Oleh Fujianto*
PERGANTIAN tahun hijriah dalam kalender Islam selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ada harapan baru yang tumbuh, ada doa-doa yang kembali dipanjatkan, dan ada kesempatan untuk menata langkah menuju masa depan yang lebih baik. Bagi umat Islam, datangnya Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dari tahun ke tahun berikutnya. Ia adalah momentum spiritual yang mengajak setiap muslim untuk melakukan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang telah dilalui.
Secara historis, Tahun Baru Hijriah mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Sebuah perjalanan yang tidak mudah, penuh pengorbanan, tantangan, dan risiko. Namun di balik semua itu tersimpan pelajaran besar bahwa perubahan menuju kebaikan selalu membutuhkan pengorbanan, keberanian dan keteguhan hati.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern saat ini, sering kali kita terjebak dalam rutinitas yang melelahkan. Hari-hari berlalu begitu cepat. Kita sibuk mengejar target pekerjaan, memenuhi tuntutan kehidupan, dan menyelesaikan berbagai urusan duniawi. Tanpa disadari, ada banyak hal yang perlu kita evaluasi. Apakah kita telah menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya? Apakah ibadah kita semakin berkualitas? Apakah keberadaan kita semakin memberi manfaat bagi orang lain?
Tahun Baru Hijriah hadir membawa undangan untuk refleksi diri menggunakan filosofi kaca spion yang digunakan untuk menengok ke belakang untuk menatap ke depan dengan lebih bijaksana. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berhijrah. Hijrah bukan hanya berpindah tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW, tetapi juga berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kemalasan menuju produktivitas, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari keputusasaan menuju optimisme.
Kebahagiaan menyambut Tahun Baru Hijriah bukanlah kebahagiaan yang diwujudkan dengan kemeriahan semata. Kebahagiaan itu lahir ketika kita menyadari bahwa Allah masih memberikan umur, kesehatan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah mendahului menghadap Allah SWT. Sementara kita masih diberi ruang untuk melanjutkan perjalanan hidup. Bukankah itu sebuah nikmat yang luar biasa?
Oleh karena itu, Tahun Baru Hijriah seharusnya menjadi momen syukur. Syukur atas segala pencapaian yang telah diraih, sekaligus syukur atas berbagai ujian yang telah menguatkan diri kita. Tidak semua perjalanan berjalan sesuai harapan. Ada kegagalan, kesedihan, kehilangan, dan berbagai cobaan yang mungkin pernah kita alami. Namun semua itu adalah bagian dari proses pendewasaan yang menjadikan kita lebih kuat dan lebih bijaksana dalam memandang kehidupan.
Momentum ini juga mengajarkan pentingnya memperbarui niat. Banyak impian yang mungkin belum terwujud, banyak target yang belum tercapai, dan banyak rencana yang tertunda. Namun selama masih ada waktu, tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali. Tahun Baru Hijriah mengingatkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh seberapa banyak kegagalan yang pernah dialami, melainkan oleh keberanian untuk bangkit dan melangkah lagi.
Bagi para pendidik, Tahun Baru Hijriah dapat dimaknai sebagai semangat untuk terus menebarkan ilmu dan menginspirasi. Bagi para pelajar, ini menjadi momentum untuk meningkatkan semangat belajar. Bagi para pemimpin, ini adalah saat yang tepat untuk memperkuat integritas dan pelayanan. Dan bagi setiap insan, Tahun Baru Hijriah adalah panggilan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.
Pada akhirnya, kebahagiaan sejati dalam menyambut Tahun Baru Hijriah terletak pada kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah. Pada hakikatnya, setiap tahun yang berlalu berarti usia kita semakin berkurang, tetapi kesempatan untuk berbuat baik harus semakin bertambah. Jangan biarkan pergantian tahun berlalu begitu saja tanpa makna. Jadikan momentum ini sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, memperkuat ibadah, memperluas manfaat, dan memperbanyak amal kebaikan.
Mari menyambut Tahun Baru Hijriah dengan hati yang penuh syukur, pikiran yang penuh harapan, dan tekad yang kuat untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih bermakna. Semoga memasuki tahun baru ini akan membawa keberkahan, kedamaian, kesehatan, dan kemudahan dalam setiap langkah kita.
Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H.
*Penulis adalah Ketua Komunitas Belajar Pena Guru Nusantara dan Kepala Sekolah SMAN 1 Sapeken Kab. Sumenep
Editor : Hera Marylia Damayanti