Oleh Moh. Subhan*
Ada masa ketika pagi terasa belum lengkap sebelum membuka lembar demi lembar koran. Bagi banyak orang, itulah cara paling mudah mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya.
SAYA termasuk yang tumbuh pada masa itu. Saat internet masih menjadi barang mahal, membaca berita di koran adalah pilihan paling masuk akal. Kalau ingin berselancar di dunia maya, kami harus pergi ke warung internet dan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
Sering kali, cukup membaca koran yang dipajang di kampus. Itu sudah membuat seorang mahasiswa seperti saya merasa tidak ketinggalan informasi. Karena kuliah di kampus yang ada di Madura, pilihan utama bacaannya adalah Jawa Pos Radar Madura.
Hari ini semuanya berubah. Cara masyarakat mengonsumsi informasi pun ikut berubah. Berita hadir dalam hitungan detik. Cukup melalui telepon genggam, siapa pun dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di berbagai penjuru dunia.
Baca Juga: Koran, Jawa Pos Plus Radar Madura Tetap di Hati
Perubahan zaman mendorong Jawa Pos Radar Madura terus beradaptasi. Tidak hanya hadir melalui koran, tetapi juga mengembangkan media daring dan berbagai platform media sosial. Tujuannya sederhana, agar informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan semakin mudah dijangkau masyarakat.
Tentu, semua itu dijalankan dengan satu pegangan yang tidak pernah berubah: integritas. Di tengah tuntutan kecepatan, Jawa Pos Radar Madura tetap menjadikan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers sebagai kompas dalam setiap proses peliputan.
Perjalanan ini masih panjang. Dunia media akan terus berubah, teknologi akan terus berkembang, dan tantangan akan semakin beragam. Namun, satu hal yang akan tetap dijaga: Jawa Pos Radar Madura harus tetap hadir untuk mengawal setiap persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Komitmen lain yang terus dijaga adalah tidak membiarkan sebuah persoalan berhenti pada satu pemberitaan. Setiap isu yang menyangkut kepentingan publik akan terus dikawal hingga tuntas. Sesuai tema HUT tahun ini: Menjangkau Lebih Luas, Mengawal hingga Tuntas.
Sebab, jurnalisme bukan sekadar mengabarkan informasi kepada masyarakat. Tetapi, juga memastikan masyarakat mengetahui bagaimana sebuah persoalan berkembang dan diselesaikan.
Baca Juga: Radar Madura, Kampus Kehidupan yang Tak Pernah Usai
Mencerdaskan Bangsa
Bagi Jawa Pos Radar Madura, menjadi media bukan hanya soal menyampaikan berita. Ada tanggung jawab lain yang tidak kalah penting, yaitu ikut mencerdaskan sumber daya manusia (SDM) bangsa. Baik melalui pembinaan di lingkungan internal maupun melalui informasi yang disajikan kepada pembaca.
Karena itu, berbagai kegiatan literasi media terus dilakukan. Mulai dari pendidikan dan pelatihan jurnalistik di sekolah, seminar kepenulisan, kunjungan redaksi, hingga kerja sama program magang dengan berbagai perguruan tinggi. Harapannya, masyarakat semakin bijak dalam memilih informasi di tengah derasnya arus konten digital.
Dalam hal pengembangan SDM, Jawa Pos Radar Madura seolah menjadi kawah candradimuka. Tidak semua orang bertahan lama di dalamnya. Namun, banyak alumninya justru dipercaya memimpin di berbagai tempat. Ada yang menjadi anggota DPRD, komisioner KPU, aparatur sipil negara, akademisi, pimpinan perusahaan, dan pemimpin redaksi, hingga tetap istiqamah mengabdikan diri sebagai wartawan di berbagai media. (untuk ini saya bahas dalam tulisan yang berbeda).
Di usia ke-27 ini, Jawa Pos Radar Madura telah membuktikan dua hal. Yakni, tetap tumbuh sebagai media yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman, sekaligus menjadi rumah yang melahirkan banyak rumah baru melalui orang-orang yang pernah menjadi bagiannya. (*)
*)Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Madura