Oleh TAUFIK HIDAYAT*
DI banyak rumah di Madura, masa depan anak tidak dibicarakan dengan bahasa besar. Tidak ada istilah ”roadmap karier”, tidak ada diskusi panjang tentang potensi diri. Yang ada adalah percakapan sederhana di dapur, di teras rumah, atau di sela-sela orang tua pulang bekerja:
”Yang penting kamu bisa kerja.”
”Setelah lulus, bantu orang tua dulu.”
”Kuliah nanti saja, kalau ada rezeki.”
Kalimat-kalimat ini tidak lahir dari ketidaktahuan. Ia lahir dari pengalaman hidup yang panjang. Dari generasi ke generasi yang dibesarkan oleh kerja keras, bukan oleh rencana jangka panjang. Di Madura, hidup bukan soal teori, tapi soal ketahanan.
Bagi banyak keluarga, terutama di desa-desa, pendidikan tinggi masih terasa sebagai sesuatu yang ”jauh”. Bukan karena tidak penting, melainkan karena terasa tidak dekat dengan realitas sehari-hari. Ketika kebutuhan hidup datang setiap hari, masa depan lima tahun ke depan terasa terlalu abstrak untuk dipertaruhkan.
Madura dan Logika Bertahan Hidup
Masyarakat Madura terbiasa hidup dalam logika bertahan. Bekerja sejak muda bukan hal baru. Anak membantu orang tua bukan karena dipaksa, tetapi karena tumbuh bersama nilai tanggung jawab kolektif. Dalam budaya ini, kemandirian diukur dari seberapa cepat seseorang bisa berkontribusi.
Karena itu, bekerja setelah lulus SMA atau SMK sering dianggap sebagai tanda kedewasaan. Sementara kuliah, meski diakui penting, kerap dipandang sebagai kemewahan yang menunggu “nanti”.
Banyak orang tua tidak pernah menolak pendidikan. Mereka hanya bertanya dengan jujur:
”Kalau kuliah, hasilnya apa?”
”Kalau tidak sanggup di tengah jalan, bagaimana?”
”Kalau lulus tapi tetap sulit kerja, siapa yang bertanggung jawab?”
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sinis. Ia realistis.
Anak Muda Madura dan Beban yang Tak Terlihat
Di balik keputusan ”kerja saja dulu”, sering ada cerita yang tidak terdengar. Banyak anak Madura sebenarnya ingin kuliah. Mereka punya mimpi, punya minat, dan punya semangat belajar. Tetapi, mereka juga punya rasa sungkan yang besar terhadap orang tua.
Ada ketakutan yang jarang diucapkan: takut menyusahkan. Takut terlihat egois. Takut dianggap tidak tahu diri.
Tidak sedikit anak yang memilih bekerja bukan karena tidak mampu kuliah, tetapi karena tidak tega melihat orang tuanya harus berutang atau bekerja lebih keras. Mereka mematikan mimpi mereka sendiri dengan alasan pengorbanan.
Ironisnya, pengorbanan ini sering tidak disadari oleh orang tua. Anak diam, orang tua mengira anak memang tidak berminat. Di sinilah banyak mimpi berhenti tanpa pernah benar-benar diperjuangkan.
Bekerja Cepat, Tapi Berhenti di Tempat
Bekerja setelah SMA memang memberikan hasil cepat. Gaji pertama terasa besar. Ada rasa bangga bisa membantu keluarga. Ada perasaan ”sudah jadi orang”.
Namun, waktu perlahan membuka kenyataan lain. Tahun pertama, kedua, hingga ketiga berlalu. Posisi tetap sama. Upah naik sedikit, sering kali hanya mengikuti inflasi. Ketika ingin naik jabatan, muncul syarat pendidikan. Ketika ingin pindah kerja, ijazah kembali menjadi tembok.
Di banyak tempat, lulusan SMA bekerja keras, tetapi jalan karier mereka datar. Bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena sistem kerja memang membatasi mereka.
Banyak yang baru menyadari hal ini ketika usia sudah tidak lagi muda. Ketika energi sudah terkuras, dan kesempatan belajar tidak semudah dulu. Penyesalan pun muncul, tetapi sering tanpa jalan kembali.
”Kuliah Mahal” sebagai Cerita Turun-temurun
Di Madura, anggapan bahwa kuliah itu mahal masih hidup kuat. Cerita tentang uang pangkal, biaya hidup kota besar, dan mahasiswa yang putus kuliah terus diwariskan dari mulut ke mulut.
Padahal, realitas pendidikan tinggi—khususnya di perguruan tinggi negeri dan politeknik—telah banyak berubah. Sistem UKT dirancang untuk menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi. Beasiswa dan KIP kuliah hadir bukan sebagai bonus, melainkan sebagai kebijakan negara untuk membuka akses.
Sayangnya, informasi ini sering tidak sampai secara utuh ke masyarakat. Yang lebih cepat menyebar justru cerita lama, cerita gagal, dan cerita menakutkan. Satu kisah anak putus kuliah karena biaya bisa mengalahkan puluhan kisah sukses penerima beasiswa.
Pendidikan sebagai Jalan Memutus Lingkaran
Pendidikan tinggi bukan obat mujarab. Ia tidak menjamin kesuksesan. Tetapi, ia memberi satu hal yang sangat penting: pilihan.
Anak yang berpendidikan memiliki lebih banyak pintu yang bisa diketuk. Mereka tidak bergantung pada satu jenis pekerjaan. Mereka memiliki daya tawar yang lebih baik. Mereka punya ruang untuk berkembang.
Di Madura, setiap anak yang berhasil menempuh pendidikan tinggi sering membawa dampak berantai. Keluarga ikut terangkat. Adik-adik mendapat teladan. Lingkungan mulai percaya bahwa perubahan itu mungkin.
Inilah yang sering luput dari perhitungan jangka pendek. Pendidikan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada struktur sosial secara perlahan.
Menggeser Cara Pandang, Bukan Menghakimi
Tulisan ini bukan ajakan untuk menyalahkan siapa pun. Bekerja setelah SMA bukan kesalahan. Banyak keluarga memang tidak punya pilihan lain. Tetapi, yang perlu dilakukan adalah membuka ruang dialog yang jujur.
Bahwa bekerja cepat bukan selalu solusi terbaik. Bahwa menunda penghasilan beberapa tahun bisa berarti memperluas penghasilan seumur hidup. Bahwa kuliah bukan soal gengsi, melainkan soal strategi hidup.
Yang dibutuhkan Madura bukan sekadar lebih banyak kampus, tetapi lebih banyak keberanian untuk mempercayai masa depan anak-anaknya.
Penutup: Menjaga Mimpi Tetap Hidup
Mendapatkan uang hari ini memang penting. Namun, memastikan anak-anak kita memiliki peluang hidup yang lebih baik seumur hidup jauh lebih penting. Pendidikan adalah salah satu jalan paling realistis untuk itu.
Setiap anak yang memilih kuliah sedang mengambil risiko yang masuk akal. Setiap orang tua yang mengizinkan anaknya kuliah sedang menanam keberanian dan setiap kampus yang membuka diri kepada masyarakat sedang membangun jembatan harapan.
Madura tidak kekurangan anak muda yang cerdas dan tangguh. Yang dibutuhkan hanyalah ruang, pemahaman, dan keberanian untuk tidak memotong mimpi terlalu dini. (*)
*)Humas Politeknik Negeri Madura
Editor : Hera Marylia Damayanti