Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puasa sebagai Imsak Ekologis yang Memulihkan

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 3 Maret 2026 | 08:02 WIB

Lala Olivia, mahasiswa Pascasarjana PAI Universitas Al-Amien Prenduan, Asal Sumatra
Lala Olivia, mahasiswa Pascasarjana PAI Universitas Al-Amien Prenduan, Asal Sumatra

Oleh LALA OLIVIA

 

TIDAK berlebihan jika kita mengatakan bahwa Ramadan adalah bulan “simulasi”. Kita sepakat untuk lapar di siang hari, dan kita sepakat juga bahwa saat azan Magrib berkumandang, beragam takjil wajib dihidangkan.

Di kota-kota besar, puasa kerap terjebak dalam romantisme kepedulian yang dangkal—seolah dengan menahan haus beberapa jam, kita otomatis memahami penderitaan kaum miskin dan papa.

Karena itu, mari kita menengok ke Sumatra. Di bilik-bilik sempit Hunian Sementara (Huntara), para penyintas galodo dari Agam hingga Tanah Datar sedang menjalani “puasa” yang sama sekali berbeda. Di sana, rasa lapar bukan lagi sebuah simulasi yang berlangsung dari Subuh ke Magrib, tetapi sebuah realitas yang dipaksakan oleh keadaan.

Simulasi Lapar dan Realitas Kelaparan

Bagi kita yang hidup dalam privilese keamanan infrastruktur, puasa pada hakikatnya sering kali hanyalah sebuah simulasi penderitaan dan simulasi kelaparan.

Kita setuju untuk menahan lapar sejak fajar dengan sebuah garansi, bahwa tepat pada pukul enam sore, penderitaan itu akan dibayar lunas dengan kompensasi kuliner yang melimpah.

Kita lapar dengan jadwal yang terukur, haus dengan kepastian akan sumber air yang jernih, dan lelah dengan jaminan tempat tidur yang empuk saat malam tiba.

Dalam simulasi semacam ini, empati yang kita agung-agungkan akan lahir dari riyadhah Ramadan, sebenarnya berisiko mengalami pendangkalan. Ia kerap sia-sia tepat di depan meja makan yang penuh dengan takjil berlimpah.

Di sini, kesalehan kita sering kali terbukti hanya sebatas proses permainan peran. Kita sabar dengan rasa lapar, karena kita tahu persis bahwa kenyamanan selalu tersedia di saat berbuka.

Sebaliknya, apa yang dialami oleh para penyintas galodo di Huntara, bukanlah sebuah permainan simulasi. Bencana telah merenggut semua fasilitas itu. Di Huntara, lapar dan dahaga adalah realitas yang tidak tahu akan berakhir, tidak ada garansi waktu yang pasti.

Ketika rumah panggung tempat mereka bernaung rata dengan tanah, ketika harta benda lenyap ditelan lumpur pekat, dan ketika anggota keluarga terenggut secara paksa oleh arus air, maka puasa adalah kondisi keberadaan yang menetap.

Bayangkan sahur di bilik sempit yang pengap, di bawah atap seng yang mulai memanggang sejak matahari belum tinggi. Tidak ada pilihan menu yang beragam, yang ada hanyalah apa yang tersisa dari bantuan atau keikhlasan alam.

Di tanah bencana, puasa mendidik mereka cara bertahan waras dan tetap menjaga martabat kemanusiaan di tengah puing-puing bangunan, tanpa merutuki nasib dan keadaan.

Imsak Ekologis, Menahan Diri dari Kerakusan

Perenungan kita tidak boleh berhenti pada rasa iba atau kagum atas ketabahan para korban. Kita perlu memaknainya dalam keterhubungan antara puasa dan kesadaran ekologis. Tragedi galodo di Sumatra tidak bisa dilepaskan dari konteks kerusakan alam yang sistematis.

Bencana alam yang terjadi bukanlah semata "nasib buruk". Ia adalah ekspresi alam dalam merespons dosa-dosa ekologis manusia—deforestasi yang ugal-ugalan, pembalakan liar, dan kerakusan eksploitasi alam di hulu sungai yang mengabaikan keseimbangan.

Di sinilah makna Imsak (menahan diri) harus diperluas definisinya. Selama ini, kita memahami imsak hanya sebagai batas waktu berhenti makan dan minum. Padahal, roh dari imsak adalah pengendalian diri yang bersifat menyeluruh terhadap nafsu-nafsu primitif manusia, termasuk nafsu untuk menguasai dan merusak alam.

Takwa sejati menuntut kita untuk melakukan imsak ekologis. Artinya, kita harus belajar menahan diri dari hasrat untuk terus-menerus mengeksploitasi bumi demi pertumbuhan ekonomi yang serakah dan gaya hidup yang boros.

Apalah artinya menjalankan puasa ritual dengan sangat khusyuk dan memberikan sedekah kepada korban bencana, jika di saat yang sama kita tetap mendiamkan sistem dan gaya hidup yang merusak lingkungan?

Jika kebijakan pembangunan kita masih mengizinkan pembukaan lahan hutan secara masif yang membuat resapan air hilang, maka ibadah kita sebenarnya sedang mengalami perpecahan makna.

Kita mencoba mengobati luka korban dengan bantuan sosial, namun di saat yang sama kita terus ikut andil dalam menciptakan luka-luka baru di tubuh alam semesta.

Setiap tetes keringat penyintas yang berpuasa di bawah atap seng Huntara yang panas sebenarnya adalah teguran keras bagi nurani kita. Air mata duka mereka adalah "harga mahal" yang harus dibayar akibat hilangnya pengendalian diri kolektif manusia terhadap kelestarian alam.

Kesalehan ekologis bukanlah sebuah pilihan tambahan dalam beragama, ia adalah syarat mutlak agar ibadah kita memiliki dampak bagi kehidupan.

Menuju Puasa yang Memulihkan

Ramadan kali ini menuntut perombakan total atas pemahaman takwa yang selama ini mungkin sudah dianggap mapan. Kita perlu mengubah cara kita beragama yang sering kali terlalu egois—hanya peduli pada pahala pribadi tanpa memedulikan nasib sesama dan nasib bumi.  

Salah satu pelajaran berharga dari bilik Huntara adalah, puasa kali ini perlu menjadi momentum untuk "berhenti" sejenak dari kerakusan konsumtif. Ia harus menjadi latihan untuk hidup selaras dengan alam, bukan sebagai penakluk yang semena-mena terhadap alam.

Kita harus membawa semangat Huntara ke dalam meja berbuka kita masing-masing, dengan mulai membatasi keinginan, mengurangi sampah plastik dari ritual takjil, dan mulai peduli pada isu-isu pelestarian hutan. Inilah puasa yang memulihkan—puasa yang tidak hanya membersihkan jiwa secara individu, tetapi juga memberikan ruang pemulihan bagi bumi. 

Jangan biarkan bulan suci ini berlalu hanya dengan menyisakan tumpukan sampah sisa makanan dan perut yang begah karena keserakahan yang dibungkus label agama. Di sudut Sumatra sana, takwa sedang dipertahankan mati-matian di tengah keterbatasan yang menyayat hati.

Mari kita jadikan lapar kita tahun ini sebagai jembatan empati yang kokoh, bukan sekadar simulasi yang kosong. Mari kita wujudkan takwa dalam bentuk perlindungan terhadap hutan, sungai, dan seluruh ekosistem yang menjadi rumah bersama.

Sebab, pada akhirnya, takwa yang sejati adalah ketika kita mampu melakukan imsak yang sebenar-benarnya. Yakni, dengan menahan diri agar tidak menjadi beban bagi sesama manusia dan berhenti menjadi predator bagi bumi yang sudah semakin renta ini. Hanya dengan cara itulah, puasa kita benar-benar akan menjadi ibadah yang memerdekakan dan memulihkan kehidupan. Wallahu a’lam. (*/han)

*)Mahasiswa Pascasarjana PAI Universitas Al-Amien Prenduan, Asal Sumatra

Editor : Hera Marylia Damayanti
#puasa #ramadan #simulasi #makna imsak #menahan diri #Kaum Miskin #Memulihkan #korban bencana #penderitaan #kepedulian #imsak ekologis #kelaparan #keserakahan #Sumatra