Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ramadhan: Reorientasi Arah Marketing, Dari Hitung Untung Menuju Aksi Nyata

Hera Marylia Damayanti • 2026-03-14 15:01:09

Dr. Aang Kunaifi, SE., M.E.I., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAI Al-Khairat Pamekasan
Dr. Aang Kunaifi, SE., M.E.I., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAI Al-Khairat Pamekasan

Oleh Dr. Aang Kunaifi, SE., M.E.I

 

TEMAN-teman pengusaha, coba kita jujur sebentar. Setiap kali buka usaha di pagi hari, apa yang kali pertama terlintas di pikiran? ”Target hari ini berapa?” atau ”Atur diskon biar closing naik.” Pasti kita sibuk berpikir, konten mana yang bisa bikin orang checkout sekarang juga? Hmm…tidak salah. Kita semua hidup dari bisnis. Kita punya karyawan yang harus digaji, keluarga yang harus dinafkahi, dan cicilan yang kadang terasa lebih setia daripada pelanggan.

Tapi, izinkan saya bertanya pelan-pelan: Bagaimana kalau justru pelanggan datang bukan karena kita pintar menjual, tapi karena kita tulus membantu? Inilah semangat stop selling, start helping.

Ramadhan setiap tahun mengajarkan kita satu hal yang sederhana tapi revolusioner, yaitu shadaqah. Islam telah mengajarkan dalam surah Al-Baqarah ayat 261 bahwa: Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki...”, sedekah di bulan biasa saja dijanjikan balasan berlipat hingga 700 kali. Apalagi di bulan Ramadhan sebagaimana hadis Rasulullah SAW, Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Logikanya sederhana: memberi tidak pernah membuat kita miskin. Justru membuka pintu rezeki yang tidak disangka-sangka.

Sekarang coba kita tarik ke dunia bisnis. Selama ini banyak UMKM terjebak pada pola ”hitung untung”. Semua dihitung: biaya iklan, margin, conversion rate, bahkan like dan share pun dihitung, tidak salah, sih! Tetapi kalau semuanya hanya tentang angka, bisnis bisa terasa kering. Kadang pelanggan itu bukan ingin diskon, mereka hanya ingin dipahami. Kadang mereka bukan ingin harga termurah, mereka ingin solusi yang jujur. Nah, di sinilah helping menjadi strategi marketing paling kuat.

Coba lihat bagaimana platform seperti Gojek berkembang. Awalnya bukan soal aplikasi canggih atau promosi besar-besaran. Ide dasarnya sederhana, yaitu membantu orang mendapatkan transportasi lebih mudah dan membantu driver mendapatkan penghasilan. Helping dulu, monetisasi menyusul. Tokopedia pun demikian, visi awalnya bukan bagaimana jadi unicorn, tetapi bagaimana membantu UMKM agar bisa menjual produknya tanpa harus punya toko fisik yang pasti mahal. Tokopedia menciptakan akses, membantu para pedagang dan produsen. Dan hasilnya? Market datang sendiri. Bahkan, Grab sukses bukan karena sekadar jual jasa transportasi, tetapi karena memudahkan kehidupan sehari-hari, mulai dari pesan makanan, kirim barang, atau bayar tagihan. Kehadiran platform dan aplikasi tersebut menjawab kebutuhan, bukan sekadar menawarkan produk.

Nah, kita para pelaku UMKM kadang sering terbalik. Kita bangun produk dulu, lalu memaksa pasar butuh. Padahal seharusnya kita berpikir untuk menganalisis masalah sehari-hari pelanggan, selanjutnya bisnis kita hadir sebagai solusi atas masalah yang nyata.

Saya pernah bercanda dengan seorang teman pengusaha, ”Kalau postinganmu tiap hari cuma ‘Buruan Order!!!’, lama-lama pelanggan bisa merasa seperti diteriaki di pasar.” Hehe... Coba sesekali ubah pendekatan. Alih-alih: ”Promo terakhir hari ini!” Coba kita tawarkan: ”Teman-teman, kami tahu menjelang Lebaran kebutuhan meningkat. Kalau ada yang butuh paket hemat atau bisa bayar bertahap, kabari ya. Kami bantu.” Kalimatnya sederhana. Tapi, rasanya berbeda. Helping bukan berarti kita jadi lembaga sosial. Helping berarti kita menghadirkan empati dalam transaksi.

Di era digital, helping bisa diwujudkan dalam banyak cara, misalnya edukasi lewat konten yang jujur, memberikan tips gratis yang relevan, atau dalam wujud menjawab chat pelanggan dengan sabar (meski kadang pertanyaannya sama terus, hehe…), memberi solusi bahkan ketika itu tidak langsung menghasilkan penjualan. Percayalah, pelanggan yang merasa ditolong akan kembali. Lebih dari itu, mereka akan menjadi loyalis dan merekomendasikan. Itulah shadaqah (helping) dalam bisnis.

Shadaqah bukan hanya soal uang, ia bisa berupa waktu, perhatian, kejujuran, bahkan pelayanan yang tulus. Dalam perspektif spiritual, memberi membuka keberkahan. Dalam perspektif marketing modern, memberi (gift) dapat membangun trust. Dan trust adalah mata uang paling mahal di era digital.

Baca Juga: Menjejak Syahdu di Jantung Annuqayah

Sekarang coba bayangkan, kalau setiap UMKM mengganti mindset dari ”berapa saya dapat?” menjadi ”apa yang bisa saya bantu?”, apa yang akan terjadi? Persaingan berubah menjadi kolaborasi. Pelanggan berubah menjadi komunitas. Transaksi berubah menjadi relasi. Dan menariknya, ketika helping menjadi budaya, hitung untung justru menjadi lebih mudah. Karena pelanggan tidak lagi membandingkan kita semata pada harga, tetapi pada rasa.

Ramadhan mengajarkan kita menahan diri; menahan lapar, menahan emosi, dan mungkin juga menahan ego bisnis yang ingin selalu menang sendiri. Justru di saat kita belajar memberi lebih dulu, Allah bukakan jalan dari arah yang tidak kita sangka. Bukankah itu yang sering kita dengar dalam kisah para pedagang yang jujur dan dermawan, al-rizqu min haytsu laa yahtasib?

Jadi teman-teman pengusaha, mungkin sudah waktunya kita melakukan reorientasi. Bukan berarti berhenti mencari untung, dan bukan berarti mengabaikan strategi. Tetapi, menata ulang niat dan pendekatan, karena di era digital ini, algoritma mungkin bisa menaikkan traffic, akan tetapi hanya empati yang bisa menaikkan keberkahan. Mari kita jadikan Ramadhan bukan sekadar momentum diskon besar-besaran, tapi momentum transformasi cara berpikir. Dari hitung untung menuju aksi nyata. Dari hard selling menuju helping. Dan siapa tahu, justru ketika kita berhenti terlalu sibuk menjual, pelanggan malah sibuk mencari kita. Bukankah itu lebih indah? (*)

*)Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAI Al-Khairat Pamekasan

Editor : Hera Marylia Damayanti
#hitung untung #reorientasi #Pelaku UMKM #Membantu #dunia bisnis #pengusaha #Marketing #ramadhan #shadaqah #aksi nyata #helping