Jurnalisme adalah Perlawanan

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 06:19 WIB
Moh. Amiruddin
Moh. Amiruddin

Oleh Moh. Amiruddin

 

Berawal dari perjalanan intelektual saya di bangku kuliah, aktif dalam sebuah organisasi kemahasiswaan yang dibekali analisis sosial, peduli keadaan sekitar, aktif menyuarakan aspirasi, serta menolak kebijakan yang tidak prorakyat, dari sanalah karier hidup saya dimulai.

Setelah resmi melepas status sebagai mahasiswa pada 2009, saya mulai menggeluti dunia kerja, tepatnya di perusahaan media, berbekal sedikit pengalaman di dunia organisasi saya mulai bisa menuangkan pikiran-pikiran saya melalui tulisan.

Tepat 10 Januari 2010, ya saya masih ingat di mana saya menerima SK penerimaan wartawan magang, memang sudah menjadi SOP dari sebuah perusahaan media, calon wartawan yang diterjunkan ke lapangan tidak langsung menjadi wartawan, melainkan wartawan magang, kala itu di akhir tulisan dicantumkan inisial (c) calon, bukan langsung inisial nama penulis, saya mendapat inisial c10 karena saya calon wartawan ke-10 yang diangkat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di tahun itu.

Baca Juga: Menggali Kubur Narsisme: Kritik Al-Qur'an terhadap Fenomena Crazy Rich Siber

Beruntung sekali rasanya, saya bisa mengenal nama-nama besar jurnalis di Madura. Seperti mas M. Tojjib, Taufik Rizqon, Rusli Djunaidi, Edi Kurniadi, Abrari Alzael, Akhmadi Yasid, Nara Ahirullah, Feri Ferdiansyah, Firman Arif Pribadi, Nadi Mulyadi, dan masih banyak yang lain yang pada akhirnya jadi rekan sekantor waktu itu.

Berbekal pengalaman menggali, menganalisis data, dan mengungkap fakta sejak kuliah, saya cukup mudah beradaptasi, sehingga waktu magang saya hanya 6 bulan lamanya. Apalagi, saya digembleng dan dididik penuh arti baik di lapangan maupun di balik layar komputer, hingga akhirnya kemudian di akhir tulisan berita dicantumkan inisial (amr), itu artinya saya sudah diangkat menjadi wartawan resmi sebuah perusahaan media bergengsi di Madura kala itu, yakni Jawa Pos Radar Madura.

Saat itu, harian pagi JPRM masih berusia 11 tahun, usia yg masih muda namun sudah matang bagi dunia pers di Madura, apalagi JPRM selalu menjadi rujukan utama dan pusat informasi bagi masyarakat karena belum ada media online, apalagi media sosial (medsos) tidak seramai sekarang.

Karierku di JPRM tergolong cepat, karena pada tahun 2012 ada beberapa senior yang secara resmi mengundurkan diri karena mendirikan perusahaan media baru di Madura, saya yang baru bekerja dua tahun menggantikan posisi yang sangat vital di dapur redaksi, yakni menjabat sebagai Redaktur di 2012, dan Koordinator Liputan pada 2013, kemudian terakhir menjabat sebagai Kepala Biro Pamekasan.

Baca Juga: Menggugat Kemajuan Madura

Perjalanan di dunia jurnalistik mengajarkan saya satu hal mendasar, wartawan bukan sekadar profesi yang mengumpulkan kata, melainkan sebuah amanah untuk menjadi mata dan telinga masyarakat. Selama bertahun-tahun meliput berbagai dinamika dari hiruk pikuk politik hingga potret kemanusiaan di pelosok Madura. Saya menyadari bahwa setiap berita yang diturunkan adalah bentuk pertanggungjawaban kepada publik. Ada kalanya peliputan menguji batas fisik dan mental. Mulai dari menembus medan bencana yang sulit, menunggu narasumber berjam-jam, hingga menghadapi ancaman dan intimidasi di lapangan. Namun, lelah itu seketika sirna melihat tulisan yang dibuat mampu menggerakkan empati, mengubah kebijakan, atau sekadar memberi suara kepada mereka yang terpinggirkan.

Di ruang redaksi, saya belajar memahami manusia dari berbagai sudut pandang. Menjadi penyambung lidah bagi mereka yang tidak didengar dan pengontrol bagi mereka yang berkuasa. Di sinilah letak esensi pengabdian seorang jurnalis, menegakkan independensi dan menyajikan fakta secara objektif di tengah derasnya arus informasi.

Saya juga menyadari, bahwa Jurnalisme adalah pilar utama demokrasi yang berfungsi sebagai alat kontrol sosial dan perlawanan terhadap ketidakadilan maupun kebijakan yang merugikan rakyat. Melalui kerja-kerja investigasi dan pelaporan berbasis fakta, media membongkar penyalahgunaan kekuasaan dan memperjuangkan hak-hak masyarakat yang terpinggirkan.

Jurnalis memang tidak punya toak seperti para pedemo, jurnalis memang tidak punya suara seperti anggota DPR, tapi jurnalis punya jari (pena) untuk menuangkan pikiran-pikiran positifnya agar menjadi pertimbangan kebijakan pemerintah untuk kemajuan daerah dan bangsa.

Baca Juga: Dari Dapur Redaksi ke Ruang Demokrasi

Nilai dasar jurnalisme sebagai bentuk perlawanan saya wujudkan melalui tulisan dengan mengawasi dan mengkritisi setiap regulasi pemerintah agar tetap berpihak pada kesejahteraan dan kepentingan rakyat.

Menyuarakan aspirasi masyarakat yang tertindas dalam berbagai aspek kehidupan, memberikan ruang bagi kelompok marginal, membongkar praktik korupsi dengan melakukan investigasi mendalam untuk menyingkap skandal, kolusi, dan penyelewengan dana publik yang merugikan negara.

Sedikit saya contohkan, saya pernah menggagalkan adanya rencana pungutan liar (pungli) di berbagai layanan lembaga pemerintah, baik di dunia pendidikan, layanan sosial, kesehatan, termasuk yang saya ingat pada saat awal-awal program pemerintah pusat bantuan langsung tunai (BLT), yang mana pada saat pendataan banyak oknum yang meminta uang agar dimasukkan dalam daftar calon penerima BLT, raskin, dan masih banyak contoh kasus lainnya yang dikawal setiap harinya oleh JPRM. Tentu saja, saya menggunakan kebebasan pers yang bertanggung jawab dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.

Profesi ini mungkin tidak menjanjikan kekayaan materi yang melimpah, namun memberikan kepuasan batin yang tak ternilai. Setiap kata yang dirangkai adalah jejak sejarah yang ditinggalkan untuk generasi mendatang.

Kini, lembaran baru dihadapi para jurnalis, pena ini mungkin akan beralih fungsi, namun idealisme dan semangat kewartawanan akan terus mengalir dalam nadi. Di tengah banjir informasi digital dan AI, wartawan wajib mengutamakan verifikasi fakta agar tidak menyebarkan disinformasi.

Baca Juga: Kontestasi di Arena Media

Pada pertengahan tahun 2017, saya secara resmi resign dari JPRM karena berniat ingin menggeluti dunia baru, yakni menjadi praktisi dalam dunia demokrasi sebagai penyelenggara pemilu dan pemilihan, tepatnya sebagai Komisioner KPU Kabupaten Pamekasan, sejak periode 2019–2024, dan periode 2024 hingga sekarang.

Pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan setiap hari selama menjadi wartawan cukup membantu saya dalam dunia kerja saat ini, yakni menjaga demokrasi kita dari dalam, tidak hanya dari luar seperti pada saat menjadi wartawan. Melihat perkembangan zaman yang serbadigital saat ini, wartawan harus melakukan verifikasi berlapis (konfirmasi), jangan mudah menelan mentah-mentah informasi yang viral atau dari media sosial. Praktikkan standar reportase tradisional seperti cover both sides sebelum memublikasikan berita. Jadikan AI sebagai asisten, bukan pengganti,

Manfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu riset atau transkrip, tetapi pastikan tulisan, empati, dan etika profesi tetap sepenuhnya dikendalikan oleh manusia.

Tahun ini, JPRM sudah berusia 27 tahun, usianya sudah semakin dewasa, saya berharap JPRM yang juga menjadi perusahaan media di Madura, tidak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan harus menjadi rumah masa depan untuk kesejahteraan dan kemajuan Madura ke depan.

JPRM wajib hukumnya menjaga ciri khasnya sebagai penyaji berita yang akurat, mendalam dan menggali akar masalah, dampak jangka panjang, dan latar belakang yang tersembunyi. Sehingga, dapat membuka mata masyarakat untuk menangkap fakta yang sebenarnya.

Tidak hanya itu, perusahaan media hari ini juga harus menyusun panduan penggunaan teknologi atau AI yang transparan dan akuntabel. Diversifikasi pendapatan, tidak hanya bergantung pada iklan konvensional, kembangkan model bisnis berbasis langganan (paywall), keanggotaan (membership), atau event agar media tetap independen.

Jurnalisme adalah perlawanan terhadap kebatilan, jurnalisme adalah jalan pengabdian seumur hidup pada kebenaran. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang luar biasa. (*/han)

*)Anggota KPU Kabupaten Pamekasan. Mantan Redaktur dan Korlip Jawa Pos Radar Madura

Editor : Hera Marylia Damayanti
dunia jurnalistik standar reportase dunia pers jurnalisme Perlawanan