Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tradisi Nisfu Syakban dan Psikospiritual

Achmad Andrian F • Kamis, 13 Februari 2025 | 16:50 WIB
ACHMAD USHULUDDIN, Dosen Psikologi Islam Universitas Al Azhar Indonesia
ACHMAD USHULUDDIN, Dosen Psikologi Islam Universitas Al Azhar Indonesia

RadarMadura.id – Dulu, setiap kali Nisfu Syakban tiba, kampung-kampung di Madura, Jawa, Sunda berubah menjadi lautan cahaya. Lampu-lampu pelita dinyalakan di langgar-langgar kecil, musala, dan masjid. Semarak lantunan Surah Yasin dibacakan jemaah dengan penuh khidmat. Anak-anak berlarian, sesekali ikut duduk bersama orang tua mereka, mendengarkan doa-doa yang dilantunkan penuh khusyuk.

Usai membaca Yasin, suasana berubah menjadi lebih hangat. Saling bermaafan menjadi bagian tak terpisahkan dari malam itu. Warga yang mungkin sebelumnya memiliki ganjalan di hati kini saling berjabat tangan, tersenyum, dan menghapus segala dendam. 

Setelah itu, hidangan mulai disajikan. Makanan sederhana yang dikumpulkan dari berbagai rumah, tumpeng kecil, ketupat, lauk-pauk, hingga jajanan tradisional, menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan. 

Namun, tahun demi tahun berlalu, tradisi itu perlahan mulai meredup. Masjid dan musala tak lagi seramai dulu. Yang tersisa hanya segelintir orang tua yang tetap setia membaca Yasin, sementara anak-anak muda lebih sibuk dengan ponsel mereka. Media sosial, game online, dan hiburan instan telah mengambil alih perhatian mereka. 

Ditambah lagi, munculnya kelompok-kelompok yang menyebut tradisi ini sebagai bid’ah membuat sebagian masyarakat mulai ragu untuk melanjutkannya. ”Tidak ada dalilnya,” begitu kata mereka. ”Tak perlu ritual khusus di malam Nisfu Syakban,” serunya.

Lalu, apakah benar tradisi ini harus ditinggalkan? Atau, justru ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ritual, sesuatu yang bernilai psikospiritual bagi masyarakat?

Secara psikologis, manusia membutuhkan ruang untuk menenangkan diri, merefleksi kehidupan, dan merasakan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Tradisi Nisfu Syakban dengan pembacaan Yasin, doa bersama, dan sedekah makanan sebenarnya merupakan bentuk kesejahteraan psikospiritual yang telah diwariskan turun-temurun.

Membaca Surah Yasin tiga kali dalam tradisi malam Nisfu Syakban memiliki manfaat bagi kesejahteraan spiritual. Bacaan pertama, yang memohon umur panjang, ketaatan, dan istiqamah membantu meningkatkan kesadaran spiritual dan motivasi untuk tetap berada di jalan yang benar. Dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian, harapan akan umur panjang yang berkah dan tetap teguh dalam keimanan memberikan ketenangan batin. Lebih dari itu, doa ini juga mengurangi kecemasan tentang masa depan dengan mengajarkan sikap tawakal, yakni berserah diri kepada Allah setelah berusaha.

Bacaan kedua, yang memohon perlindungan dari musibah dan fitnah, menanamkan rasa aman psikologis dan membangun ketahanan diri. Doa ini berfungsi sebagai peneguhan rasa aman psikologis, karena seseorang merasa dirinya berada dalam lindungan Allah. Keyakinan akan perlindungan Allah memberi ketenangan dalam menghadapi ujian hidup dan tekanan sosial, serta memperkuat sikap tawakal yang membentuk resiliensi spiritual.

Bacaan ketiga, yang memohon kekayaan hati, ketetapan iman, dan husnulkhatimah, menumbuhkan sikap kanaah, menjaga keteguhan iman di tengah godaan dunia, dan menanamkan kesadaran akan akhir kehidupan. Kesadaran akan husnulkhatimah menanamkan nilai bahwa setiap tindakan dalam kehidupan harus diarahkan pada kebaikan. Dengan menyadari bahwa kehidupan ini akan berakhir, seseorang lebih terdorong untuk menjalani hidup dengan penuh makna, memperbaiki diri, dan berbuat baik kepada sesama.

Saling bermaafan setelah membaca Yasin bukan sebatas simbol sosial, melainkan juga bagian dari terapi psikologis. Dalam Islam, memaafkan adalah cara untuk membebaskan diri dari beban emosi negatif. Tradisi ini tanpa disadari membantu individu untuk melepaskan dendam, meredakan stres, dan memperbaiki hubungan sosial. Sedangkan makan bersama di akhir acara menciptakan rasa keterikatan sosial yang kuat. Masyarakat merasa menjadi bagian dari komunitas yang saling peduli, sesuatu yang semakin langka di era digital ini.

Namun, tantangan tetap ada. Di satu sisi, tuduhan bid’ah membuat sebagian orang menjauh dari tradisi ini. Di sisi lain, generasi muda yang terbiasa dengan budaya populer merasa bahwa ritual seperti ini tidak lagi relevan. Bagaimana cara agar tradisi ini tetap hidup dan bermakna?

Pertama, perlu ada pendekatan edukatif yang lebih moderat. Membaca Yasin di malam Nisfu Syakban bukanlah kewajiban agama. Namun, juga bukan sesuatu yang haram. Masyarakat perlu memahami bahwa tradisi ini adalah bagian dari membangun ketenangan spiritual, bukan sekadar ritual tanpa makna.

Kedua, generasi muda perlu dilibatkan dengan cara yang lebih menarik. Bisa melalui kajian online, podcast, atau diskusi interaktif tentang hikmah di balik tradisi Nisfu Syakban. Jika perlu, acara ini dikemas dengan lebih modern, misalnya, setelah membaca Yasin, ada sesi refleksi kehidupan yang dipandu oleh ustad muda atau tokoh inspiratif.

Ketiga, tradisi ini bisa disesuaikan dengan kebiasaan baru tanpa kehilangan esensinya. Jika generasi muda lebih tertarik dengan kegiatan sosial, maka malam Nisfu Syakban bisa menjadi momen untuk berbagi kepada yang membutuhkan, bukan hanya dalam bentuk makanan, melainkan juga dalam aksi sosial lain yang lebih mereka minati.

Madura telah lama dikenal sebagai wilayah yang kuat dalam mempertahankan tradisi keislaman. Namun, mempertahankan bukan berarti harus kaku. Tradisi Nisfu Syakban tidak harus bertahan dalam bentuk yang sama seperti dulu, tapi bisa berkembang agar tetap relevan bagi setiap generasi. Karena sejatinya, bukan bentuk ritualnya yang paling penting, melainkan makna psikospiritual yang terkandung di dalamnya: refleksi diri, penguatan iman, dan kebersamaan yang membawa ketenangan jiwa. (*)

Editor : Achmad Andrian F
#Psikospiritual #Nifau syakban #madura #tradisi