Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Lailatul Qadar dan Transformasi Diri; Momentum Melampaui Rutinitas

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 12 Maret 2026 | 13:16 WIB

Guru Besar Kepemimpinan dan Direktur Pascasarjana UIN Madura Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.
Guru Besar Kepemimpinan dan Direktur Pascasarjana UIN Madura Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.

Oleh Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.

 

SETIAP bulan Ramadan menghadirkan ruang spiritual yang berbeda dalam kehidupan umat Islam. Bukan sekadar ritual tahunan, Ramadan adalah proses pembinaan jiwa yang mengajak manusia keluar dari rutinitas duniawi menuju kedalaman makna hidup.

Di antara puncak pengalaman spiritual tersebut adalah malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Lailatul Qadar, malam yang “lebih baik dari seribu bulan”.

Bagi banyak umat Islam, terutama di masyarakat tradisional seperti di Pulau Madura, Lailatul Qadar bukan hanya konsep teologis, melainkan pengalaman sosial dan spiritual yang hidup dalam tradisi.

Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, masjid dan musala dipenuhi jemaah yang menghidupkan malam dengan berbagai ibadah: membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan melaksanakan salat Tasbih yang diyakini memiliki keutamaan pengampunan dosa.

Di banyak desa di Madura, suasana malam ganjil Ramadan terasa berbeda. Lampu-lampu masjid tetap menyala hingga larut malam. Para orang tua, pemuda, bahkan anak-anak datang bersama untuk mengikuti rangkaian ibadah. Bagi sebagian masyarakat, salat Tasbih menjadi ritual yang dinanti setiap Ramadan.

Meski tidak semua orang memahami perdebatan fiqih tentang keutamaannya, praktik ini telah menjadi bagian dari ekspresi keimanan kolektif yang memperkuat rasa kebersamaan dan kesadaran spiritual.

Pengalaman spiritual kolektif ini sebenarnya menyimpan dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar pelaksanaan ibadah tambahan. Dalam pandangan ulama besar seperti Abu Hamid al-Ghazali, ibadah yang sejati adalah jalan menuju transformasi batin.

Dalam karya-karyanya tentang penyucian jiwa, Al-Ghazali menegaskan bahwa ibadah bukan hanya aktivitas fisik, tetapi proses mendidik hati agar semakin dekat kepada Tuhan.

Malam-malam yang dipenuhi zikir dan doa menjadi kesempatan bagi manusia untuk membersihkan diri dari kesombongan, keserakahan, dan berbagai penyakit hati.

Dengan perspektif ini, Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai momen eksistensial—sebuah kesempatan bagi manusia untuk meninjau kembali arah hidupnya.

Dalam keheningan malam, seseorang berhadapan dengan kesadarannya sendiri: tentang waktu yang telah berlalu, tentang kesalahan yang mungkin pernah dilakukan, serta tentang harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Selain dimensi spiritual individu, pengalaman Lailatul Qadar juga memiliki dimensi sosial yang penting. Pemikir muslim besar seperti Ibn Khaldun menjelaskan bahwa agama memiliki peran kuat dalam membangun solidaritas sosial.

Ritual kolektif yang dilakukan bersama-sama menciptakan ikatan emosional dan moral yang memperkuat kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, kegiatan ibadah di masjid selama malam-malam Ramadan menjadi sarana membangun kebersamaan dan nilai-nilai moral dalam komunitas.

Fenomena tersebut dapat kita lihat secara nyata dalam kehidupan masyarakat Madura. Tradisi berkumpul dan iktikaf di masjid pada malam-malam terakhir Ramadan tidak hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

Orang yang jarang bertemu dalam kesibukan sehari-hari dapat saling menyapa, berbagi cerita, bahkan saling mendoakan dalam suasana religius yang penuh kehangatan.

Di beberapa tempat, setelah rangkaian ibadah selesai, jemaah duduk bersama menikmati hidangan sederhana seperti kopi atau makanan ringan.

Percakapan yang terjadi sering kali tidak hanya soal kehidupan sehari-hari, tetapi juga tentang makna ibadah dan pengalaman spiritual selama Ramadan.

Tradisi sederhana ini menciptakan ruang refleksi yang memperkaya kehidupan religius masyarakat.

Namun, makna terdalam dari Lailatul Qadar sebenarnya tidak berhenti pada suasana religius satu malam. Esensi malam tersebut adalah perubahan jangka panjang dalam kehidupan manusia.

Jika seseorang benar-benar merasakan kedalaman spiritual malam itu, maka dampaknya seharusnya terlihat dalam sikap dan perilakunya setelah Ramadan berakhir.

Dalam konteks kehidupan modern yang sering kali dipenuhi kesibukan dan tekanan, Lailatul Qadar mengingatkan manusia untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang mekanis.

Malam itu menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali tujuan hidup: apakah kehidupan kita hanya diisi oleh pekerjaan, ambisi, dan pencapaian materi, ataukah ada dimensi spiritual yang juga perlu dipelihara.

Bagi masyarakat yang hidup dengan nilai-nilai religius kuat seperti di Madura, momentum ini sebenarnya memiliki potensi besar sebagai sumber transformasi sosial.

Ketika pengalaman spiritual individu terhubung dengan kehidupan komunitas, maka nilai-nilai seperti kejujuran, kepedulian, dan solidaritas dapat tumbuh lebih kuat dalam masyarakat.

Dengan demikian, Lailatul Qadar bukan sekadar malam penuh pahala yang dikejar setiap tahun. Ia adalah panggilan spiritual untuk memperbarui diri, memperdalam kesadaran akan makna hidup, serta memperkuat komitmen untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Pada akhirnya, keberhasilan seseorang dalam meraih makna Lailatul Qadar tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan pada malam itu.

Lebih dari itu, keberhasilan sejati terlihat dari perubahan yang terjadi setelahnya—ketika seseorang menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli kepada sesama, dan lebih sadar akan tanggung jawab moralnya sebagai manusia.

Jika transformasi semacam ini benar-benar terjadi, maka Lailatul Qadar akan terus hidup dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai kenangan spiritual Ramadan, tetapi sebagai sumber inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna bagi diri sendiri dan masyarakat. (*/han) 

*)Guru Besar Kepemimpinan & Direktur Pascasarjana UIN Madura

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ramadan #Ritual kolektif #panggilan spiritual #pengalaman spiritual #ruang refleksi #Tujuan Hidup #malam penuh pahala #madura #makna hidup #Solidaritas Sosial #tradisi #lailatul qadar