Oleh Ahmad Mufid*
RAMADAN selalu hadir sebagai bulan jeda. Ia menghentikan ritme yang terlalu cepat, meredam kegaduhan, dan mengajak manusia bercermin. Dalam lapar dan dahaga, kita diajak kembali pada inti: siapa diri kita, nilai apa yang kita pegang, dan ke mana arah hidup kita.
Di tengah suasana Ramadan tahun ini, ruang publik sempat diramaikan isu viral terkait penerima beasiswa LPDP yang dipersoalkan karena pernyataannya, ”cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan.” Perdebatan pun mengemuka. Sebagian menilai itu bagian dari kebebasan berpendapat. Sebagian lain menegaskan bahwa penerima beasiswa negara semestinya memiliki komitmen kebangsaan yang tidak diragukan.
Sebagai insan pendidikan, polemik ini tidak untuk dihakimi, melainkan direnungi. Ia bukan sekadar soal individu. Ia adalah pengingat bahwa nilai kebangsaan bukan dokumen administratif yang ditandatangani saat seleksi. Nilai kebangsaan adalah konstruksi panjang yang dibangun sejak usia dini. Di sinilah Ramadan menemukan relevansinya.
Puasa adalah latihan integritas paling personal. Tidak ada pengawas selain nurani dan Tuhan. Seseorang bisa tampak kuat di hadapan publik, tetapi di ruang sunyi hanya dirinya yang tahu apakah ia benar-benar menahan diri. Dari puasa, kita belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada keselarasan antara hati, pikiran, dan tindakan.
Dalam konteks kebangsaan, integritas berarti kesetiaan pada nilai dasar yang menjadi kesepakatan kolektif bangsa. Penerima beasiswa seperti LPDP tidak sekadar menerima dana, tetapi juga amanah. Negara menaruh harapan agar ilmu yang diperoleh kembali untuk kemaslahatan bersama.
Ketika muncul polemik tentang komitmen kebangsaan, yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah kepercayaan publik. Kepercayaan itu mahal. Tidak dibangun dalam sehari, dan bisa runtuh dalam sekejap.
Namun, Ramadan mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada reaksi. Ia mengajak masuk lebih dalam: bagaimana nilai itu tumbuh dan bagaimana integritas dibentuk. Jawabannya tidak berada di ruang seleksi pascasarjana. Ia berada jauh sebelumnya—di ruang-ruang kecil bernama PAUD.
Guru PAUD: Penanam Akar Peradaban
Ki Hadjar Dewantara pernah menegaskan, pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Kata ”menuntun” menjadi kunci. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi penunjuk arah.
Di ruang kelas PAUD, arah itu mulai dibentuk. Ketika anak diajari menunggu giliran, menghargai perbedaan, meminta maaf, dan berbagi, sejatinya sedang ditanamkan nilai kebangsaan dalam bentuk paling sederhana. Kebangsaan bukan semata soal politik, melainkan kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.
Guru PAUD mungkin tidak berbicara tentang konstitusi atau geopolitik. Namun, mereka menanam empati, membangun disiplin, dan membiasakan tanggung jawab. Itulah akar nasionalisme yang sehat.
Nasionalisme yang dewasa bukan yang mudah tersulut emosi, tetapi yang matang secara moral. Kematangan itu tidak lahir seketika, melainkan melalui pembiasaan sejak usia dini. Jika hari ini kita memperdebatkan komitmen kebangsaan seorang mahasiswa, maka 15–20 tahun lalu ia pernah duduk di bangku PAUD. Pertanyaannya, nilai apa yang ia serap saat itu?
Ramadan sebagai Sekolah Karakter
Ramadan adalah sekolah karakter tahunan. Ia melatih disiplin, pengendalian diri, empati, dan kesadaran spiritual. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam dunia pendidikan, terutama bagi guru PAUD.
Anak usia dini belajar lebih banyak dari teladan daripada instruksi. Guru adalah contoh hidup di hadapan mereka. Ketika guru disiplin, anak belajar disiplin. Ketika guru menghargai perbedaan, anak belajar toleransi. Ketika guru menunjukkan cinta tanah air dengan cara sederhana, anak menyerap rasa memiliki terhadap bangsanya.
Karena itu, pemberdayaan guru PAUD tidak cukup hanya pada aspek teknis. Pelatihan kurikulum dan administrasi memang penting, tetapi belum memadai. Penguatan karakter, nilai kebangsaan, dan kesadaran ideologis harus menjadi bagian utama.
Pemberdayaan setidaknya mencakup tiga hal. Pertama, penguatan moral dan ideologis. Guru harus menyadari perannya sebagai arsitek karakter bangsa. Kedua, integrasi nilai keagamaan dan kebangsaan. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan diselaraskan.
Ketiga, literasi digital agar guru mampu membimbing anak di tengah arus informasi yang kian deras. Dengan demikian, guru PAUD tidak hanya mengajarkan angka dan huruf, tetapi juga menanamkan kebijaksanaan hidup.
Menanam dalam Sunyi
Isu viral akan selalu datang dan pergi. Hari ini tentang kebangsaan, esok bisa hal lain. Jika hanya bereaksi, kita akan terus terjebak dalam kegaduhan. Ramadan mengajarkan kejernihan berpikir dan kesabaran.
Akar persoalan sesungguhnya berada pada pendidikan dasar, bahkan sebelum sekolah dasar. Pada fase itulah karakter dibentuk. Di sanalah guru PAUD bekerja—sering kali tanpa sorotan.
Mereka jarang menjadi headline. Namun, di tangan merekalah arah bangsa perlahan ditulis. Dengan krayon warna-warni dan cerita sederhana, mereka menanam nilai yang kelak menentukan pilihan generasi.
Jika kita ingin generasi masa depan memiliki komitmen kebangsaan yang kokoh, maka investasi terbaik bukan sekadar memperketat seleksi beasiswa. Investasi terbaik adalah memperkuat pendidikan karakter sejak dini. Artinya, memperkuat guru PAUD.
Ramadan mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari dalam. Banyak pekerjaan besar dilakukan dalam sunyi. Puasa, doa, dan refleksi adalah contoh nyata. Demikian pula kerja guru PAUD. Mereka mungkin tidak hadir di forum-forum besar, tetapi perannya sangat menentukan. Karena itu, sudah saatnya mereka diposisikan sebagai penjaga nilai bangsa.
Akhirnya, Ramadan mengingatkan bahwa yang sunyi sering kali lebih menentukan daripada yang riuh. Membangun bangsa pada hakikatnya adalah membangun manusia. Dan, itu dimulai sejak dini—di tangan guru-guru yang bekerja dengan ketulusan. (*/han)
*)Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUD dan PNF Disdik Sumenep
Editor : Hera Marylia Damayanti