bekerja dengan disiplin jurnalistik semakin terasa.

Media sosial begitu cepat. Kadang terlalu cepat. Sering kali lima menit lebih dahulu daripada fakta. Bahkan, tak sedikit berita yang lahir tanpa pernah mengenal rumus paling dasar jurnalistik: 5W+1H.

Yang penting viral. Yang penting ramai. Yang penting menang dulu. Belakangan urusan benar atau salah. Di situlah media profesional masih menemukan alasan untuk tetap hidup.

Saya melihat sendiri bagaimana jalan itu ditempuh. Jawa Pos Radar Madura adalah salah satu contohnya. Hari ini usianya genap 27 tahun. Usia yang tidak pendek bagi sebuah media daerah.

Apalagi hidup di tengah badai disrupsi yang tak pernah berhenti. Tentu tantangannya jauh lebih berat dibanding dua puluh tahun lalu. Tetapi ia tetap ada. Tetap dicari. Tetap dibaca.

Jumlah pembacanya bahkan masih mendekati besaran Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) untuk satu kursi DPRD Provinsi Jawa Timur. Sebuah angka yang tidak kecil bagi media lokal. Itu tidak terjadi karena kebetulan.

Baca Juga: Radar Madura, Kampus Kehidupan yang Tak Pernah Usai

Ia pasti lahir dari tiga hal yang sederhana, tetapi sulit dijalankan secara bersamaan. Konsisten. Komitmen. Dan, adaptasi.

Konsisten menjaga berita yang dapat dipercaya. Komitmen mengawal pembangunan daerah, sekalipun kadang harus berhadapan dengan kepentingan. Lalu beradaptasi dengan perubahan zaman melalui inovasi yang tidak pernah berhenti.

Media yang berhenti berinovasi memang akan mati. Tetapi, media yang terus belajar biasanya selalu menemukan jalan.

Bagi saya pribadi, Jawa Pos Radar Madura bukan sekadar tempat bekerja. Ia adalah sekolah kehidupan. Saya menghabiskan sekitar dua puluh tahun di sana.

Lebih lama daripada saya belajar di bangku kuliah. Saya masuk sebagai wartawan pada Juli 2004. Saat itu wartawan di Madura masih bisa dihitung dengan jari. Sekarang? Jari tangan dan kaki berapa orang pun mungkin tidak cukup.

Dulu seorang wartawan datang membawa buku catatan. Sekarang hampir semua orang datang membawa kamera. Dulu berita lahir setelah konfirmasi. Kini sering kali konfirmasi baru dilakukan setelah berita terbit.

Baca Juga: Narasi, Vibrasi, dan Komplikasi

Dulu wartawan dihormati sebagai penyampai risalah publik. Dalam terminologi pers, profesi ini bahkan kerap disandingkan dengan semangat menyampaikan risalah—bukan karena menyamakan diri dengan kerasulan, melainkan karena mengemban tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran kepada masyarakat.

Hari ini tantangannya berbeda. Mencari kabar yang bebas nilai menjadi semakin sulit. Berita sering kali tidak lagi diukur dari seberapa benar faktanya. Melainkan, dari siapa yang diberitakan. Siapa pemilik medianya. Siapa yang diuntungkan. Siapa yang dirugikan.

Ketika fakta mulai kalah oleh kepentingan, di situlah sesungguhnya jurnalisme sedang diuji. Jawa Pos Radar Madura berdiri kokoh pada disiplin jurnalisme itu.

Saya berutang banyak kepada Radar Madura. Di sanalah saya belajar bahwa berpikir merdeka adalah kemewahan yang harus dijaga. Di sanalah saya belajar peduli kepada orang-orang kecil.

Di sanalah saya belajar bahwa wartawan tidak boleh takut mengatakan “tidak”, ketika semua orang memilih berkata “iya”. Pelajaran itu jauh lebih berharga daripada sekadar teknik menulis berita.

Baca Juga: JPRM, Jejak yang Tak Pernah Hilang

Karena pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya soal menulis. Ia adalah soal keberanian. Apakah koran akan benar-benar mati? Saya tidak tahu. Tidak ada yang tahu.

Teknologi akan terus berubah. Algoritma akan semakin canggih. Kecerdasan buatan akan semakin pintar. Tetapi selama masih ada manusia yang menghargai fakta, menghormati verifikasi, dan percaya bahwa kebenaran membutuhkan proses, saya yakin jurnalisme akan selalu menemukan bentuk barunya.

Dan saya percaya, Jawa Pos Radar Madura akan tetap berjalan di jalan itu. Tetap konsisten. Tetap beradaptasi. Tetap menjadi penjaga akal sehat. Tentu saja, bersama para pembacanya. (*)

*)Mantan Pemred Jawa Pos Radar Madura, kini anggota DPRD Sumenep

Editor : Hera Marylia Damayanti
Newspaper is dead dasar jurnalistik Beradaptasi media cetak berinovasi