Oleh SET WAHEDI
BEBERAPA waktu lalu (2 Juli–14 Agustus 2024), kampung saya disergap demam bola voli, bersamaan dengan semarak Olimpiade Paris. Kampung saya, jika dibanding-bandingkan dengan Kota Paris, mungkin tak ada seujung kuku. Begitu juga, gelaran bola voli Kapolres Cup Sumenep 2024, jika dibanding-bandingkan dengan olimpiade yang berlangsung di Kota Paris, bak langit dan dasar sumur. Begitu jauh. Jauh sekali perbedaannya. Di Paris, ratusan atlet dari berbagai negara bertanding untuk mencatatkan sejarah dan mengharumkan nama bangsa, sementara di kampung saya, ratusan klub bola voli dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Sumenep, ingin eksis, dan memberikan hiburan.
Sejatinya, Paris dan kampung saya tak bisa dibanding-bandingkan. Tak apple to apple. Begitu juga gelaran Olimpiade dengan Kapolres Cup. Tapi, perihal hiruk pikuk dan antusiasme penonton? Tunggu dulu. Kampung saya memang tidak segemerlap Paris. Klub-klub yang bertanding hanya kelas lokal. Para pemain yang berlaga pun jarang tertulis di halaman berita. Tapi, para penontonnya, orang-orang kampung saya, begitu antusias mendukung tim dan pemain jagoannya.
Suitan, sorakan, bahkan sesekali olok-olok pada pemain yang ”egois” telah menjadi bumbu arena pertandingan. Penonton tidak hanya ’pemain’ yang berada di luar lapangan atau sumber energi bagi tim yang berdenyut setiap detik. Mereka seperti the other yang melengkapi kehadiran yang ’pusat’. Tanpa penonton, seseru apa pun pertandingan akan terasa hambar. Tanpa mereka, sejarah seolah sejenak berhenti bergerak.
Melihat antusiasme penonton yang hadir di setiap pertandingan, baik muda maupun tua, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang berpengalaman maupun amatiran, saya kira tak ada alasan untuk pesimistis atau berputus asa bahwa negara bangsa ini akan bubar. Penonton kita telah menjadi potret lain dari harapan, cita-cita, dan daya juang kita untuk melihat masa depan yang lebih baik.
Penonton di kampung saya mungkin tak seheboh di Paris atau di pertandingan-pertandingan nasional maupun internasional. Penonton di kampung saya datang ke lapangan dengan seabrek kampungannya: sarungan, songkokan, satu-dua tampil norak, dan gagap fashion. Meski begitu, orang-orang di kampung saya belum mengenal rasisme. Para pemain tak perlu khawatir di-suitin suara monyet atau dilempar kulit pisang. Para pemain tak perlu takut akan mendengar lagu yang merendahkan martabatnya. Para pemain cukup bermain dengan nothing to lose. Meski demikian, jangan sekali-kali para wasit lalai atau ceroboh dalam memimpin jalannya pertandingan. Sekali Anda (wasit) salah, Anda akan mendapatkan tawaran, ”Ngopi dulu, Sit.”
Tampilan boleh kampungan. Tapi, pengetahuan tentang pemain yang punya nama, orang-orang kampung saya tidaklah kampungan. Ketika Samsul Kohar tampil, Rama Fasa unjuk kebolehan, Farid Dava membuktikan diri, atau sederet pemain top ambil bagian, mereka menunjukkan antusiasme luar biasa. Mereka berduyun-duyun untuk melihat pemain-pemain yang mentas bersama klub-klub Proliga seperti Bhayangkara Samator (sekarang Bhayangkara Presisi), Jakarta Pertamina, Jakarta BIN, dan lainnya.
*
Kapolres Cup 2024 Sumenep, seperti halnya tarkam lainnya, dimeriahkan begitu banyak klub: 128 klub putra dan 32 klub putri. Turnamen yang berlangsung satu bulan lebih itu menyajikan pertandingan-pertandingan variatif: yang sepi penonton, yang membosankan, yang menjanjikan, yang ditunggu-tunggu, yang dinikmati sampai akhir, dan yang lainnya. Bagi setiap klub, pertandingan adalah laga hidup-mati. Menang lanjut ke babak berikutnya dan yang kalah harus legawa menunggu turnamen berikutnya.
Selain menyuguhkan pertandingan yang variatif, Kapolres Cup juga benar-benar menjadi ajang silaturahmi antarkampung. Kita jadi bertemu banyak orang dari banyak desa. Pun nama-nama klub yang berlaga, begitu beragam: Dewa Agung, Warna Agung, Mahkota Agung, Batman 27, Sportif, Purnama, Purnama Agung, Trunojoyo, Pesona, Kinantaka, Ngirengi, Pantura Reborn, Plasindo, Benteng Agung, Plasindo, Rental 88, dan lainnya.
Sekilas, sebagian nama-nama klub tak mencerminkan asal desanya. Tak mencerminkan karakter permainannya. Nama-nama itu seperti dicomot begitu saja, dipakai asal saja. Seperti orang-orang kampung terdahulu, yang memberi nama anaknya ala kadarnya: Cobik, Cek-kocek, Kalong, Mat Jebbung, dan lainnya. Tapi, nama tetaplah nama. Ia tidak hanya sebagai tanda panggilan, tapi juga menyimpan cerita –mungkin juga doa dan harapan, terutama bagi pemilik klub.
Bisa saja, nama-nama klub asal comot karena panggilan tidak begitu penting, tapi perangai, tingkah laku, raihan prestasi menjadi titik pengharapan. Buat apa nama bagus, kalau toh melakukan korupsi. Buat apa nama mentereng, kalau tidak berprestasi. Buat apa inisial keren, kalau pada akhirnya tercetak tebal dalam banyak kasus.
Tidak hanya nama klub yang menarik perhatian. Beberapa nama punggung pemain, baik lokal maupun bon, serta kota asal, seperti magnet untuk ingatan dan kenangan. Ubay Bani, Ika Bhayangkari, Gorda, Ghufron Dirga, Kidal, Naruto, Tahol, Laurens, Ari Rampok, Jua bekasi, Samsul Kohar, Farid Dava, dan yang lain, seolah menandai kehadiran yang menunaikan janji. Begitu juga kota-kota seperti Pamekasan, Surabaya, Banyuwangi, Lombok, Jakarta, Tegal, Bekasi, dan kota lain menjadi titik pijak kita mengenali asal muasal harapan.
Sekali lagi, nama bukan sekadar ’apalah artinya’, tapi juga sebagai pengingat. Saat nama Samsul Kohar disebut, penonton jadi ingat akan Bhayangkara Samator. Penonton pun bergosip, berkasak-kusuk, bagaimana sepak terjang Samsul Kohar membela klub bola voli kebanggaan Jawa Timur itu. Selama membela Surabaya Bhayangkara Samator, Samsul Kohar meraih 4 gelar juara Proliga 2023, 2 runner-up, dan sekali juara 3.
Atau sebaliknya, saat kota asal pemain bon diperkenalkan, penonton ’melihat’ banyak kilasan sejarah. Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota asal Bhayangkara Samator. Selain Kota Pahlawan, Surabaya juga menjelma kota metropolitan kedua setelah Jakarta. Seperti halnya kota-kota besar, Surabaya telah menyimpan mitos kemajuan dalam berbagai sektor, termasuk olahraga. Atlet-atlet yang berasal dari Surabaya seolah memiliki pengalaman dan kekuatan lebih. Meski di lapangan, nasib kadang berbicara lain.
***
Jadi penonton turnamen antarkampung memang tidak sekeren jadi penonton di tribun pertandingan nasional maupun internasional. Tapi di lapangan antarkampunglah, kita bisa mendapati potret lain dari kampung: ada yang beranjak, ada yang berubah. Orang-orang kampung tak melulu membicarakan harga gabah, pupuk yang langka, dan kekeringan yang mengancam. Orang-orang kampung mulai menghafal nama-nama di luar kampung. Mereka mulai melihat hal ihwal kemungkinan lain. Jadi atlet profesional, atlet nasional. Ada harapan di bidang olahraga.
Kemungkinan lainnya: pentingnya kerja keras. Prestasi klub, atlet, tidak lagi ditentukan oleh pernak-pernik klenik. Tabur beras kuning, bakar kemenyan, semburan air penuh jampi tidak akan berguna jika pemain tidak bisa menerima servis. Tak ada gunanya komat-kamit pelemah lawan jika pemain kita sudah ngos-ngosan dalam satu set.
Cerita klenik selalu jadi penyedap yang aduhai dalam berbagai event olahraga. Di dalamnya, sugesti, harapan, dan kepercayaan bercampur aduk. Bahkan, dalam berbagai event olahraga dunia, kahadiran ahli nujum, tukang ramal skor atau hewan yang bisa menebak kemenangan telah menjadi cerita pelengkap yang menyita perhatian para penonton.
Jika olimpiade digelar untuk menghormati Dewa Zeus, maka turnamen antarkampung mengandung nilai-nilai penghormatan pada kebersamaan, persamaan, persaudaraan, dan perayaan ’pertandingan hidup’ dengan riang gembira. (*)
*)Pejalan, penikmat seni, dan pencinta turnamen tarkam bola voli
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti