OLEH: Dafir Falah
(Sebuah Catatan Awam di Tengah Seruan Efisiensi)
TAK sengaja, hari ini saya membuka grup jurnalis dan DPRD. Di antara riuh tautan berita dan pesan, terdapat satu catatan yang mencuri perhatian—rencana Banggar dan TAPD menggelar rapat ke Bali, besok, Kamis.
Betul-betul “salam awam”. Menukil istilah kawan sejawat di Ganding.
Tapi kali ini, saya sungguh awam, Awam melihat logika efisiensi yang belakangan sering digaungkan, tapi justru diabaikan oleh mereka yang paling sering mengucapkannya.
Di tengah seruan penghematan, di saat rakyat di bawah sedang berhitung ulang antara harga beras dan uang belanja, para wakil rakyat justru berkemas—menuju Pulau Dewata.
Katanya rapat kerja, tapi mengapa harus sejauh itu? Bukankah efisiensi berawal dari kesadaran kecil, dari kebiasaan untuk menimbang: perlukah sejauh itu?
Saya tak menampik, Bali memang indah. Siapa yang tak ingin ke sana? Tapi di antara indahnya pantai dan teduhnya nyiur, ada yang lebih mahal dari pemandangan, yaitu keindahan nurani.
Andai rapat itu digelar di Sumenep, tentu tak perlu perjalanan panjang. Tak perlu juga biaya akomodasi yang tak sedikit. Tapi begitulah, kadang efisiensi berhenti di spanduk, bukan di sikap.
Lalu saya tersenyum getir. Mungkin ada yang berbisik di antara mereka. “Bali kan sekalian belajar, sambil refreshing”. Ah, alasan itu terlalu manis untuk tidak dicurigai.
Setelah rapat, kan bisa lihat bule berbikini di pantai Kuta. Anggap saja cuci mata. Bukankah begitu, pak Dewan?
Kabar ini memang terdengar ringan, tapi berat di telinga. Mungkin karena waktunya yang tak tepat. Mungkin karena rasanya mengganjal—antara niat belajar dan kenyataan berlibur.
Saya tidak menuduh, hanya bertanya. Apa urgensinya? Rapat ke Bali untuk apa? Bukankah paripurna RAPBD 2026 sudah selesai?
Atau, ini semacam “rapat pasca-rapat”. Yang lebih banyak menenangkan pikiran daripada membahas persoalan rakyat?
Lalu terdengar kabar lain, katanya, mau belajar peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ciyus?
Tapi, belajar dari Kabupaten Badung, Bali. Itu pilihan yang tak keliru. Kabupaten Badung memang luar biasa.
PAD mereka pada 2024 tembus Rp 7,5 triliun. Bandingkan dengan dana transfer pusat yang hanya sekitar Rp 300 miliar.
Artinya, mereka mampu hidup dengan kekuatan sendiri. Mereka kaya bukan karena belas kasihan pusat, tapi karena daya cipta dan keberanian mengelola potensi daerah.
Kalau mau belajar, belajarlah sungguh-sungguh. Kalau mau studi banding, bandingkanlah dengan yang betul-betul unggul. Tapi jangan jadikan “belajar” sebagai tameng untuk menikmati perjalanan.
Apalagi kalau niatnya hanya mencari suasana baru, yang berpemandangan laut dan sepoi angin tropis. Kalau begitu, itu bukan rapat kerja, itu liburan berjadwal resmi. Dugaan saya begitu.
Pak Dewan juga harus tahu, PAD Badung besar karena pariwisata dan perhotelan. Lalu, apakah Sumenep mau bangun hotel sebanyak-banyaknya? Siapa yang akan menginap?
Apakah kita juga mau bergantung pada wisatawan asing? Atau cukup pada “wisata rapat luar kota”?
Tapi, saya paham, perjalanan dinas itu ada dasar hukumnya. Ada surat tugas, ada agenda, ada tanda tangan.
Namun yang sering membuat publik jengah bukanlah soal aturan, melainkan soal rasa pantas dan rasa empati.
Sebab, ada dua jenis perjalanan dinas: yang benar-benar bekerja, dan yang dinyatakan bekerja. Ada rapat di meja sidang, ada pula rapat di meja makan hotel.
Ada yang mencatat hasil diskusi, ada yang hanya mencatat nomor kamar.
Dan sering kali, yang dicari bukan ilmu, tapi rupanya cashback room meeting. Ya, istilah itu sudah jadi rahasia umum—semacam bonus yang tak tertulis, tapi terasa. Dan, semoga saya salah duga.
Selamat rapat di Bali, pak Dewan. Selamat menikmati udara pantai sambil membuka laptop di balkon hotel.
Jangan alergi pada kritik. Sebab kritik bukan tanda benci, tapi bentuk cinta pada logika. Saya tak iri, apalagi ingin ikut. Saya hanya ingin bertanya: perlukah sejauh itu untuk rapat?
Padahal sesungguhnya, rapat bisa di mana saja. Di ruang sederhana pun bisa lahir gagasan besar, asal niatnya jernih. Tapi kalau niatnya keruh, di hotel bintang lima pun hasilnya tetap buram.
Dan di tengah rakyat diminta menahan diri, kepergian para wakilnya ke Bali hanya akan menambah jarak—jarak yang lebih jauh dari Sumenep ke Denpasar.
Namun begitu, saya tetap mendoakan. Semoga perjalanan bapak-bapak dan ibu-ibu dewan berjalan lancar.
Semoga pesawat yang ditumpangi selamat sampai tujuan. Dan semoga nurani yang dibawa dari Sumenep tak tertinggal di lobi hotel. Sekian, dan mohon maaf bila catatan awam ini terlalu jujur. (*)
Editor : Dafir.