Catatan singkat seorang santri atas wafatnya KH. Moh. Said Abdullah pada Selasa, 9 Juni 2026, pukul 21.30 WIB, dan dikebumikan pada Rabu, 10 Juni 2026, pukul 16.00 WIB. oleh Set Wahedi , Alumnus Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan, Sumenep
***
”Enggi, lerres (iya, benar),” jawab Ustaz Jumandi, ketua Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar (IKAMA), memastikan kabar yang beredar di beberapa grup WhatsApp. Saya pun tidak perlu melanjutkan percakapan.
Jam menunjukkan angka 21.50. Hanya air mata yang menetes: Kiai. Waktu terasa berhenti, desir angin menghambur hampa, dan lagu Kitaro yang mengalun di ruang kerja memperdengarkan ratapan duka.
Adakah yang lebih pilu dari kematian? Seperti janji yang harus ditepati, kematian tak pernah ingkar. Tak ada yang bisa menyangkal atau menolaknya.
Ia ujung dari misteri pilihan hidup. Setiap orang akan merasakannya. Setiap orang pasti akan sampai padanya: di sanalah, gerbang kehidupan baru ditandai.
Tapi bukankah kematian juga berarti jarak yang lengang? Jarak yang membentangkan segala keridaan dan hal-ihwal perjalanan yang harus dimaknai?
Penghujung tahun 1997, kali pertama orang tua menyerahkan dan memasrahkan saya sebagai santri.
Kiai menerima penyerahan itu seperti menerima mandat yang mesti diembannya dengan sepenuh hati. Kali pertama itu, di bawah tatapannya yang teduh, saya merasakan kefanaan hidup. Suaranya yang ringan dan segar. Kalimat-kalimatnya yang matang dan penuh penerimaan, membuat saya merasa tenang dan nyaman.
Sayangnya, selama rentang tujuh tahun, saya tidak seberuntung santri pada umumnya. Kenakalan membuat saya sering ”absen” dari majelis-majelis taklimnya.
Kebebalan membuat saya sering mendapatkan ”teguran” darinya. Di kelas angkatan, saya satu-satunya santri yang mendapatkan ”teguran” lebih dari satu kali: satu kali ketika tidur di kelas, tiga kali menjelang lulus SMA, dan beberapa kali ketika sudah di bangku kuliah.
Hanya satu keyakinan yang membuat saya tenang atas berbagai teguran itu: konon, teguran Kiai itu tanda kasih sayang.
Meski tidak seberuntung teman-teman saya, paling tidak, saya memiliki beberapa momen berharga bersama Kiai.
Pertama, ketika duduk di bangku kelas 2 MTs, saya berkesempatan untuk ngaji intens pada Kiai. Saya diminta menemani Gus Ebid (putra tertua Kiai) ngaji padanya. Satu kesempatan yang memberi saya pengalaman berharga dalam belajar. Sebelum ngaji pada Kiai, saya dan Gus Ebid aderres, belajar bersama.
”Jadi santri itu jangan sombong, Nak,” pesannya suatu ketika. ”Santri tidak boleh sombong. Dia harus belajar sungguh-sungguh dalam bidang keilmuannya. Dia harus membaca dan memahami kitab sebagai rujukan pemecahan masalah hidupnya.”
Di kemudian hari, dalam berbagai pertemuan ilmiah, pesan ”santri tidak boleh sombong” menjadi spirit luar biasa untuk belajar secara sungguh-sungguh, berdisiplin, banyak membaca, dan respek terhadap teman belajar. ”Santri tidak boleh sombong” itu semacam kearifan bahwa belajar itu adalah jalan menuju Yang Maha Mengetahui.
Momen berharga lainnya, saya dapatkan ketika pamit untuk berhenti dari pondok. Waktu itu, Kiai menerima saya dengan percakapan ringan. Kiai menanyakan hal-ihwal rencana saya setelah purna dari pondok.
”Saya ingin bekerja di Surabaya, Kiai,” jawab saya waktu itu polos. Tak ada bayangan untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Lahir di keluarga yang kurang mampu, saya hanya menyisakan satu jalan hidup: bekerja keras.
”Jadilah orang yang bermanfaat, Nak,” lanjut Kiai, lalu beliau menyampaikan satu hadis, bahwa manusia paling mulia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Saya hanya mengangguk, meski saya belum paham. Bagaimana saya bisa bermanfaat untuk orang lain?
Lalu, Kiai meneruskan, ”Ingat, ya, Nak. Jaga akhlakmu dalam pergaulan.”
Saya menangis. Selama di pondok, selama tujuh tahun, saya melakukan hal-hal yang kurang berakhlak: keluar tanpa izin pengurus, sering bolos ngaji setelah subuh, mandi di WC, memetik buah mangga di depan masjid, dan lainnya.
Kiai menekankan, akhlak harus menjadi spirit kehidupan para santri. Akhlak harus menjadi tolok ukur atas kematangan ilmu. Semakin matang keilmuan santri, semakin luhur dan penuh welas asih laku hidupnya, baik pada sesama manusia maupun pada lingkungannya.
Waktu itu, saya hanya berucap, ”Mohon doa, Kiai.”
”Iya, Nak,” jawab Kiai dengan nada asih, lalu Kiai berdoa. Mendapatkan doa dari Kiai, saya plong. Saya mengalami katarsis. Saya tersedu saat mencium punggung tangannya.
Lalu bagaimana menjadi orang bermanfaat untuk orang lain? Pertanyaan ini terus menggantung dalam diri saya. Pertanyaan yang membawa saya dalam pencarian panjang di bangku kuliah.
Tidak hanya ketika menjadi santri, saya juga mendapatkan momen berharga bersama Kiai saat berlabel alumni.
Kesempatan itu datang ketika saya menemani Salamet Riyadi (teman satu angkatan) untuk meminta pandangan Kiai terkait amaliah ibadah yang sedikit berbeda di tempat kerjanya. Riyadi masygul, bimbang, antara bertahan atau mencari pekerjaan di tempat lain. Kiai hanya tersenyum.
”Kau tahu syarat dan rukun salat, Nak?” tanya Kiai.
Riyadi mengangguk, lalu menyebutkan syarat dan rukun salat.
”Kau tahu sunah-sunah dalam salat, Nak?” tanya Kiai lagi.
Riyadi mengangguk, lalu menyebutkan sunah-sunah shalat.
”Nak, jika perbedaan itu perihal sunah, tidak apa-apa. Tapi jika yang berbeda itu rukun, kau mesti firaq.”
***
Kalimat tauhid menggema, memenuhi udara halaman Masjid Aminah Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep. Ribuan orang berdesak-desakan, berebut mengantarkan Kiai ke tempat peristirahatan terakhir.
Sambil melantunkan kalimat tauhid, tangis mereka pecah. Mereka seperti para penyaksi, bahwa guru kami bukan sekadar pengajar, tapi dia adalah kompas paradaban bagi murid dan masyarakatnya.
Rabu sore itu, prosesi pemakaman Kiai -sosok yang berintegritas dalam keilmuan, yang berdedikasi dalam mendidik santri, yang berakhlak dan welas pada sesama, yang teguh memegang prinsip amar ma’aruf nahi munkar, yang moderat dan komprehensif dalam melihat persoalan, yang berdaulat dan mandiri dalam politik- menyuguhkan tragedi yang mengharukan dan menyentuh. Bukan kematian benar menusuk kalbu, kata Chairil Anwar. Keridaanmu menerima segala tiba // tak kutahu setinggi itu atas debu// dan duka maha tuan bertakhta.
Ya, memang kematian adalah janji yang memisahkan raga, menyisakan duka. Tapi ia tidak bisa melepaskan ikatan cinta antara guru dan murid; antara kiai dan santri; antara doa dan amin.
Selamat berpulang, Kiai. Surga Allah adalah tempat terbaik untukmu. (*)
*)Mereka yang diikat oleh cinta sejati, akan tetap saling memiliki. Ungkapan yang ditulis oleh Lucius Annaeus Seneca, seorang penulis terkemuka dari zaman Romawi Kuno.
Editor : Amin Basiri