Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Bersinergi Mencegah Pencemaran Mikroplastik

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 17 November 2024 | 13:15 WIB
Muhammad Aufal Fresky, penulis buku Empat Titik Lima Dimensi
Muhammad Aufal Fresky, penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

Oleh MUHAMMAD AUFAL FRESKY

 

DI tengah gegap gempita pilkada serentak di berbagai daerah, ada isu lingkungan yang mencuat ke permukaan. Lebih tepatnya lagi, yaitu tentang bahaya dan dampak pencemaran sampah mikroplastik. Sebenarnya, bukan kali ini saja berita mengenai mikroplastik menjadi sorotan publik, sudah dari tahun-tahun lalu. Hanya, tiba-tiba saja menghilang dan seolah tanpa ada upaya yang serius untuk mengantisipasi dan menanganinya. Baik dari pemerintah maupun kita sendiri selaku warga. Padahal, sampah mikroplastik menjadi ancaman yang cukup berbahaya bagi kelestarian alam dan kesehatan manusia. Mikroplastik sendiri merupakan potongan kecil plastik berukuran kurang dari 5 mm hingga 1 nanometer.

Berdasarkan data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang dikutip Tempo,co, disebutkan bahwa sampah plastik yang banyak ditemukan di perairan Indonesia adalah plastik sekali pakai, botol minuman, dan sedotan. Sampah jenis ini memerlukan ratusan tahun untuk terurai, mencemari lautan, dan merusak habitat biota laut. Lebih mengejutkannya lagi, Reza Cordova selaku peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN mengungkapkan bahwa lebih dari 8 juta ton sampah plastik dibuang ke laut setiap tahun. Sungguh, jumlah yang cukup fantastis. Jangan-jangan selama ini kita tidak sadar menjadi ”kontributor tetap” pencemaran laut. Sebab, ada juga yang sadar dan ”setengah sadar”, tapi tetap saja membuang sampah plastik secara sembrono.

Kepekaan dan kesadaran kita akan kelestarian lingkungan sepertinya mesti kembali dipupuk sejak saat ini. Bagaimana tidak, ratusan ribu lebih biota laut yang akan terancam tercemar oleh plastik-plastik yang dengan sengaja kita buang sembarangan. Kita seolah menutup mata dan tak ambil pusing mengenai risiko besar yang akan dialami dari pencemaran mikroplastik. Sejumlah penelitian membuktikan, material plastik kecil yang disebut mikroplastik bukan hanya mencemari lingkungan, namun juga bisa membunuh biota, tertinggal di jaringan tubuh manusia, dan menimbulkan masalah kesehatan serius. Ukurannya yang sangat kecil membuatnya bisa melewati jaringan membran biologis dengan mudah. Degradasi plastik menjadi sangat berbahaya karena mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan keracunan. Mikroplastik terdapat di mana-mana. Kontaminasi bahan sintetik ini tidak hanya terjadi di laut dan darat, tapi juga di udara.

Dalam sebuah laporan penelitian di jurnal Environmental Science and Pollution Research, 2 Maret 2023, disebutkan bahwa beberapa kota di Filipina telah ditemukan mikroplastik  dengan konsentrasi berbeda, kebanyakan adalah polyester. Dalam kajian tersebut memperkirakan, ada satu orang dewasa di Metro Manila menghirup 1 SAMPs (Suspended Atmospheric Microplastics) jika berada di luar ruang/ambien air dalam 99 hingga 132 jam.

Selain itu, merujuk pada penelitian dari Ecological Observation and Wetlands Conservation dalam laman Kemenkes, dijelaskan bahwa mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui pernapasan, pencernaan, dan paparan terhadap benda plastik yang sudah lapuk. Ini sebenarnya sudah menjadi peringatan keras bagi seluruh warga untuk mewaspadai dan menangkal bahaya sampah mikroplastik. Sebab, selain berbahaya bagi kesehatan manusia, juga menjadi ancaman yang bagi spesies laut, merusak tatanan rantai makanan ekosistem laut, dan keanekaragaman hayati lain tentunya. Lantas langkah apa yang bisa kita perbuat untuk setidaknya meminimalisasi sampah mikroplastik?

Ada beberapa hal yang bisa kita kerjakan. Hal-hal kecil dan sederhana yang sesungguhnya bisa berdampak besar bagi lingkungan hidup. Lebih-lebih jika dilakukan secara serentak. Di antaranya, yaitu lebih memilih menggunakan kemasan ramah lingkungan, menghindari penggunaan produk berbahan sintetis, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan pemanfaatan bakteri untuk mendegradasi plastik. Tidak hanya itu, pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi bisa bersinergi dan berkolaborasi dalam pengembangan teknologi untuk pendeteksian, pengumpulan, dan pendauran ulang sampah plastik. Semisal dengan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memetakan dan memonitor sebaran sampah plastik agar lebih akurat.

Kemudian, kerja sama dengan komunitas nelayan, pemuda setempat, pemda, dan komunitas pencinta lingkungan untuk menggalakkan gerakan pembersihan pantai secara rutin. Selain itu juga bisa mengedukasi masyarakat setempat, terutama di sektiar pantai agar lebih peka dan peduli akan kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup. Dalam hal ini, diperlukan pendekatan berbasis komunitas untuk menciptakan kesadaran, kepekaan, dan kepedulian akan kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan. Ditambah lagi, pemda setempat, hemat penulis, perlu mengeluarkan aturan/kebijakan yang ketat terkait pembatasan penggunaan sampah plastik. Hal itu dalam rangka menyadarkan warganya betapa pentingnya bersama-sama merawat alam.

Bagi pemuda, khususnya yang jadi selebgram, bisa juga berkontribusi menyosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan cara postingan-postingan edukatif dan persuasif di beragam platform media sosial (medsos). Terakhir, melalui tulisan ini, saya mengajak pembaca sekalian, terutama diri saya sendiri selaku penulis, agar segera memulainya dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Salah satunya yaitu dengan mulai menggunakan pernak-pernik perabotan rumah tangga yang lebih ramah lingkungan dan menghindari pemakaian plastik sekali pakai. Semoga kita bisa bersama-sama menangkal bahaya sampah mikroplastik. Demi lingkungan hidup yang lebih lestari. Demi kita dan generasi selanjutnya. (*)

*)Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#mikroplastik #sampah plastik #ramah lingkungan #perabotan #kelestarian lingkungan