Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puasa Jari: Ramadan sebagai Madrasah Literasi Digital

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 5 Maret 2026 | 13:10 WIB

Dr. (Cand.) Rofiqi, M.Pd., dosen Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan
Dr. (Cand.) Rofiqi, M.Pd., dosen Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Oleh Dr. (Cand.) Rofiqi, M.Pd.

 

SEORANG bapak duduk di ruang tamu, sarung masih melilit pinggang sehabis Tarawih, membaca sekilas lalu meneruskan. Dalam hitungan menit, pesan itu sudah menyebar ke ratusan orang sekaligus.

Tidak ada niat jahat di wajah itu. Yang ada hanya rasa ingin berbagi, rasa solidaritas, dan sedikit rasa bangga karena merasa sudah menyampaikan sesuatu yang penting.

Ia bukan orang yang jahat. Ia hanyalah seseorang yang tergesa-gesa. Dan tanpa ia sadari, ia baru saja menjadi pengantar sebuah kebohongan yang tidak pernah membutuhkan orang jahat untuk menyebarkannya.

Saya mengenal sosok seperti bapak itu dengan sangat baik, bukan dari cerita orang lain, melainkan dari ruang kelas tempat saya belajar dan mengajar. Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa datang kepada saya dengan wajah sungguh-sungguh, menyodorkan ponselnya, memperlihatkan sebuah unggahan yang sudah dibagikan ribuan kali.

“Pak, ini benar ya?” tanyanya. Kurang dari dua menit, saya temukan bahwa informasi itu sepenuhnya palsu. Yang lebih menggelisahkan bukan fakta bahwa ia hampir tertipu, melainkan pengakuannya sesudahnya, “Saya sudah telanjur meneruskannya ke teman-teman, Pak.” Ia mahasiswa yang cerdas, rajin kuliah, dan terkenal religius. 

Kisah seperti itu terjadi setiap hari, di mana-mana, dan dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat 1.674 isu hoaks yang teridentifikasi hanya dalam satu tahun, Oktober 2024 hingga Oktober 2025, rata-rata lebih dari empat kebohongan terverifikasi beredar setiap harinya.

Dan itu baru yang sempat tertangkap oleh sistem pemantauan. Yang lebih mengejutkan, medium utama penyebarannya bukan situs gelap atau forum anonim, melainkan WhatsApp, ruang percakapan antara orang-orang yang saling kenal dan saling percaya.

Artinya, sebagian besar kebohongan yang beredar di negeri ini tidak disebarkan oleh musuh yang jahat, melainkan oleh orang-orang baik yang tidak sempat berpikir dua kali.

Pertanyaannya adalah mengapa. Mengapa orang-orang baik itu tidak sempat berpikir? Dan di sinilah Ramadan menyimpan ironi yang jarang kita bicarakan. Siapa pun yang pernah berpuasa tahu bagaimana kondisi tubuh menjelang berbuka, pikiran mulai kabur, kesabaran menipis, konsentrasi sulit dipertahankan.

Dalam psikologi kognitif, kondisi ini dikenal sebagai penurunan fungsi eksekutif, yaitu melemahnya kemampuan otak untuk menimbang dan memutuskan secara jernih. Tepat pada kelemahan itulah algoritma media sosial bekerja tanpa belas kasihan. Studi Vosoughi dan kolega dalam jurnal Science (2018) membuktikan bahwa berita palsu menyebar enam kali lebih cepat dari berita yang benar.

Ketika nalar yang lemah bertemu mesin yang menghargai kepanikan lebih dari kejernihan, yang terjadi bukan lagi sekadar salah paham individual. Sekretariat negara menyebutnya cognitive warfare, perang yang menyasar fondasi kepercayaan sosial bangsa.

Namun ada yang lebih mengganggu dari sekadar algoritma dan perang kognitif itu. Ada sebuah pertanyaan yang lebih dalam, yang lebih jujur, dan yang selama ini enggan kita ajukan kepada diri sendiri.

Mengapa umat yang sejak empat belas abad lalu sudah dibekali perintah tabayyun justru termasuk yang paling rentan terhadap jebakan kebohongan ini? Allah SWT telah berfirman dengan tegas dalam surah Al-Hujurat ayat 6,

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini lahir dari peristiwa yang hampir berujung tragedi. Seorang utusan membawa laporan keliru tentang sebuah kabilah, dan Nabi SAW nyaris menghukum orang-orang yang tidak bersalah. Namun Allah SWT menghentikannya tepat waktu, lalu menurunkan ayat ini sebagai koreksi sekaligus pelajaran abadi.

Kini gantilah utusan itu dengan akun anonim di TikTok. Gantilah kabilah yang hampir dizalimi dengan seseorang yang nama baiknya hancur oleh unggahan viral yang tidak pernah terbukti. Ayat yang turun empat belas abad lalu itu seolah ditulis untuk hari ini, untuk layar ponsel di tangan kita, untuk jempol kita yang selalu lebih cepat dari pikiran kita.

Jika ayatnya sejelas itu, jika relevansinya sedekat itu dengan kehidupan kita, lalu di mana letak persoalannya? Masalahnya bukan kita tidak tahu tentang tabayyun. Kita tahu, dan bahkan mahasiswa saya hafal ayatnya dan bisa menjelaskan maknanya dengan lancar.

Tetapi, pengetahuan yang indah itu tidak cukup kuat untuk menghentikan jempolnya ketika notifikasi muncul di layar dengan konten yang mengusik emosi. Kita mengajarkan konsepnya, tetapi tidak pernah melatih refleksnya. Tabayyun hidup sebagai hafalan, bukan sebagai kebiasaan. Dan di situlah celah yang terus-menerus dieksploitasi oleh para penyebar kebohongan.

Celah itu tidak bisa ditutup dengan regulasi semata, tidak bisa ditambal oleh teknologi secanggih apa pun. Ia hanya bisa ditutup oleh sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu latihan jiwa. Dan di sinilah letak keagungan Ramadan yang paling sering kita lewatkan.

Ramadan adalah madrasah, bukan dalam arti gedung dan kurikulum tertulis, melainkan sekolah jiwa yang mengajar dengan cara paling jujur, menempatkan kita dalam kondisi paling rentan, lalu mengundang kita memilih secara sadar bagaimana bersikap.

Para ulama klasik menyebutnya hifzh al-lisan, menjaga lisan. Hadis Nabi SAW riwayat Bukhari dan Muslim menegaskan bahwa puasa yang tidak disertai pengendalian ucapan hanyalah menahan lapar dan haus semata, tanpa nilai apa pun di sisi Allah SWT. Di era digital, menjaga lisan berarti menjaga jempol.

Maka jika para ulama berbicara tentang hifzh al-lisan, menjaga lisan sebagai penyempurna puasa, kita hari ini perlu menambahkan satu dimensi baru yang sama pentingnya, yaitu hifzh al-ibham, menjaga jempol.

Baca Juga: Toyota Kijang Kapsul 2026 Resmi Bangkit dengan Harga Mulai Rp350 Jutaan, Strategi Nostalgia Toyota Menjawab Kebutuhan Keluarga Modern Indonesia

Keduanya lahir dari akar yang sama: kesadaran bahwa kata-kata, baik yang diucapkan maupun yang dikirimkan, adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Pelajaran itu tidak berlangsung di mimbar. Ia berlangsung di ruang sunyi antara datangnya sebuah pesan dan keputusan kita untuk meneruskan atau menahan.

Jika Ramadan adalah madrasah, maka ujiannya bukan soal pilihan ganda yang kita jawab di atas kertas. Ujiannya adalah muhasabah, kemampuan untuk berhenti dan menghitung diri sendiri dengan jujur. Berapa kali hari ini kita meneruskan sebuah pesan tanpa memeriksa kebenarannya?

Berapa orang yang mungkin telah terpengaruh oleh informasi keliru yang pernah kita sebar, tanpa kita pernah tahu dan tanpa mereka pernah mendapat koreksinya? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menyiksa diri. Ia adalah pintu masuk menuju perubahan yang nyata.

Dan Ramadan, dengan seluruh suasana refleksi dan keheningannya, adalah waktu yang paling tepat untuk membuka pintu itu dan bertanya dengan tulus kepada diri sendiri, sudahkah jempol saya berpuasa sebagaimana perut saya berpuasa?

Dari pertanyaan kecil yang personal itulah perubahan yang besar bisa dimulai. Ramadan 1447 H akan berlalu seperti semua Ramadan sebelumnya. Yang membedakan bukan berapa rakaat yang kita selesaikan, melainkan seberapa besar kita berubah ketika ia pergi.

Jika dari bulan ini kita keluar dengan satu kebiasaan baru saja, berhenti sejenak sebelum meneruskan sebuah pesan, memeriksa sebelum mempercayai, dan bertanya sebelum bereaksi, maka kita telah memberikan sumbangan nyata bagi Indonesia.

Bukan dengan ceramah. Bukan dengan seminar. Melainkan, dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih sulit, menahan jempol. Di tengah 1.674 hoaks dalam setahun, itu adalah perlawanan paling beradab yang bisa kita lakukan. (*)

*)Dosen Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

rofqie625@gmail.com

Editor : Hera Marylia Damayanti
#era digital #puasa #ramadan #muhasabah #madrasah #berita palsu #tabayyun #menahan jempol #ibham #memeriksa sebelum mempercayai #menjaga jempol #hoaks #komdigi