Koran, Jawa Pos Plus Radar Madura Tetap di Hati

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 07:48 WIB
Ahmad Mustain Saleh
Ahmad Mustain Saleh

Oleh Ahmad Mustain Saleh*

 

BAGI generasi yang lahir di era 80-an hingga awal 90-an, ketersediaan informasi masih terasa mahal dan berharga. Ketika hidup di masa anak-anak, suara seorang penyiar dari balik radio ”butut” selalu dinantikan. Entah itu mengabarkan sesuatu yang terjadi di pelosok Nusantara atau kabar dari mancanegara.

Barulah di tahun 90-an, ketika menginjak bangku SMP dan SMA, generasi ini menemukan televisi sebagai sumber hiburan dan informasi. Itu pun diawali dengan TVRI yang warnanya hitam putih dan hanya satu-dua channel televisi swasta yang jam tayangnya sangat terbatas.

Saluran informasi pilihan lainnya bagi generasi tersebut yakni surat kabar. Koran, majalah, tabloid, dan sejenisnya bak jamur di musim hujan. Banyak sekali pilihan sesuai dengan segmen yang diminati pembaca. Bahkan, koran pun ada yang terbit pagi dan terbit sore. Kejadian yang terjadi langsung secepatnya disajikan oleh perusahaan surat kabar.

Sehingga, tidak ada kejadian yang dianggap basi atau terlambat sampai pada pembaca. Sungguh, media koran saat itu rujukan masyarakat mendapatkan kabar dan informasi.

Banyaknya media cetak yang beredar pada era tersebut mampu membuat generasi melek literasi. Pasalnya, bagi yang belum memiliki kemampuan finansial berlangganan dan membeli koran eceran, kantor pemerintahan menyiapkan semacam papan pengumuman yang ditempeli beberapa media tepercaya.

Di sekolah saya pun melakukan hal yang sama. Beberapa pondok pesantren pun melakukan hal yang sama. Bahkan, di beberapa pojok baca, beberapa media cetak juga ditempel dari pagi hingga keesokan harinya sebelum diganti yang baru. 

Beruntung, sebagai anak seorang abdi negara, orang tua saya berlangganan koran. Alhasil, setiap pagi sarapan informasi tidak pernah terlewatkan. Kalaupun harus berangkat ke sekolah, siang atau sore hari koran itu bisa dibaca sebelum nantinya ditumpuk untuk dijual dan didaur ulang.

Melalui surat kabar itulah, dulu informasi sampai pada masyarakat. Tanpa sensor dan beredel dari pemerintah seiring datangnya era reformasi, kebebasan pers dan keterbukaan informasi.

Namun, yang menjadi kunci sebuah berita yakni cover both sides sangat dijaga. Keseimbangan antar pihak yang terlibat dalam suatu kejadian atau peristiwa sangat dijaga wartawan pada zaman itu. Sesuatu yang mulai sulit ditemukan di era serbuan koran digital di era milenial ini.

Keberagaman rubrik yang ditawarkan koran pada masa emasnya juga sangat menarik. Masyarakat benar-benar diberikan pilihan mana surat kabar yang jempolan, partisan, dan hanya koran pinggiran.

Terbukti, siapa dan apa saja koran yang masih bertahan merebut hati pembacanya. Jawa Pos salah satu yang ada di dalamnya. Salah satu media yang tidak lekang oleh waktu dan mampu berinovasi dengan tuntutan zaman.

Kebiasaan membaca Jawa Pos setiap hari, membuat saya pribadi tetap setia berlangganan hingga saat ini. Ketika masuk masa SMA di awal tahun 2000-an, ikut kuis di akhir pekan, mengisi TTS, berkirim surat pembaca membuat Jawa Pos menjadi koran yang paham keinginan banyak kalangan.

Apalagi, di tahun 1999, saat duduk di bangku SMP, Jawa Pos menambahkan halaman khusus untuk berita kedaerahan melalui Radar Madura.

Terbitnya Jawa Pos Radar Madura (JPRM) benar-benar menjawab tuntutan otonomi daerah. Kebutuhan akan informasi tentang Madura dan segala dinamikanya tidak terbendung. Dan, Radar Madura adalah jawaban sejak 27 tahun silam. Berkembang bak kilat, karena mampu menjadi muara kehausan informasi kedaerahan.

Terbitnya koran Radar Madura pula yang menjadi salah satu pelecut saya mendalami dunia jurnalistik. Apalagi seiring memasuki dunia putih-abu abu, SMA saya menyediakan ekstrakurikuler jurnalistik. Berlanjut hingga di bangku kuliah, aktif di pers kampus.

Guna mengasah skill jurnalistik, kerap kali di akhir pekan berkirim tulisan dan opini ke Radar Madura. Jawa Pos benar-benar memberikan ruang besar pada masyarakat untuk menjadi penyokong informasi berkualitas.

Tercatat, tiga kali tulisan akhir pekan saya terbit di JPRM. Hal itu membulatkan tekad, berkarier di dunia jurnalistik bukan pilihan, tapi sudah menjadi jalan hidup.

Sejak akhir 2007 lah, saya bergabung dengan keluarga besar Jawa Pos Radar Madura. Merintis dari tugas lapangan, mengedit di depan monitor hingga di level manajemen. Memanggul kamera SLR tiap hari membuat saya merasa semakin keren dan tidak menyesal memilih dunia jurnalistik.

Mengawali pewarta foto atau fotografer, lama sebagai wartawan olahraga, hingga dipercaya menjadi redaktur pelaksana adalah pengalaman jurnalistik yang saya jalani. Tak terasa, 10 tahun bangga bergabung bersama JPRM.

Praktiknya, JPRM tidak hanya ladang pengabdian dunia jurnalistik. Sebagai grup Jawa Pos, manajemen perusahaan media berpusat di Surabaya ini juga luar biasa. Belajar berbisnis, mengelola SDM dan sumber daya lainnya menjadikan bekal hidup saya semakin kompleks.

Bangga pernah menjadi bagian Radar Madura tidak bisa terbantahkan kembali. Hal itu benar-benar terasa saat saya mengabdi di lembaga lain selepas pensiun dini dari dunia jurnalistik.

Kini, memasuki usia Radar Madura ke-27, belum ada pihak lain yang mampu menggesernya sebagai pilihan utama sumber informasi. Orang bilang, sekarang informasi dan berita sudah sangat murah dan meriah.

Tapi yang perlu dicatat, apakah kemajuan teknologi, banyaknya media atau koran digital sudah menjadi pilihan yang tepercaya. 

Media era baru boleh mengeklaim mereka sangat cepat dalam penyajian beritanya. Namun, apakah mereka sudah berhasil menjawab kebutuhan masyarakat akan kebenaran berita serta prinsip-prinsip jurnalistik yang baik dan benar.

Dan terutama, apakah pola media digital modern saat ini dengan booming dan kata-kata viral sudah memastikan jalan baru mencerdaskan anak bangsa. Secara pribadi, saya memilih media mainstrem seperti koran, terutama Jawa Pos yang dilengkapi Radar Madura sebagai pilihan utama sejak dulu, sekarang, dan masa depan. Itu menegaskan Jawa Pos dan Radar Madura selalu di hati. (*/han)

*)Mantan HRD Jawa Pos Radar Madura.

Editor : Hera Marylia Damayanti
surat kabar cover both sides berita kedaerahan jawa pos radar madura